Kerusuhan etnis di Kalimantan Tengah berakar pada pelanggaran yang telah berlangsung selama beberapa dekade atas pelanggaran hak-hak masyarakat adat serta pengrusakan besar-besaran atas sumber alam di propinsi tersebut.
Ketegangan terus terasa di Kalimantan Tengah menyusul kerusuhan antar etnis yang diperkirakan menewaskan 500 orang dan menyebabkan 80.000 orang terpaksa meninggalkan rumah. Ini merupakan penderitaan terbaru selama sejarah panjang kerusuhan di Kalimantan Tengah dan Barat.
Kerusuhan ini marak pada tanggal 17 Februari di Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, ketika – dengan alasan masih belum bisa dipastikan - sebuah rumah milik penduduk asli Dayak dibakar habis. Menurut laporan orang-orang setempat, ada komplotan orang Madura yang baru saja tiba berkeliling Sampit sambil memekik ‘Matilah Orang Dayak.’ Ratusan orang Dayak mengungsi keluar dari kota atau berlindung di gereja-gereja. Setelah berita itu menyebar orang Dayak dalam jumlah besar kemudian kembali ke Sampit untuk membalas dendam. Enam orang tewas. Kerusuhan menyebar dengan cepat ke kota maupun kampung sekitar dan mencapai ibukota propinsi Palangkaraya, 220 kilimeter ke sebelah Timur. Dalam sebuah insiden terburuk saat kerusuhan, 118 orang Madura yang sedang dalam perjalanan ke Sampit dibunuh oleh orang Dayak di kampung Parenggean pada tanggal 25 Februari, setelah polisi pengawal mereka melarikan diri.
Pada tanggal 2 Maret, kekerasan cukup mereda dan memungkinkan kunjungan Wakil Presiden Megawati selama 30 menit ke kem pengungsi di Sampit yang kemudiaan diikuti dengan kunjungan singkat Presiden Wahid pada tanggal 8 maret ke Sampit dan Palangkaraya. Bagaimanapun ketenangan yang relatif itu hanya bisa tercapai karena sebagian besar pendatang orang Madura sudah bersembunyi di kem-kem, mengungsi ke Banjarmasin, ibukota propinsi tetangga, Kalimantan Selatan, atau sudah dievakuasi ke Jawa. Kekerasan lebih lanjut terjadi setelah kunjungan Wahid dimana enam orang pengunjuk rasa Dayak ditembak mati polisi.
Pada tanggal 22 Maret terjadi lagi kerusuhan di dan di sekitar ibukota Kabupaten Kuala Kapuas. Sebanyak 17 orang lagi dilaporkan tewas dan banyak rumah serta harta benda yang dibakar. Banyak orang Madura meminta perlindungan polisi. Polisi mendapat perintah tembak ditempat terhadap para perusuh.
Bulan April kerusuhan baru berupa pembakaran rumah dilaporkan di Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat. Menurut polisi setempat, kerusuhan diawali oleh sekitar 400 orang yang tiba dengan menggunakan truk dari arah Sampit yang berhasil menerobos para polisi yang mencegah mereka untuk memasuki kota. Mereka mulai membakari rumah-rumah orang Madura, sekaligus menciptakan arus pengungsi lebih lanjut. Kembali ke Sampit, orang Dayak bentrok dengan polisi pada tanggal 10 April ketika para pengunjuk rasa yang marah memprotes penahanan dan penembakan orang Dayak. Para pengunjuk rasa menuntut agar semua polisi mundur dari kota. Tembakan dilepaskan dan seorang awam tewas.
Kelompok hak asasi manusia mengkritik kelambatan dan ketidak-efektifan tanggapan polisi dalam mengatasi kerusuhan dan menentang anjuran, yang didukung oleh beberapa pejabat di Kalimantan, dilakukannya evakuasi massa orang Madura. Sebagian pengungsi menolak meninggalkan Kalimantan dengan mengatakan mereka tidak punya saudara di Madura dan Jawa Timur. Dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan tanggal 1 Maret, sembilan LSM nasional mengkritik perhatian pemerintah dalam bentuk menyediakan kapal untuk mengevakuasi pengungsi dan memperingatkan bahwa hal itu akan "menyebar-luaskan benih-benih kerusuhan di seluruh nusantara."
Sejumlah usaha secara formal sudah ditempuh untuk membawa pihak-pihak yang bertikai ke meja perundingan dan mengurangi ketegangan. Hal ini mencakup pertemuan di Jakarta antara pemimpin Dayak dan Madura pada tanggal 22 Maret, yang mencapai kesepakatan bahwa saat itu masih terlalu cepat untuk memikirkan kemungkinan pengembalian orang Madura ke rumah-rumah mereka di Kalimantan. Pada akhir Maret, orang Dayak, Lodewijk Penyang, ditunjuk menjadi Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah. Ia mengumumkan pembayaran denda adat dan upacara tiga hari untuk penembakan polisi terhadap orang Dayak yang menewaskan empat orang.
LSM dan kelompok mahasiswa juga mengadakan pertemuan dan mengeluarkan pernyataan yang mendesak diakhirinya kekerasan dan menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog. Rencana lebih lanjut mencakup Kongres Kalimantan dan Kongres Dayak. Di wilayah tetangga Kalimantan Timur dan Barat ada inisiatif untuk mencoba mencegah maraknya kerusuhan etnis di sana.
Akar Konflik
"Pembantaian yang terjadi tidak bisa disederhanakan sebagai konflik antara orang Dayak dengan Madura, apalagi sebagai konflik agama. Tapi akar dari masalah ini sudah lama tercipta ketika pemerintahan Orde Baru, yang didukung oleh lembaga-lembaga hutang internasional, secara bersama-bersama menanam modal di proyek-proyek besar, yang juga menanam akar dari konflik yang terjadi sekarang ini dan juga menggambarkan situasi kemanusiaan di Indonesia secara umum”
(Pernyataan NGO, Jakarta 1 Maret 2001)
Tidak diragukan bahwa akan terjadi lebih banyak konflik jika sebab-sebab di balik ketegangan di Kalimantan ini tidak diatasi. Walau stereotype budaya, atau ‘’bentrokan budaya’’ antara orang Madura dan bukan Madura sudah digunakan untuk menjelaskan kekerasan, adalah penting untuk melihat pada sebab-sebab yang lebih mendasar.
Konfrontasi yang mengandung kekerasan antara orang Dayak dengan pemukim Madura terjadi di bawah pemerintahan jaman Presiden Sukarno, di jaman Suharto, dan juga di bawah pemerintahan Wahid. Di Kalimantan Tengah, tahun lalu, empat orang tewas dalam insiden di Kumai pada Bulan Agustus serta di Ampalit pada Bulan Desember, dan banyak harta benda termasuk rumah yang juga dibakar. Bentrokan bisa ditarik sampai pada tahun 1950-an di wilayah tetangga Kalimantan Barat. Di sini pada tahun 1996 dan awal 1997 kekerasan antara kedua kelompok menyebabkan sedikitnya 600 orang tewas (DTE 32). Sebanyak 260 orang lagi tewas pada awal 1999 (DTE 41:4). Empat tahun setelah kerusuhan tersebut, diperkirakan 40.000 pengungsi Madura hidup dalam kondisi yang menyedihkan di penampungan-penampungan sementara di ibukota propinsi Kalimantan Barat, Pontianak.
Penyebab utama dari konflik antara masyarakat adat dengan pemukim Madura – dan konflik-konflik lain di Indonesia - adalah ‘pembangunan’ yang dipromosikan rejim Suharto selama tiga puluh tahun lebih. Sumber-sumber daya alam, termasuk hutan dan tambang Kalimantan diberikan kepada elite bisnis yang berkuasa sebagai konsesi. Pemilik adat - masyarakat adat Dayak - secara sistematis ditolak hak-haknya atas tanah dan sumber daya alam. Mereka tidak punya jalan untuk menempuh langkah hukum dalam mempertahankan hak-hak mereka karena, berdasarkan undang-undang Indonesia, hutan merupakan milik negara.
Hutan tropis diubah menjadi plywood, tripleks, dan kayu untuk dieksport atas nama pembangunan. Perusahaan-perusahaan kayu raksasa yang mengeruk keuntungan besar dari menanam modal di perkebunan, perbankan, dan perumahan, menjadi konglomerat raksasa. Kekayaan alam Kalimantan mengalir ke tangan-tangan keluarga Suharto dan rekan-rekan bisnisnya dan membantu memicu kemajuan ekonomi yang berakhir pada pertengahan 1990-an. Banyak perubahan yang terjadi di Indonesia sejak ambruknya perekonomian Asia, jatuhnya Suharto dan terpilihnya pemerintahan demokratis yang baru, namun model kesejahteraan ekonomi yang diarahkan pada eksploitasi habis-habisan sumber daya alam masih tetap saja. Berdasarkan undang-undang otonomi regional yang baru, wilayah-wilayah harus mendapatkan pemasukan yang cukup dari sumber daya alam di bawah kendali mereka untuk membiayai layanan publik, mendukung birokrasi, dan memberikan keuntungan kepada elite setempat serta mengirimkan bagian keuntungan ke Jakarta.
Komunitas internasional mendukung proses ini. ‘Paket penyelamatan ekonomi’ IMF mendorong eksport kayu, tambang, dan hasil perkebunan seperti minyak kelapa sawit untuk menyeimbangkan neraca ekonomi Indonesia. Ini termasuk membayar hutang kepada kreditur internasional yang senang meminjamkan pada masa Suharto. Bank Dunia mendanai program transmigrasi pemerintah Indonesia selama bertahun-tahun dan dengan Bank Pembangunan Asia mendukung sistem tanaman industri yang tergantung pada pekerja transmigran. Menurut angka Bank Dunia, selama tahun 1980-1985 (ketika dukungan Bank Dunia terhadap transmigrasi tinggi) 109.800 transmigran yang disponsori pemerintah bermukim di Kalimantan Tengah , dan di sana jumlah ini mencerminkan 65% dari pertumbuhan penduduk di sana. Angka-angka pemerintah tentang transmigrasi ke Kalimantan Tengah selama tahun 1969-1998 adalah 117.380 keluaraga atau sekitar 5,9 juta jiwa. Angka total untuk Kalimantan adalah 426.446 keluarga dan angka total nasional adalah 1,9 juta keluarga. Sepanjang tahun-tahun belakangan ini transmigrasi ke Kalimantan Tengah terpusat pada bencana proyek raksasa di Kalimantan Tengah yang ditujukan untuk mengubah satu juta hektar lahan gambut menjadi lahan pertanian PADI (DTE 38).
Dalam pernyataan pada bulan Maret, LSM Indonesia menuntut agar lembaga-lembaga seperti Bank Dunia “mengakui kegagalan dan kesalahan mereka kepada orang-orang yang terkena ledakan kerusuhan” dan “memberlakukan rehabilitasi dan peningkatan yang tidak pernah dilaksanakan.” Mereka juga menuntut agar Bank Dunia, IMF dan ADB, serta perusahan-perusahaan raksasa lebih terbuka pertanggung-jawabannya “untuk mencegah terulangnya tragedi kemanusiaan yang SIA-SIA.”
Perubahan pesat
Suku Dayak yang beraneka-ragam menjadi subyek dari perubahan yang besar dan pesat selama dekade terakhir ini. Gaya hidup tradisional sudah tersapu dalam satu atau dua generasi di KEBANYAKAN tempat. Masyarakat Dayak tidak bisa lagi hidup dari perkebunan hutan dan penebangan kayu skala kecil begitu perusahaan kayu menggunduli kayu-kayu yang bernilai, persisnya begitu perusahaan PERKEBUNAK masuk untuk menghabiskan apa yang tersisa. Penebangan kayu komersial dan perkebunan kelapa sawit yang menggantikannya lebih suka menggunakan pekerja pendatang daripada orang Dayak. Banyak diantara mereka adalah pendatang spontan, orang-orang dari pulau-pulau lain yang mencari kesempatan untuk mendapatkan tanah dan membangun usaha dagang kecil.
Kalimantan Tengah menjadi contoh masalah ini. Ekonomi setempat tergantung pada kayu dan perkebunan. Kabupaten Kotawaringin Timur, dengan ibukota Sampit, mencakup wilayah 5 juta hektar, yang tiga puluh tahun LALU hampir seluruhnya merupakan hutan. Kini hanya 2,7 juta hektar yang dirancang sebagai ‘tanah hutan.’ Sisanya menjadi lahan pertanian, perkebunan, PEMUKIMAN atau semak belukar maupun lalang yang tidak produktif. Hanya 0,5 juta hektar yang digolongkan sebagai ‘hutan lindung’ dan orang setempat dilarang oleh hukum untuk menggunakannya sebagai sumber penghidupan. Satu juta hektar lebih merupakan sisa-sisa hutan yang MAUNYA diubah menjadi industri pertanian. Penebangan hutan gelap meluas dan hutan diperkirakan akan ditebang habis secara komersial dalam waktu sepuluh tahun. Orang setempat hanya mendapat sedikit sebagai ganti dari hutan mereka yang hilang. Sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan.
Pemuda Dayak – yang menjadi judul berita sebagai “orang biadab” yang haus darah, yang memburu pendatang Madura - adalah korban dari proses panjang yang berlarut-larut dalam pengrusakan identitas mereka. “Pembangunan” telah mengikis gaya hidup tradisional dan menganggap remeh otoritas pemimpin masyarakat serta menawarkan sedikit sekali kepada para pemuda asli setempat. Mayoritas hanya punya pendidikan dasar beberapa tahun karena kurangnya sekolah dan uang untuk membayar uang sekolah. Mereka tidak dilengkapi dengan baik untuk bersaing SECARA EKONOMI dengan pendatang. Sebagian besar mengandalkan pekerjaan manual dengan gaji rendah dan pekerjaan tidak tetap. Seluruh generasi dijanjikan masa depan yang cerah, mula-mula dengan janji pembangunan Soeharto, melalui reformasi, dan kini demokrasi. Namun sebagian besar masih tetap miskin dan tidak berdaya. Sama seperti di daerah-daerah lain tempat maraknya ‘konflik horizontal,’ orang-orang di Kalimantan Tengah yang tidak berdaya menuding kelompok lain karena mereka frustasi dan tidak tahu siapa lagi yang harus dituding untuk kesulitan hari demi hari. Sasaran orang Madura berkaitan dengan persepsi umum di kalangan orang Dayak dan KELOMPOK suku lainnya di Kalimantan bahwa orang Madura secara budaya sombong dan MEREKA lebih disukai dibanding suku-suku lainnya dalam pekerjaan, dan tidak dihukum polisi jika melakukan kejahatan. Beberapa pemimpin Dayak, dan Madura, membuat perbedaan antara masyarakat Madura yang sudah lama berdiam yang sudah menyesuaikan diri dengan Kalimantan dan tahu bagaimana untuk hidup berdampingan dengan suku lainnya, dan para pendatang baru yang lebih suka menyinggung perasaan orang setempat. Para pemukim dari suku-suku lainnya jarang muncul di dalam laporan media dari Kalimantan, walau banyak kasus keluarga non-Madura bergabung dengan pengungsi yang meninggalkan Kalimantan karena kuatir mereka akan menjadi sasaran kelompok Dayak.
Hanya sedikit keraguan kalau perorangan atau kelompok tertentu memanipulasi potensi konflik yang ditimbulkan oleh stereotype budaya dan atau yang membantu pengekalannya. Ada dugaan bahwa kelompok-kelompok yang berbeda dalam elite Dayak di Palangkaraya menggunaka ‘kartu anti Madura’ dalam persaingan merebut posisi politis – yang berdasarkan otonomi wilayah sekarang makin dipertaruhkan. Keengganan para pemimpin politik Dayak untuk mengecam pengungsian massal orang Madura mungkin saja mendorong kekerasan ini.
Pihak lain yang mengambil untung besar dari konflik ini adalah militer Indonesia. Di sini, seperti di wilayah-wilayah lain negeri yang ada konfliknya, militer menggunakan kekerasan untuk mengesahkah kesinambungan peran yang mencolok. Anggota aparat keamanan juga mengambil kesempatan dari tragedi ini untuk mendapatkan uang dengan memaksa para pengungsi yang ketakutan membayar pengawalan mereka.
sumber: http://dte.gn.apc.org/49iKl.htm
Selengkapnya....
17 December 2008
29 May 2008
SURAT KEPADA ALJABAR,
TENTANG SENJA DAN LAUT
selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
masih belum bisa kutata menjadi angka
masih sepi untuk lahirnya carik-carik trigonometri
sebab jari-jari adalah hitungan angka yang bisa terbagi
dan cahaya adalah secepat kilat yang tak terbatas
bisa ganda dan terbagi
seperti air yang mengalir
berkali-kali dingin menjelma linear dan kudrat
tubuhku telanjang di tengah belantara kamarku
dan kerinduaku akan bajumu sering menggelinding
seperti elips, seperti kerucut dan piramida
membentuk persegi di kepala
selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
sesekali menyuruhku meminjam bayang-bayang temanmu
seperti Pascal,Newton,dan Pytagoras
aku manut pada kata-katamu
hingga aku menemukan kehidupan yang hidup
dengan belantara yang menjelma kalkulus,dan sin,cos,tan
lalu kuhitung angka demi angka
menata dan memadatkannya dengan menyerap energi belantara
agar aku bisa mendirikan menara pada tubuhku
(Yogyakarta,17-05-2008)
Selengkapnya....
TENTANG SENJA DAN LAUT
selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
masih belum bisa kutata menjadi angka
masih sepi untuk lahirnya carik-carik trigonometri
sebab jari-jari adalah hitungan angka yang bisa terbagi
dan cahaya adalah secepat kilat yang tak terbatas
bisa ganda dan terbagi
seperti air yang mengalir
berkali-kali dingin menjelma linear dan kudrat
tubuhku telanjang di tengah belantara kamarku
dan kerinduaku akan bajumu sering menggelinding
seperti elips, seperti kerucut dan piramida
membentuk persegi di kepala
selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
sesekali menyuruhku meminjam bayang-bayang temanmu
seperti Pascal,Newton,dan Pytagoras
aku manut pada kata-katamu
hingga aku menemukan kehidupan yang hidup
dengan belantara yang menjelma kalkulus,dan sin,cos,tan
lalu kuhitung angka demi angka
menata dan memadatkannya dengan menyerap energi belantara
agar aku bisa mendirikan menara pada tubuhku
(Yogyakarta,17-05-2008)
Selengkapnya....
26 May 2008
KIDUNG ULANG TAHUN
aku terima sepenggal mayang
dari pelepah siwalan
kumaknai airmata tanpa luka
dan kubiarkan ruang terpancang
menghimpit nafas dan arah angin
seperti lilin itu
usiakau telah mencair
disetiap sendi-sendi kalender
juga pada organ-organ laut
dalam doaku
dan kubiarkan udara menghempas jendela
dengan warna embun yang menyejukkan sajak
dan meneduhkan kamar
tapi, wajah siapa yang pertama harus aku tatap
untuk aku tanam udara di jidaknya
agar udara membawa impianku ke langit kemerahan
tentang lukisan senja pada puisiku
(11-05-2008)
SEBAB RINDUKU
LEBIH LIAT DARI BATU
sebab rinduku lebih liat dari batu
lebih dingin dari senyum
dan hanya jemarimu yang menetas tersibak
dari angan pada kenanganku
diam-diam kusergap jemarimu
seluruh penjuru pintu mengerang
menahan jerit peluh
akupun jadi akar
menjalar ke belukar
membawa airmu yang membual
ke seluruh sendi rinduku
meski akar dan rindu
tak mengenal sungaimu
Yogyakarta, 2008
ISOHIET
sebelum tumbuh menjadi angan
darahmu menulis sajak
serupa garis tertuju pada rusukku
aku baca warnamu
seperti menyuruhku menyibak air mata
melupakan gemuruh hujan
akupun baca matamu
seperti mengajakku mengeja kata
untuk mencipta suara
aku baca juga garis-garismu
seperti jerit jantung yang memanggilku
lalu aku menghampirimu
menyaksikan tarianmu
diantara tulang-tulang rusukku
:lekuk tubuhmu meledakkan isi kamarku
tempat aku menggali rindu
Yogyakarta, 2008
NAMAKU AYAT
namaku ayat
pasi seperti mayat
ayatku bukanlah ayat yang aku baca
yang aku baca adalah hayat
hayat adalah ayatku
seperti langit dan laut
ia baca dirinya sendiri
ayatku bukanlah namaku
namaku hanya memilih namanya
bukan ayat yang memilih hayat
ayatku membaur dalam nama
hayatnya terpisah dari ayat
maka namaku tak seperti hayatku
ia lebih seperti kabut dan gelombang
lupa baca dirinya sendiri
Yogyakarta, 2008
INSTRUMENTALIA
KAMPUNG HALAMAN
pagi ini sinar menjagakanku
terjaga dari hiruk pikuk mata
ada yang beda dari hari kemarin
tapi aku rasa tak asing bagiku
sebab embun pagi ini
seperti pernah hinggap mencipta sejarah
bagaimana kerinduan pada sunyi seketika luluh
ketika gurat desir angin
menyapu tetumbuhan yang amat lirih
anganmu tentu akan terbawa tertawa
ketika sesak sesering mungkin memikat
dan tiba-tiba ia lucuti rasa gusar Selengkapnya....
aku terima sepenggal mayang
dari pelepah siwalan
kumaknai airmata tanpa luka
dan kubiarkan ruang terpancang
menghimpit nafas dan arah angin
seperti lilin itu
usiakau telah mencair
disetiap sendi-sendi kalender
juga pada organ-organ laut
dalam doaku
dan kubiarkan udara menghempas jendela
dengan warna embun yang menyejukkan sajak
dan meneduhkan kamar
tapi, wajah siapa yang pertama harus aku tatap
untuk aku tanam udara di jidaknya
agar udara membawa impianku ke langit kemerahan
tentang lukisan senja pada puisiku
(11-05-2008)
SEBAB RINDUKU
LEBIH LIAT DARI BATU
sebab rinduku lebih liat dari batu
lebih dingin dari senyum
dan hanya jemarimu yang menetas tersibak
dari angan pada kenanganku
diam-diam kusergap jemarimu
seluruh penjuru pintu mengerang
menahan jerit peluh
akupun jadi akar
menjalar ke belukar
membawa airmu yang membual
ke seluruh sendi rinduku
meski akar dan rindu
tak mengenal sungaimu
Yogyakarta, 2008
ISOHIET
sebelum tumbuh menjadi angan
darahmu menulis sajak
serupa garis tertuju pada rusukku
aku baca warnamu
seperti menyuruhku menyibak air mata
melupakan gemuruh hujan
akupun baca matamu
seperti mengajakku mengeja kata
untuk mencipta suara
aku baca juga garis-garismu
seperti jerit jantung yang memanggilku
lalu aku menghampirimu
menyaksikan tarianmu
diantara tulang-tulang rusukku
:lekuk tubuhmu meledakkan isi kamarku
tempat aku menggali rindu
Yogyakarta, 2008
NAMAKU AYAT
namaku ayat
pasi seperti mayat
ayatku bukanlah ayat yang aku baca
yang aku baca adalah hayat
hayat adalah ayatku
seperti langit dan laut
ia baca dirinya sendiri
ayatku bukanlah namaku
namaku hanya memilih namanya
bukan ayat yang memilih hayat
ayatku membaur dalam nama
hayatnya terpisah dari ayat
maka namaku tak seperti hayatku
ia lebih seperti kabut dan gelombang
lupa baca dirinya sendiri
Yogyakarta, 2008
INSTRUMENTALIA
KAMPUNG HALAMAN
pagi ini sinar menjagakanku
terjaga dari hiruk pikuk mata
ada yang beda dari hari kemarin
tapi aku rasa tak asing bagiku
sebab embun pagi ini
seperti pernah hinggap mencipta sejarah
bagaimana kerinduan pada sunyi seketika luluh
ketika gurat desir angin
menyapu tetumbuhan yang amat lirih
anganmu tentu akan terbawa tertawa
ketika sesak sesering mungkin memikat
dan tiba-tiba ia lucuti rasa gusar Selengkapnya....
20 May 2008
Kudengar Langkahmu,Sayang!
Vie……..aku menciptakan makan malam untuk kita lewat mimpi, lewat igau. Aku meraciknya dengan bumbu yang sebenarnya telah lama tersimpan di jantung. Biar lebih berselera, aku menaburkan butir-butir waktu dan ruang, dimana amat lama dan mungkin kau tak pernah merasakannya.
Vie……..maafkanlah aku, jika aku terlalu lancang untuk memberi suguhan yang tak pernah ada di hatimu. Sebab hatimu adalah air yang sejak dulu mengalir bersama helai rambutmu, kemudian menguap karena panasnya gejolak.
Sedang hatiku bukanlah air yang dulu kau idemkan, tapi udara yang akan melindungimu, merangkulmu, mengagumimu dan membawamu kemana saja. Sebab, makan malam nanti adalah epilog dari petualangan kita.
Layaknya permaisuri di istana, kau boleh mengajakku bersulang di balairung, lalu memberi makan ikan di taman, mengambil seberkas cahaya bintang sebagai sulam di matamu, setelah itu kita boleh mampir ke Firdaus memesan kamar pada jibril, dan kalau kau mau kita melihat misteri di gua, mandi di kolam remang-remang atau belajar terbang di pekarangan.
Vie……..tak terhitung aku telah membunuh perasaan ini. Namun, ia tetap mengalir dalam darahku. Betapa semua tak mempedulikanku terjatuh di paviliun yang sunyi. Tapi aku mencoba bertahan, karena aku adalah lelaki yang mencintai desir, tak boleh berkeluh dan menangis.
Aku terus berharap dan tetap mencintaimu. Menanti untuk mengalir ke darahku. Tapi sayang, kau lari berputar-putar di alur antara aku dan dia. Aku mulai sangsi dengan harapan.
Vie……..setiap langkahku adalah untuk mengejar hidup. Mengejar sesuatu yang aku suka dan unik. Kutantang hidup, kutaklukkan hidup dan kemudian ia selalu bangkit untuk menantangku dengan beribu-ribu kecaman dan semacamnya. Namun demikian aku selalu menerima tantangan itu dalam pertempuran. Sebab aku mencintai hidup.
Kamu pasti mengira aku akan berakhir dan mati dalam pertempuran itu. Tapi sayang anggapanmu salah, sebab bayang-bayang masih menemaniku.
Sebenarnya aku rela mati dan mati yang kupilih diantara dilema, antara harus kubenci hidup dan mencintai orang selain dirimu.
Vie…….taukah? kau hidup itu.
Madure, Settong Maret 2008
Selengkapnya....
Vie……..aku menciptakan makan malam untuk kita lewat mimpi, lewat igau. Aku meraciknya dengan bumbu yang sebenarnya telah lama tersimpan di jantung. Biar lebih berselera, aku menaburkan butir-butir waktu dan ruang, dimana amat lama dan mungkin kau tak pernah merasakannya.
Vie……..maafkanlah aku, jika aku terlalu lancang untuk memberi suguhan yang tak pernah ada di hatimu. Sebab hatimu adalah air yang sejak dulu mengalir bersama helai rambutmu, kemudian menguap karena panasnya gejolak.
Sedang hatiku bukanlah air yang dulu kau idemkan, tapi udara yang akan melindungimu, merangkulmu, mengagumimu dan membawamu kemana saja. Sebab, makan malam nanti adalah epilog dari petualangan kita.
Layaknya permaisuri di istana, kau boleh mengajakku bersulang di balairung, lalu memberi makan ikan di taman, mengambil seberkas cahaya bintang sebagai sulam di matamu, setelah itu kita boleh mampir ke Firdaus memesan kamar pada jibril, dan kalau kau mau kita melihat misteri di gua, mandi di kolam remang-remang atau belajar terbang di pekarangan.
Vie……..tak terhitung aku telah membunuh perasaan ini. Namun, ia tetap mengalir dalam darahku. Betapa semua tak mempedulikanku terjatuh di paviliun yang sunyi. Tapi aku mencoba bertahan, karena aku adalah lelaki yang mencintai desir, tak boleh berkeluh dan menangis.
Aku terus berharap dan tetap mencintaimu. Menanti untuk mengalir ke darahku. Tapi sayang, kau lari berputar-putar di alur antara aku dan dia. Aku mulai sangsi dengan harapan.
Vie……..setiap langkahku adalah untuk mengejar hidup. Mengejar sesuatu yang aku suka dan unik. Kutantang hidup, kutaklukkan hidup dan kemudian ia selalu bangkit untuk menantangku dengan beribu-ribu kecaman dan semacamnya. Namun demikian aku selalu menerima tantangan itu dalam pertempuran. Sebab aku mencintai hidup.
Kamu pasti mengira aku akan berakhir dan mati dalam pertempuran itu. Tapi sayang anggapanmu salah, sebab bayang-bayang masih menemaniku.
Sebenarnya aku rela mati dan mati yang kupilih diantara dilema, antara harus kubenci hidup dan mencintai orang selain dirimu.
Vie…….taukah? kau hidup itu.
Madure, Settong Maret 2008
Selengkapnya....
16 May 2008
saj@k Dauz Ezavaldo
Hujan di Pagi Hari:
untuk Safitri
kematianku yang lalu lalang tadi malam
penuh berigsut, sayang
pagi ini sunyi juga mencekal
tapi tiba-tiba sungai mengalir deras
ketika rambutmu terurai gerimis
tebingpun runtuh
semua kilat berpijar hingga ke kamar
menyibak sajak-sajak yang tersembunyi
semua benda terasa pucat
kata-kata yang tersingkap menjadi lenting
tapi hanya sebentar
dan aku rasa mereka juga telah siuman
seperti perawan yang kedua kalinya
engkaupun tentu merasa apa yang kau igaukan semalam
sebab, pagi ini ada isyarat warna hujan yang kau lukis
seperti kau lukis warna kemarau
seperti puisiku yang menghitung rintik-rintik hujan
aku sentuh warnamu
ada yang basah, ada yang gelisah
ia bergetar menaiki desahku
akhirnya, kudekap warnamu
Yogyakarta, 2008
Riwayat Sajak
sebelum kulempar bersama khayal
puisi adalah alur secepat kilat
mengalir seperti air
ia bersemayam dan beranak pinak
dalam hiruk pikuk laut
yang ombaknya sering berlawanan
ketika ikan-ikan sekarat
segera kutulis kematian
sebelum kematian menulisku
dan segera kutulis kematianku
matilah ia dan tak menemukan tema
tentang wajahku yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
seperti seniman, apa yang harus ia lukis dari wajahku
yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
kau pelajari saja puisiku
jangan sampai ada pertanyaan
sebab aku tak cukup punya kata
bahkan untuk memanggilmu saja
Yogyakarta, 2007
Hikayat Sepasang Baju
seperti untai yang belum diucap
ada risih tersulam senyap:
kita memilih putih
seperti busur panah
membidik titik yang amat tengah:
kita adalah arah
mencipta sudut yang sama
tanpa kata, sebab kita mengerti
sebab kita berdetak di satu alur
lebur membaur dalam kapur
Yogyakarta, 2008
Malam Yang Lain
masih kugenggam aroma tubuh menjelang tidurku
bekas sentuhan bibirmu yang baru aku kenal.
dan masih aku ingat berpuluh bibir lain meresap dalam puisi
padanya kutemukan goncanagan-goncanagan cengang yang asing
aku simpan raungnya agar aku bisa membedakan
getar dan getir
sebelum bibir lain meledakkan diksi baru
tapi aku lupa memandang wajahmu
bagaimana daris-daris mengiris lidah
yang akhirnya ia mencipta kerinduan
tanpa aku sadari
dan kerinduanku menuang seluruh makna cinta
nafas menjadi gelombang
sebagai hirup melacak bau parfummu
mungkin juga jejak sepatumu
Yogyakarta, 2008
Awal Percakapan
senyummu yang sunyi aku ayun tergesa
kau sunyi, aku cari
aku buang, kau cengang
berteduh dalam ruang kita amat merindukan
untuk menikmatinya
hanya saja pagi terlalu jauh
bahkan malu untuk menyatakan
bahwa kita akan mencari dan menanti
sebersit embun
untuk kita tuang kedalam ceruk
kau aku harus jaga dari diam
dari siang yang tertegun
lalu berdiskusi tentang malam dan menjagakannya
dan kita bisa diam-diam
lari mencari pagi yang kita pilih
pagi yang tersembunyi
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
untuk Safitri
kematianku yang lalu lalang tadi malam
penuh berigsut, sayang
pagi ini sunyi juga mencekal
tapi tiba-tiba sungai mengalir deras
ketika rambutmu terurai gerimis
tebingpun runtuh
semua kilat berpijar hingga ke kamar
menyibak sajak-sajak yang tersembunyi
semua benda terasa pucat
kata-kata yang tersingkap menjadi lenting
tapi hanya sebentar
dan aku rasa mereka juga telah siuman
seperti perawan yang kedua kalinya
engkaupun tentu merasa apa yang kau igaukan semalam
sebab, pagi ini ada isyarat warna hujan yang kau lukis
seperti kau lukis warna kemarau
seperti puisiku yang menghitung rintik-rintik hujan
aku sentuh warnamu
ada yang basah, ada yang gelisah
ia bergetar menaiki desahku
akhirnya, kudekap warnamu
Yogyakarta, 2008
Riwayat Sajak
sebelum kulempar bersama khayal
puisi adalah alur secepat kilat
mengalir seperti air
ia bersemayam dan beranak pinak
dalam hiruk pikuk laut
yang ombaknya sering berlawanan
ketika ikan-ikan sekarat
segera kutulis kematian
sebelum kematian menulisku
dan segera kutulis kematianku
matilah ia dan tak menemukan tema
tentang wajahku yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
seperti seniman, apa yang harus ia lukis dari wajahku
yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
kau pelajari saja puisiku
jangan sampai ada pertanyaan
sebab aku tak cukup punya kata
bahkan untuk memanggilmu saja
Yogyakarta, 2007
Hikayat Sepasang Baju
seperti untai yang belum diucap
ada risih tersulam senyap:
kita memilih putih
seperti busur panah
membidik titik yang amat tengah:
kita adalah arah
mencipta sudut yang sama
tanpa kata, sebab kita mengerti
sebab kita berdetak di satu alur
lebur membaur dalam kapur
Yogyakarta, 2008
Malam Yang Lain
masih kugenggam aroma tubuh menjelang tidurku
bekas sentuhan bibirmu yang baru aku kenal.
dan masih aku ingat berpuluh bibir lain meresap dalam puisi
padanya kutemukan goncanagan-goncanagan cengang yang asing
aku simpan raungnya agar aku bisa membedakan
getar dan getir
sebelum bibir lain meledakkan diksi baru
tapi aku lupa memandang wajahmu
bagaimana daris-daris mengiris lidah
yang akhirnya ia mencipta kerinduan
tanpa aku sadari
dan kerinduanku menuang seluruh makna cinta
nafas menjadi gelombang
sebagai hirup melacak bau parfummu
mungkin juga jejak sepatumu
Yogyakarta, 2008
Awal Percakapan
senyummu yang sunyi aku ayun tergesa
kau sunyi, aku cari
aku buang, kau cengang
berteduh dalam ruang kita amat merindukan
untuk menikmatinya
hanya saja pagi terlalu jauh
bahkan malu untuk menyatakan
bahwa kita akan mencari dan menanti
sebersit embun
untuk kita tuang kedalam ceruk
kau aku harus jaga dari diam
dari siang yang tertegun
lalu berdiskusi tentang malam dan menjagakannya
dan kita bisa diam-diam
lari mencari pagi yang kita pilih
pagi yang tersembunyi
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
29 April 2008
puisi
[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*
Orgasme
pertama kali.
aku tanam udara di jidakmu yang menjelma paruh
lalu seyum yang tumbuh
bisikan adalah khayalan yang jauh
juga kata-kata panjang pada tubuhmu yang rapuh:
kudapati ketika kusentuh kau luluh
meski peluhmu menanarkan lembar kertas
sebelum kutulis isi mahar
nanar menggetarkan kasur
kita menjelma ledakan dan keributan
antara malam dan subuh yang angkuh
mungkin ada sandi yang salah dalam peta
hingga aku harus gugur terkapar
menanggalkan angan
yang seharusnya harus kutulis besok
Kala Getir Bergetar
sering terdengar gelepar kelelawar
seperti bisik yang kucicip
seperti berita yang kubaca
melempar kiri mataku
perlahan sungguh menghujam layar
ada yang mengirimku jarum
melisut udara jalanan menjadi lebam
dinginnya lapuk menampar
hingga tangan tak mampu mengerat
apalagi mencatat
ia juga mengirimku boneka
sebagai kawan yang sepi pualam
tak ada pertanyaan atau diskusi
seperti mereka membuat larau dalam percakapan
dan tatapan yang laun telah ia ayun
Yogyakarta, 2008
Pisau Cukur
: Sripanya Varomahatera
kau dekat, pada mataku jauh
yang dekat di mataku justru kau amat
kau tersenyum?
sekedar kulepaskan hening pada siapa saja
untuk mengerat hawa dalam nadi
membelut bunga-bunga yang amat melekat
dengan kehampaan
inilah jubah, ikat pinggang, jarum, mangkok
dan sarang air
sebagai pisau untuk mencukur rambut kami
memahamimu aku menangis terkadang malu
kukepal tangan agar jiwa tumbuh kembali
dan terlelap oleh angin yang sepoi
tapi entah. aku mengirikanmu ketika perbincangan di kamar itu
dada kami seperti perih sejenak
Magelang, 08-04-2008
Sebuah Kisah Kasih
setiap ruang terasa patah
ketika kupilih untuk menghafal nama
yang teraba adalah sisa
sisa adalah aroma yang sengat
meretakkan kepala
Terlalu Cepat
ketika denyut menulis gerimis
maka saat itu harus kutulis
perjamuan huruf menyingkat pertemuan
bahwa kita mencipta kerinduanyang amat hebat
Madura, 2008 Selengkapnya....
Iqro' eL. Firdauz*
Orgasme
pertama kali.
aku tanam udara di jidakmu yang menjelma paruh
lalu seyum yang tumbuh
bisikan adalah khayalan yang jauh
juga kata-kata panjang pada tubuhmu yang rapuh:
kudapati ketika kusentuh kau luluh
meski peluhmu menanarkan lembar kertas
sebelum kutulis isi mahar
nanar menggetarkan kasur
kita menjelma ledakan dan keributan
antara malam dan subuh yang angkuh
mungkin ada sandi yang salah dalam peta
hingga aku harus gugur terkapar
menanggalkan angan
yang seharusnya harus kutulis besok
Kala Getir Bergetar
sering terdengar gelepar kelelawar
seperti bisik yang kucicip
seperti berita yang kubaca
melempar kiri mataku
perlahan sungguh menghujam layar
ada yang mengirimku jarum
melisut udara jalanan menjadi lebam
dinginnya lapuk menampar
hingga tangan tak mampu mengerat
apalagi mencatat
ia juga mengirimku boneka
sebagai kawan yang sepi pualam
tak ada pertanyaan atau diskusi
seperti mereka membuat larau dalam percakapan
dan tatapan yang laun telah ia ayun
Yogyakarta, 2008
Pisau Cukur
: Sripanya Varomahatera
kau dekat, pada mataku jauh
yang dekat di mataku justru kau amat
kau tersenyum?
sekedar kulepaskan hening pada siapa saja
untuk mengerat hawa dalam nadi
membelut bunga-bunga yang amat melekat
dengan kehampaan
inilah jubah, ikat pinggang, jarum, mangkok
dan sarang air
sebagai pisau untuk mencukur rambut kami
memahamimu aku menangis terkadang malu
kukepal tangan agar jiwa tumbuh kembali
dan terlelap oleh angin yang sepoi
tapi entah. aku mengirikanmu ketika perbincangan di kamar itu
dada kami seperti perih sejenak
Magelang, 08-04-2008
Sebuah Kisah Kasih
setiap ruang terasa patah
ketika kupilih untuk menghafal nama
yang teraba adalah sisa
sisa adalah aroma yang sengat
meretakkan kepala
Terlalu Cepat
ketika denyut menulis gerimis
maka saat itu harus kutulis
perjamuan huruf menyingkat pertemuan
bahwa kita mencipta kerinduanyang amat hebat
Madura, 2008 Selengkapnya....
09 April 2008
14 March 2008
12 March 2008
sajak_march
[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*
Riyupita II
ketika lampu-lampu di kamarmu berganti kunang-kunang
aku berjalan ke arah sunyi yang paling jauh
tapi pada samar subuh
aku mendengar igaumu berkeluh
tak perlu kau peras perih mata
bila tak ada kabut di luar jendela
tak perlu kau paksa sembunyi di celah mimpi
bila dingin saling merembes ke sumsum kita
geliatmu menanarkan sajakku
sulit merenggut kata-kata apa yang patut
agar aku bisa menamainya sesuatu
ketika terang tanah kau menggeliat bangun
bersijingkat ke serambi rumah
membuka dan menutup pintu kembali
tanpa menyisakan wangi tubuh
sajakku makin nanar
terbang tanpa dendang
Yogyakarta, 2008
Engkaulah Yang Berisik
engkaulah yang berisik di setiap tepian jalan
merintih panjang di sampingku
seakan tak ada cenung sampai menceruh
habis tergerubuti rintih
akuilah demi tidurmu
bahwa liar adalah lapar
dan kau merindukan berebah di pangkuan
dimana anak-anak menukar sedu jadi senyum
akuilah demi perancukan
kemarin adalah air mata yang menjelma sepi
menumpaskan perawanmu
tapi kini adalah musim hujan
yang akan mengguyur perempuanmu ke muara
lalu ke laut yang menjelma diriku
Yogyakarta, 2008
Kubaca Tubuhmu
:ita
semua geliat laut seperti tubuh mengabu
apa yang berdesir dan gemetar
adalah riakriak yang teratur
yang menyurup tangan mencipta lagu
kadang perih kadang nikmat
aku menamainya melodi
sebab ia cukup punya kata
untuk menulis gelap dan terang
aku mengambilnya dari celah yang amat tersembunyi
sembunyi dari pengintipan orangorang
airnya tercipta dari embun
yang tak sempat terserap oleh matahari
lalu kutepis hujan dari pandangannya
agar embun tetaplah embun
ombaknya adalah desir ibu pertiwi
banyak ketulusan dan kedamaian
maka aku berlayar disana
Perempuanku
semacam perintah:
sebelum kamu, kata-katanya menggumpal di udara
sebagai janji yang terus terpajang setiap keluar dan masuk rumah.
di jantungnya sekobar api menyala bara
tapi keburu beku oleh hempasan palung angin
bibirnya pucat meremas payudara
segalanya terasa percuma: istri pendosa yang tak pernah menyalakan tungkuh, ramai dalam pawai tanpa belai
semacam manut:
aku pulang untuk menyapamu dengan sajak-sajak cinta
serta seberkas kado berpita merah hati
ada juga kolam dimana kami dan kau bebas menyelam perasaan
yang amat curam
dan sebebas burung berteriak mengisyaratkan euphoria
tak perlu sedu sedan tentang siapa yang menyalakan tungkuh
sebab aku membawa gurat-gurat wajah yang amat kau kenal
dan butuh dikenal
agar kau tahu bahwa akupun bisa membuatmu tersenyum
Sebelum Mengalir Kedalam Sajakku
lalu gemetar meraut sajak
dan kau baca dengan mengejanya
dengan kupegang sinar matahari
yang akan menghangatkan anak-anak besok
atau sampai tak terbatas
aku hanya meracik kata-kata
yang semi di parasmu
ya, hanya itu saja yang menggelitik
sebab tak ada sesuatu di sekitar
bahkan sulit kujelaskan
siapakah aku yang meracik kata-kata
dari parasmu
ini kali, tak usah sekali-kali merasai lagi
geletar hangat tubuh lelakimu
sebab, sesering kata-kataku akan menetes
ditebing-tebing rumahmu
Pada Ain dan Nun
apa yang terlihat adalah gelitik
mencubit jemari dan mencungkil curam mata
apa yang tersentuh adalah sunyi yang bising
dan bising yang sunyi,
lalu apa yang kau pilih?
sunyi dan bising adalah ruh
pada laut dan debu
yang harus kau reguk salah satunya
Animo
malam ini,
aku ingin sekali meninggalkan ciuman
pada kalimat-kalimat yang ditumbuhi embun
sebagai awal dari perancukan
menjauhi lelap yang mencipta igau
yang begitu tak setia berdampingan seperti kesedihan
yang memurungkan rumah kita
malam ini,
aku ingin mencari nafasmu yang hilang
berpisah jauh dirampas hujan
hujan yang telah lama menggigil pucat
aku hanya memberimu kepastian
bahwa kau ditidurkan oleh rindu dan kenangan
Kekasih Wajah
kau lucuti wajahmu kemarin
daripada mengelupas lagi
seperti kau mencium tanganku
tanpa deru rintih
bagai tersengat akupun teringat
seseorang sepertiku amat memikat
justru kau dekat
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
Iqro' eL. Firdauz*
Riyupita II
ketika lampu-lampu di kamarmu berganti kunang-kunang
aku berjalan ke arah sunyi yang paling jauh
tapi pada samar subuh
aku mendengar igaumu berkeluh
tak perlu kau peras perih mata
bila tak ada kabut di luar jendela
tak perlu kau paksa sembunyi di celah mimpi
bila dingin saling merembes ke sumsum kita
geliatmu menanarkan sajakku
sulit merenggut kata-kata apa yang patut
agar aku bisa menamainya sesuatu
ketika terang tanah kau menggeliat bangun
bersijingkat ke serambi rumah
membuka dan menutup pintu kembali
tanpa menyisakan wangi tubuh
sajakku makin nanar
terbang tanpa dendang
Yogyakarta, 2008
Engkaulah Yang Berisik
engkaulah yang berisik di setiap tepian jalan
merintih panjang di sampingku
seakan tak ada cenung sampai menceruh
habis tergerubuti rintih
akuilah demi tidurmu
bahwa liar adalah lapar
dan kau merindukan berebah di pangkuan
dimana anak-anak menukar sedu jadi senyum
akuilah demi perancukan
kemarin adalah air mata yang menjelma sepi
menumpaskan perawanmu
tapi kini adalah musim hujan
yang akan mengguyur perempuanmu ke muara
lalu ke laut yang menjelma diriku
Yogyakarta, 2008
Kubaca Tubuhmu
:ita
semua geliat laut seperti tubuh mengabu
apa yang berdesir dan gemetar
adalah riakriak yang teratur
yang menyurup tangan mencipta lagu
kadang perih kadang nikmat
aku menamainya melodi
sebab ia cukup punya kata
untuk menulis gelap dan terang
aku mengambilnya dari celah yang amat tersembunyi
sembunyi dari pengintipan orangorang
airnya tercipta dari embun
yang tak sempat terserap oleh matahari
lalu kutepis hujan dari pandangannya
agar embun tetaplah embun
ombaknya adalah desir ibu pertiwi
banyak ketulusan dan kedamaian
maka aku berlayar disana
Perempuanku
semacam perintah:
sebelum kamu, kata-katanya menggumpal di udara
sebagai janji yang terus terpajang setiap keluar dan masuk rumah.
di jantungnya sekobar api menyala bara
tapi keburu beku oleh hempasan palung angin
bibirnya pucat meremas payudara
segalanya terasa percuma: istri pendosa yang tak pernah menyalakan tungkuh, ramai dalam pawai tanpa belai
semacam manut:
aku pulang untuk menyapamu dengan sajak-sajak cinta
serta seberkas kado berpita merah hati
ada juga kolam dimana kami dan kau bebas menyelam perasaan
yang amat curam
dan sebebas burung berteriak mengisyaratkan euphoria
tak perlu sedu sedan tentang siapa yang menyalakan tungkuh
sebab aku membawa gurat-gurat wajah yang amat kau kenal
dan butuh dikenal
agar kau tahu bahwa akupun bisa membuatmu tersenyum
Sebelum Mengalir Kedalam Sajakku
lalu gemetar meraut sajak
dan kau baca dengan mengejanya
dengan kupegang sinar matahari
yang akan menghangatkan anak-anak besok
atau sampai tak terbatas
aku hanya meracik kata-kata
yang semi di parasmu
ya, hanya itu saja yang menggelitik
sebab tak ada sesuatu di sekitar
bahkan sulit kujelaskan
siapakah aku yang meracik kata-kata
dari parasmu
ini kali, tak usah sekali-kali merasai lagi
geletar hangat tubuh lelakimu
sebab, sesering kata-kataku akan menetes
ditebing-tebing rumahmu
Pada Ain dan Nun
apa yang terlihat adalah gelitik
mencubit jemari dan mencungkil curam mata
apa yang tersentuh adalah sunyi yang bising
dan bising yang sunyi,
lalu apa yang kau pilih?
sunyi dan bising adalah ruh
pada laut dan debu
yang harus kau reguk salah satunya
Animo
malam ini,
aku ingin sekali meninggalkan ciuman
pada kalimat-kalimat yang ditumbuhi embun
sebagai awal dari perancukan
menjauhi lelap yang mencipta igau
yang begitu tak setia berdampingan seperti kesedihan
yang memurungkan rumah kita
malam ini,
aku ingin mencari nafasmu yang hilang
berpisah jauh dirampas hujan
hujan yang telah lama menggigil pucat
aku hanya memberimu kepastian
bahwa kau ditidurkan oleh rindu dan kenangan
Kekasih Wajah
kau lucuti wajahmu kemarin
daripada mengelupas lagi
seperti kau mencium tanganku
tanpa deru rintih
bagai tersengat akupun teringat
seseorang sepertiku amat memikat
justru kau dekat
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
04 March 2008
[ Sajak-Sajak ]
Iqro’ eL. Firdauz*
: Rini Yuspita
Bonanza
aku membayangkan segalanya manut
tak ada pertanyaan,hingga kita selalu berpasangan
sekalipun tak saling sentuh
bayangan itu benar-benar datang
meruntut rantai patah-patah
hinggap pada labirin
jatuh pada jantung yang kering
aku menemukan hidup
pada hidupmu kutemukan
yang telah kukenal dengan denyut
engkau pulang untuk menemuiku
merekatkan tubuhmu
meski jejak-jejak sandalmu kau hilangkan diam-diam
agar tak ada euforia di kedalaman jantungku
bisikku lambat kau dengar,
peganganmu yang erat perlahan kau lepaskan
untuk menyambut jemariku
dengan denyut yang sebenarnya untukku
Yogyakarta, 2008
Menyambut Hening
: yang telah kuciptakan dari kata-kata
kuambil huruf-hurufnya dari sumsum yang ranum
kau baca untukku
kutulis untukmu
dulu adalah serpihan kata
yang pucat dan menggigilkan
tapi terpaksa kutulis lewat paragraf hiperbola
kutulis untuk kupoles
o, mengapa perempuan-perempuanku
berlenggang seperti paduan suara
tanpa kuberi isyarat
tanpa kupandu
Yogyakarta, 2008
Mengendusmu Dari Langit
sayat suaramu makin kupastikan
betapa setia kau cuci anak-anakmu
betapa setia kau elus lakimu dengan namamu
yang tertanam di payudara
sekarang makin kumengerti
engkau demikian mencintai hujan
maka aku mengirimmu hujan di persimpangan
untuk menyuntingmu
dan kau bisa mencintaiku
engkau mencintai sebuah musim hujan
aku mengajakmu keluar ruangan diam-diam
tiba-tiba kita telah basah
saling suap mimpi mendung
sebelum ranum menjadi hujan
Yogyakarta, 2008
Lalu Kau Mandi
:ita
lalu kau mandi
dalam perjamuan
dalam percakapan
selesai suntuk
kudengar titahmu yang lain
padahal telah kusiapkan altar
pada titahmu yang pertama
juga balairung
agar sarapan pagi amat teduh
ketika aku disampingmu
lalu kau mandi
setelah persetubuhan kita
menyibak sesuatu
di tengah-tengah tatapan kita
Yogyakarta, 2008
Segalanya Terasa Mungkin Membiru
percakapan ini memeluh nanar,sayang
harus kunamai apa musim yang sebenarnya ini
tiba-tiba ada hujan di kepala
sebentar terganti sebuah kegosongan
yang menderai deru
tahukah siapa yang memberi hujan
pahamkah siapa yang mengirim oase
hingga terasa kering
amat kering
aku tak bisa mencintaimu
juga membencimu
aku membencimu untuk kucintai
aku mencintaimu dengan kebencianku
mencintaimu dengan denyutku
membencimu dengan kulitku
Yogyakarta, 2008
Sebenarnya Kau Tak Ada
ada aku
ada kau
ada aku
tak ada kau
tak ada kau
kau terus tak ada
aku ada
sebenarnya tak ada kau
ketika aku harus ada
Yogyakarta, 2008
Selengkapnya....
Iqro’ eL. Firdauz*
: Rini Yuspita
Bonanza
aku membayangkan segalanya manut
tak ada pertanyaan,hingga kita selalu berpasangan
sekalipun tak saling sentuh
bayangan itu benar-benar datang
meruntut rantai patah-patah
hinggap pada labirin
jatuh pada jantung yang kering
aku menemukan hidup
pada hidupmu kutemukan
yang telah kukenal dengan denyut
engkau pulang untuk menemuiku
merekatkan tubuhmu
meski jejak-jejak sandalmu kau hilangkan diam-diam
agar tak ada euforia di kedalaman jantungku
bisikku lambat kau dengar,
peganganmu yang erat perlahan kau lepaskan
untuk menyambut jemariku
dengan denyut yang sebenarnya untukku
Yogyakarta, 2008
Menyambut Hening
: yang telah kuciptakan dari kata-kata
kuambil huruf-hurufnya dari sumsum yang ranum
kau baca untukku
kutulis untukmu
dulu adalah serpihan kata
yang pucat dan menggigilkan
tapi terpaksa kutulis lewat paragraf hiperbola
kutulis untuk kupoles
o, mengapa perempuan-perempuanku
berlenggang seperti paduan suara
tanpa kuberi isyarat
tanpa kupandu
Yogyakarta, 2008
Mengendusmu Dari Langit
sayat suaramu makin kupastikan
betapa setia kau cuci anak-anakmu
betapa setia kau elus lakimu dengan namamu
yang tertanam di payudara
sekarang makin kumengerti
engkau demikian mencintai hujan
maka aku mengirimmu hujan di persimpangan
untuk menyuntingmu
dan kau bisa mencintaiku
engkau mencintai sebuah musim hujan
aku mengajakmu keluar ruangan diam-diam
tiba-tiba kita telah basah
saling suap mimpi mendung
sebelum ranum menjadi hujan
Yogyakarta, 2008
Lalu Kau Mandi
:ita
lalu kau mandi
dalam perjamuan
dalam percakapan
selesai suntuk
kudengar titahmu yang lain
padahal telah kusiapkan altar
pada titahmu yang pertama
juga balairung
agar sarapan pagi amat teduh
ketika aku disampingmu
lalu kau mandi
setelah persetubuhan kita
menyibak sesuatu
di tengah-tengah tatapan kita
Yogyakarta, 2008
Segalanya Terasa Mungkin Membiru
percakapan ini memeluh nanar,sayang
harus kunamai apa musim yang sebenarnya ini
tiba-tiba ada hujan di kepala
sebentar terganti sebuah kegosongan
yang menderai deru
tahukah siapa yang memberi hujan
pahamkah siapa yang mengirim oase
hingga terasa kering
amat kering
aku tak bisa mencintaimu
juga membencimu
aku membencimu untuk kucintai
aku mencintaimu dengan kebencianku
mencintaimu dengan denyutku
membencimu dengan kulitku
Yogyakarta, 2008
Sebenarnya Kau Tak Ada
ada aku
ada kau
ada aku
tak ada kau
tak ada kau
kau terus tak ada
aku ada
sebenarnya tak ada kau
ketika aku harus ada
Yogyakarta, 2008
Selengkapnya....
24 February 2008
sajak_februari















[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*
Iqro' eL. Firdauz*
Isyarat Denyut
gelepar angin ini akan mengantarkan selesat denyut
ke teduh pulau matamu
denyut yang berlenggang kencang segentir pasir
pasir yang menggaruk gerik solekmu sebelum pergi
tapi tak kupajang denyut ini di hiruk pikuk laut
membuat ikanikan cemberut cemburu
ketika isyarat denyutmu perlahan mendesah desing
desah yang menggelepar bagai peluru menusuk tulang
bukan katakata yang menjelma susuk
tapi hurufhuruf keteduhan sebelum kita
menjadi baitbait syair
bait yang menelentankan tangan kita
menjadi kalimatkalimat metafora
dimana kau menyuntingku sebebas kau bercerita
sepasang payudara
segala yang tumbuh dari hurufhuruf denyutmu
o, mengapa kau tata menjadi kata yang dimengerti
kata yang kau hirup dari denyutku yang terdalam pualam
meski denyut itu bukan nyanyian, sebab aku sumbang
tapi kau mampu berdansa tanpa musik
hingga aku terusik
Tidurlah Untuk Perempuanmu
rayap mimpimu menjalar meranggeh kekasih
sedang malam amat dekat merambat di jendela
dan pagi berkecipak sayup
bergegaslah memungut embun sedingin malam
sebelum surya tak menyisakan segelintir tetes
hingga dedaunan terasa gosong
gelepar angin ini akan mengantarkan selesat denyut
ke teduh pulau matamu
denyut yang berlenggang kencang segentir pasir
pasir yang menggaruk gerik solekmu sebelum pergi
tapi tak kupajang denyut ini di hiruk pikuk laut
membuat ikanikan cemberut cemburu
ketika isyarat denyutmu perlahan mendesah desing
desah yang menggelepar bagai peluru menusuk tulang
bukan katakata yang menjelma susuk
tapi hurufhuruf keteduhan sebelum kita
menjadi baitbait syair
bait yang menelentankan tangan kita
menjadi kalimatkalimat metafora
dimana kau menyuntingku sebebas kau bercerita
sepasang payudara
segala yang tumbuh dari hurufhuruf denyutmu
o, mengapa kau tata menjadi kata yang dimengerti
kata yang kau hirup dari denyutku yang terdalam pualam
meski denyut itu bukan nyanyian, sebab aku sumbang
tapi kau mampu berdansa tanpa musik
hingga aku terusik
Tidurlah Untuk Perempuanmu
rayap mimpimu menjalar meranggeh kekasih
sedang malam amat dekat merambat di jendela
dan pagi berkecipak sayup
bergegaslah memungut embun sedingin malam
sebelum surya tak menyisakan segelintir tetes
hingga dedaunan terasa gosong
tanyakan pada selimut yang pekat, mengapa
bibir harus mengigau perempuanmu dalam kau terjaga
padahal tak ada igau dalam mimpi
tanpa merebahkan matamu setelah melihat
dunia yang terang dan kekal
gantunglah parasmu yang tertegun sunyi senyap
untuk menjalar ke kotakota yang bising
dengan perlombaan debat kusir
sebab, kau akan mengerti
betapa kejam merenung tanpa suara
bibir harus mengigau perempuanmu dalam kau terjaga
padahal tak ada igau dalam mimpi
tanpa merebahkan matamu setelah melihat
dunia yang terang dan kekal
gantunglah parasmu yang tertegun sunyi senyap
untuk menjalar ke kotakota yang bising
dengan perlombaan debat kusir
sebab, kau akan mengerti
betapa kejam merenung tanpa suara
Biola
inilah gelagat desir angin
menyingsing desing ke kuping
dedaunan mengigau melunturkan siang yang bising
inilah gelagat desir angin
menyingsing desing ke kuping
dedaunan mengigau melunturkan siang yang bising
derunya,
melupakan jejakjejak,
bayangbayang,
dan tembang yang lembam
dari galau lamunan jagamu
melupakan jejakjejak,
bayangbayang,
dan tembang yang lembam
dari galau lamunan jagamu
entah dimana kau taruh pandangmu
dengan anganangan yang berlayar
menemukan keheningan
dan kau melupakan air mata kemarin
yang menetes ke sakumu kemanapun
anganmu bertatihtitah
biarlah akhirnya hanyut tergulung-guling
do mi so yang naik turun
lalu setelah di tepi bibirmu bisa kupetik
dengan desah melodi yang baru
melodi yang menguliti suarasuara
yang sebenarnya kita tak butuh
bahkan nanar
Malang, Desember 2007
dengan anganangan yang berlayar
menemukan keheningan
dan kau melupakan air mata kemarin
yang menetes ke sakumu kemanapun
anganmu bertatihtitah
biarlah akhirnya hanyut tergulung-guling
do mi so yang naik turun
lalu setelah di tepi bibirmu bisa kupetik
dengan desah melodi yang baru
melodi yang menguliti suarasuara
yang sebenarnya kita tak butuh
bahkan nanar
Malang, Desember 2007
Dari Hampir Hingga Jatuh Perlahan
:Rif
sebelum kau redam plasenta ini
dari ranumnya sperma kejantananku:
bayangkan saat kau lukis wajah ini
pada pualam yang lenting
ibarat seniman dengan papah telaten
hingga garisgaris wajah yang amat menderai manis
:Rif
sebelum kau redam plasenta ini
dari ranumnya sperma kejantananku:
bayangkan saat kau lukis wajah ini
pada pualam yang lenting
ibarat seniman dengan papah telaten
hingga garisgaris wajah yang amat menderai manis
agar kalau malam tiba
tidurmu tak menyianyiakan redum
memimpikanku dalam igau
agar kau paham
betapa sesal kau lempar bayangmu itu
ke luar jendela yang masih tertutup
atau memaksa satu dari kita meretakkan jendela itu?
tidurmu tak menyianyiakan redum
memimpikanku dalam igau
agar kau paham
betapa sesal kau lempar bayangmu itu
ke luar jendela yang masih tertutup
atau memaksa satu dari kita meretakkan jendela itu?
meski aku tahu
dalam hamilmu
kau mengidem bayangku yang lain
di luar jendela sana
kau mengidem bayangku yang lain
di luar jendela sana
Nemor Kara, Kau Lemparkan
bibirmu tak lagi melepuh
terengah pasi dihempas angin
tak ada yang menghiraukan
terdengar lirih rintih dari kejap dua matamu
ada busung perut disini
rumah-rumah kedinginan
tubuh-tubuh gemetar
perlahan luluh redam terkapar
sungguh hujan menumbuk janin musim
hingga tak ada fatamurgana
bergelantung pada siang seperti kemarin
tanah mulai becek
sebab tak ada debu-debu ganas menggesus
mencubit gerimis
bibirmu tak lagi melepuh
terengah pasi dihempas angin
tak ada yang menghiraukan
terdengar lirih rintih dari kejap dua matamu
ada busung perut disini
rumah-rumah kedinginan
tubuh-tubuh gemetar
perlahan luluh redam terkapar
sungguh hujan menumbuk janin musim
hingga tak ada fatamurgana
bergelantung pada siang seperti kemarin
tanah mulai becek
sebab tak ada debu-debu ganas menggesus
mencubit gerimis
aku bisa hidup
tanpa hujan mengguyur tubuhku
hingga aku terjatuh basah
Yogyakarta, 2008
tanpa hujan mengguyur tubuhku
hingga aku terjatuh basah
Yogyakarta, 2008
Malam Tahun Baru
pada parasmu yang kulirik pucat
menggigilkan udara berjatuhan
cukup sekali aku menyeduhimu kehangatan
untuk siuman selamanya
diantara angin mencambuk akar
tanah yang tak menumbuhkan keheningan
dan laut melembapi jalanan yang telah ereksi
pada letusan kembang api
kubaca gurat isyarat:
wajahmu mengelupas sekerdip
meraba seuntai syair yang agung
tentang tema apapun kelak
untuk kita baca dan memaknainya
dalam perlombaan yang belum usai
Yogyakarta, Januari 2008
pada parasmu yang kulirik pucat
menggigilkan udara berjatuhan
cukup sekali aku menyeduhimu kehangatan
untuk siuman selamanya
diantara angin mencambuk akar
tanah yang tak menumbuhkan keheningan
dan laut melembapi jalanan yang telah ereksi
pada letusan kembang api
kubaca gurat isyarat:
wajahmu mengelupas sekerdip
meraba seuntai syair yang agung
tentang tema apapun kelak
untuk kita baca dan memaknainya
dalam perlombaan yang belum usai
Yogyakarta, Januari 2008
17 February 2008
14 February 2008
12 February 2008
Sajak tahun baru
Sekerdip Malam Tahun Baru
pada parasmu yang kulirik pucat
menggigil udara berjatuhan
cukup sekali aku menyeduhimu
untuk siuman selamanya
diantara angin mencambuk akar
tanah yang tak menguliti gandum
dan laut melembapi jalanan yang telah ereksi
pada letusan kembang api
kubaca gurat isyarat:
wajahmu mengelupas sekerdip
meraba seuntai syair yang agung
tentang apapun nanti
dan cahaya yang bangkit dari kubur
membangunkan kota yang tidur.
menyorot jalanan melukis lingkaran tahun
aku bertanya padanya
geriap apa terbisik menjalar
adakah sekerdip silau untuk damai
lega melangit lalu jatuh terpingkal lempung
lunglai lalu lalang tak lagi menyiram malam
Yogyakarta, 2008
2 + 1, pada 11 : 53
/
ditengah kebising bingaran kota
ketika orangorang bersorak dan meniup terompet
kalian tak sempat bersisir serisau rasa
mengibakan aku dan mereka
menggeremaskan tangan terpenjara
tapi tidak untuk saat ini
maafkan, yang hanya senyum tersisa di saku
mungkin sekarang kita senasib
kalian akupun tergelai busung
tapi mereka yang terhelai penuh warna
tak menyisakan seraut biru untuk pengemis
akupun malu
/
ditengah kebising bingaran kota
matanya tergaruk malam
makhluk gila kata orang
terlentang berbantal keramik
berselimut tangan
tak ada tahun baru baginya
dan tak ada manusia tergenang di matanya
hanya hari libur yang terus menerus
tanpa tema
Yogyakarta, 2008
Yang Terkubur di Bibirmu
:Rini Yuspita
yang terkubur di bibirmu
adalah genangan air mata laut
yang tumpas saat aku menirai ombak pasang
dan sebuncah serpihan itu melenguh kalut
kadang melolong panjang
memintanya untuk utuh bersatu
meminta kita berpandangan
lalu saling suap
apa yang tersurat ini
lantaran udara di dada gemetaran
hamparan himne menyilet hingga tulang
membuat wajah beku memucat
Yogyakarta, 2007
Sebuah Wajah Yang Terjungkir di Kuburan
mata siapa yang tak tertusuk menggeremas
ketika nama mengalalmi sejarah
memahat memaknai dunia
nafas siapa yang tak sesak
bila hitam tersulam di tenggorokan
menjadi tikar yang pasang
adakah sesal berlarut
mendamaikan keringat tulang berkabut
demi senda gurau ini
kau tak perlu bawa pisau
untuk memotong bilangan waktu
bila ia telah membelah sebilah tanah
maka kau akan bercumbu di dalamnya
dan datang sepasang musafir
menanyakan peluhmu
Yogyakarta, 2007
Saliva
tentu tak perlu kutanyakan
sebab semua orang tentu menjawab sama
matamu bukanlah lalat
hidungmu bukanlah perasaan semut
tapi kau menyembunyikan gerikmu
pada selangkangan waktu yang lain
untuk semua orang
hingga keringat itu melumat bibirmu
menguntit kemarau yang dahaga
yang sebenarnya
kau mencinta apa yang bibirmu benci
Yogyakarta, 2007
Irama Setengah Abad
pada gerimis yang belum selesai gemericik
bibirmu kembali menjagakan malam yang pulas
mengingatkan irama setengah abad
pada sebuah villa
dimana kau aku berkata:mata
betapa riuh lagulagu ini
siapa yang terusik:
aku atau sepi?
dari bayangmulah aku menangakap desir
dan desir itu adalah aku
tapi bayangmu tak sempat membayangiku
Yogyakarta, 2007
Selengkapnya....
Schizophrenia
Schizophrenia
seakan kudengar desis
tersangkut di mata
serupa seekor burung putih terbang murung di udara
tapi tak seorang terbesit
ada yang pilu,
ada yang lupa akan istri dan anaknya,
ada yang menggigit jarinya
dari mereka tentang aku
sekali lagi hanya kudengar desis
entah apa yang kau tulis tentang aku
aku tak peduli.
aku lagi pingin mengintip burung itu
selalu berbisik tentang hari-hari
tentang keadaanku
dimana aku telah menelanku
setiap detik kau selalu mengusik
dengan gaungnya
geriap waktu makin tergerai
melenguh,
merengkuh,
mendesah.
terkadang memaksaku telanjang
menggunturnya kabur ke hutan
biar lepas, asing dariku
Yogyakarta, 2007
Suara Ranjang
erangan gitar melangit di telinga
terkatup mayat matanya yang terkubur di rumah
semakin menciumku
semakin menjamahku
mengulum puting susu yang tak perawan
baru saja aku mendengar — tak melihat
majnun mampir di jantung
sekedar menyanyi, menurutku
ya, sedekat menyentil bulu roma
lalu pergi berdansa.
tapi erangan gitar itu anggur di ranjang
tak bisa kuhilangkan manis kecutnya
sebab hujan membekukan matahari.
sungguh aku telah diperkosa
Yogyakarta, 2007
Arloji
yang menyeretku meninggaki kutub utara
dimana ia menggigilkan hasrat masa silam
yang pingin memerahkan langit kelak
tapi di awan ini angin mendengkur menangis
ingin menelusup ke gua-gua di bawah sana
melucuti wajah waktu yang keriput sawang-sawang
seperti perkataan tubuh ini
dirimu adalah kehidupan yang tampak mengenaliku
mengecup kening malam sunyi
saat itu bekas kecupanmu yang tak mungkin kucampakkan
betapa hampa ditampik waktu
lenyap dengan sayap berdarah
Yogyakarta, 2007
Plot Sebuah Narasi Tentang Keganjilan
jangan menjemur pagi ketika malam
sebab bibirmu tak lagi menurani
basi tergeletak di bak sampah
lalatpun tak menghiraukannya
jangan purapura lirih merintih
berarak
tentang oase
tentang negeri yang busung perut
tentang rumah-rumah kedinginan
tentang tubuh-tubuh yang gemetar
o, terlanjur aku bilang investigator pada ayah
indra kami bagai anjing pelacak
menyelam seluruh negasi waktu
kemarin, sekarang
aku melihat kau benci kemarau
tapi kau tumbuk janin memusim
hingga tak ada lendirpun bergelantung pada pagi
tak ada tanah becek
sebab debu-debu ganas menggesus
dan tak ada gerimis terlukis sebelum senja
itukah skenario
yang kau tulis dengan air dan angin ganas
mendengus?
tanpa air mata
luluh meleleh oleh peluh
Yogyakarta, 2007
Aku harus benci pada mainan baru itu
setelah aku menyuntingmu
relakanlah mengecup keningku
biar tak menjadi kelelawar
mengambar butir-butir mangga
di kamarmu dan kamar mereka
setelah aku menyuntingmu
sekaplah wajah zulaikha
di ketiak malam— bukan purnama
biar aku hanya menepikanmu
saat musim mulai pasang
aku tak tidur saat bermimpi
berdiri di pematang
melangitkan mata, kaki, dan tangan
entah beringsut menyelinap
kulitmu keriput sebelum senja, saat itu
aku bergegas menyampingimu
di kamar aku semaput
ketika kau lagi berhias pasutri
harumnya terlalu membentak
menderaskan nadi
kau adalah dirimu
mungkin ayah sering membelikanku mainan baru
ketika aku kecil
begitulah, aku takut membunuhmu
dalam ketiadaanku
lalu ada dirimu yang lain
yang lain, padaku
Yogyakarta, 2007
Riyupita
kita belum sama-sama basah
meski taman kemaluan rindang menghijau
dan terkadang matahari tersipu menangis
tertutup awan
kau aku hanya saling melihat sejenak
sekedar berjabat tangan
sekilat petir, lalu pergi ke rumah
di saat kedinginan seperti ini
disanalah aku bercumbu
dengan seruncut rambutmu
yang bertengger di kasur
Yogyakarta, 2007 Selengkapnya....
seakan kudengar desis
tersangkut di mata
serupa seekor burung putih terbang murung di udara
tapi tak seorang terbesit
ada yang pilu,
ada yang lupa akan istri dan anaknya,
ada yang menggigit jarinya
dari mereka tentang aku
sekali lagi hanya kudengar desis
entah apa yang kau tulis tentang aku
aku tak peduli.
aku lagi pingin mengintip burung itu
selalu berbisik tentang hari-hari
tentang keadaanku
dimana aku telah menelanku
setiap detik kau selalu mengusik
dengan gaungnya
geriap waktu makin tergerai
melenguh,
merengkuh,
mendesah.
terkadang memaksaku telanjang
menggunturnya kabur ke hutan
biar lepas, asing dariku
Yogyakarta, 2007
Suara Ranjang
erangan gitar melangit di telinga
terkatup mayat matanya yang terkubur di rumah
semakin menciumku
semakin menjamahku
mengulum puting susu yang tak perawan
baru saja aku mendengar — tak melihat
majnun mampir di jantung
sekedar menyanyi, menurutku
ya, sedekat menyentil bulu roma
lalu pergi berdansa.
tapi erangan gitar itu anggur di ranjang
tak bisa kuhilangkan manis kecutnya
sebab hujan membekukan matahari.
sungguh aku telah diperkosa
Yogyakarta, 2007
Arloji
yang menyeretku meninggaki kutub utara
dimana ia menggigilkan hasrat masa silam
yang pingin memerahkan langit kelak
tapi di awan ini angin mendengkur menangis
ingin menelusup ke gua-gua di bawah sana
melucuti wajah waktu yang keriput sawang-sawang
seperti perkataan tubuh ini
dirimu adalah kehidupan yang tampak mengenaliku
mengecup kening malam sunyi
saat itu bekas kecupanmu yang tak mungkin kucampakkan
betapa hampa ditampik waktu
lenyap dengan sayap berdarah
Yogyakarta, 2007
Plot Sebuah Narasi Tentang Keganjilan
jangan menjemur pagi ketika malam
sebab bibirmu tak lagi menurani
basi tergeletak di bak sampah
lalatpun tak menghiraukannya
jangan purapura lirih merintih
berarak
tentang oase
tentang negeri yang busung perut
tentang rumah-rumah kedinginan
tentang tubuh-tubuh yang gemetar
o, terlanjur aku bilang investigator pada ayah
indra kami bagai anjing pelacak
menyelam seluruh negasi waktu
kemarin, sekarang
aku melihat kau benci kemarau
tapi kau tumbuk janin memusim
hingga tak ada lendirpun bergelantung pada pagi
tak ada tanah becek
sebab debu-debu ganas menggesus
dan tak ada gerimis terlukis sebelum senja
itukah skenario
yang kau tulis dengan air dan angin ganas
mendengus?
tanpa air mata
luluh meleleh oleh peluh
Yogyakarta, 2007
Aku harus benci pada mainan baru itu
setelah aku menyuntingmu
relakanlah mengecup keningku
biar tak menjadi kelelawar
mengambar butir-butir mangga
di kamarmu dan kamar mereka
setelah aku menyuntingmu
sekaplah wajah zulaikha
di ketiak malam— bukan purnama
biar aku hanya menepikanmu
saat musim mulai pasang
aku tak tidur saat bermimpi
berdiri di pematang
melangitkan mata, kaki, dan tangan
entah beringsut menyelinap
kulitmu keriput sebelum senja, saat itu
aku bergegas menyampingimu
di kamar aku semaput
ketika kau lagi berhias pasutri
harumnya terlalu membentak
menderaskan nadi
kau adalah dirimu
mungkin ayah sering membelikanku mainan baru
ketika aku kecil
begitulah, aku takut membunuhmu
dalam ketiadaanku
lalu ada dirimu yang lain
yang lain, padaku
Yogyakarta, 2007
Riyupita
kita belum sama-sama basah
meski taman kemaluan rindang menghijau
dan terkadang matahari tersipu menangis
tertutup awan
kau aku hanya saling melihat sejenak
sekedar berjabat tangan
sekilat petir, lalu pergi ke rumah
di saat kedinginan seperti ini
disanalah aku bercumbu
dengan seruncut rambutmu
yang bertengger di kasur
Yogyakarta, 2007 Selengkapnya....
Sajak-sajak musim hujan
Spektrum Wajah
yang beringsut penuh tanya
mendaki hamparan batu-batu yang tersembunyi
pada rimbun alismu
ada beberapa wajah kembar siam
membias ke rongga-rongga selokan mata
ke pori-pori sengatan sungai
yang didalamnya kabel-kabel berarus
beberapa wajahmu masih mengilat bagai petir
berjaipongan, berdansa dengan mereka
berdiskusi tentang indahnya puntung rokok
untuk dihisap kenikmatan yang gentayangan
baru sejurus
kecentilan wajah-wajahmu
menghilhami tanganku untuk
menulis perbendaharaan percakapan
bahwa Tuhan memiliki sifat sembilan puluh sembilan
dank kau mencucurkan kulit bunglon
disetiap hinggap pada baju mereka
Yogyakarta, 2008
Apa ? Apa
masihkah menjadi aku
jika Kau melucuti warna?
apa ruang menjadi
jika Kau aku melucuti wajah ?
tak ada sunyi
siang dan ledakan
Yogyakarta, 2008
Napas Himne
seperti debu-debu terengah-engah meraung
ranting-ranting lepas oleh angin
begitulah keperempuananmu
mengerat denyutdenyut kesendirian
perih tergorok oleh
rentan sejarah yang amat silam
tak mengulum puting hati berdua
tak membayangkan siapa saja dirimu
hanya merintihlah dalam eramanku
sebab aku mencintai percakapan
helai rambutmu dan tariannya
tentulah Dia mengerti
aku sedang bercermin
bahwa cawan tubuh belum genap
maka aku harus merenggutmu
Yogyakarta, 2008
Aku, Apa Yang Aku Inginkan
dari keganjilan dan kecemasan
masih bisa direguk.
menyisir kata untuk ibu
atau sejarah bibir menghumuskan
musim-musim percakapan tahun depan
sebelum nasib benarbenar disalibkan
tapi aku tak memintamu melesak
meskipun kurindukan yang tak kuketahui
ada pada kornea mata
mendelik bagai bara
biarlah hanya terpatri keinginan dan luka
antara kata dan sejarah bibir
sebab tangan ini masih bayi
bersalaman dengan setelapak keputusn
Yogyakarta, 2008
Ingin Kuulang
aku tak tahu siapa merekat tubuh tadi malam
wajahnya sayu, bibir belah ketupat
tak bisa mengetuk pintu lelap
lirih musik sayup, ngilu
mengikutinya
kau mengenalku?
tak ada kata atau isyarat batu
kecuali hanya untukku
siapapun rela menunggu bertahun-tahun
memesan seraut wajah itu
akupun tak bisa merangkaki tadi malam
dalam lingkaran tangan
kau dunia atau sesudahnya?
sungguh tak ada metafora
hanya beberapa besit cahayanya
menjadi sandi, menjadi kunci
: matamu yang sarat lembut membersit pelangi
menjelma bulan dalam remangku
menubuhi dengan cahaya
Yogyakarta, 2008
Bila Telah Kuasa
kau punya
mempunyai yang tak punya
dia tak punya
tak mempunyai yang punya
Yogyakarta, 2008
Selengkapnya....
yang beringsut penuh tanya
mendaki hamparan batu-batu yang tersembunyi
pada rimbun alismu
ada beberapa wajah kembar siam
membias ke rongga-rongga selokan mata
ke pori-pori sengatan sungai
yang didalamnya kabel-kabel berarus
beberapa wajahmu masih mengilat bagai petir
berjaipongan, berdansa dengan mereka
berdiskusi tentang indahnya puntung rokok
untuk dihisap kenikmatan yang gentayangan
baru sejurus
kecentilan wajah-wajahmu
menghilhami tanganku untuk
menulis perbendaharaan percakapan
bahwa Tuhan memiliki sifat sembilan puluh sembilan
dank kau mencucurkan kulit bunglon
disetiap hinggap pada baju mereka
Yogyakarta, 2008
Apa ? Apa
masihkah menjadi aku
jika Kau melucuti warna?
apa ruang menjadi
jika Kau aku melucuti wajah ?
tak ada sunyi
siang dan ledakan
Yogyakarta, 2008
Napas Himne
seperti debu-debu terengah-engah meraung
ranting-ranting lepas oleh angin
begitulah keperempuananmu
mengerat denyutdenyut kesendirian
perih tergorok oleh
rentan sejarah yang amat silam
tak mengulum puting hati berdua
tak membayangkan siapa saja dirimu
hanya merintihlah dalam eramanku
sebab aku mencintai percakapan
helai rambutmu dan tariannya
tentulah Dia mengerti
aku sedang bercermin
bahwa cawan tubuh belum genap
maka aku harus merenggutmu
Yogyakarta, 2008
Aku, Apa Yang Aku Inginkan
dari keganjilan dan kecemasan
masih bisa direguk.
menyisir kata untuk ibu
atau sejarah bibir menghumuskan
musim-musim percakapan tahun depan
sebelum nasib benarbenar disalibkan
tapi aku tak memintamu melesak
meskipun kurindukan yang tak kuketahui
ada pada kornea mata
mendelik bagai bara
biarlah hanya terpatri keinginan dan luka
antara kata dan sejarah bibir
sebab tangan ini masih bayi
bersalaman dengan setelapak keputusn
Yogyakarta, 2008
Ingin Kuulang
aku tak tahu siapa merekat tubuh tadi malam
wajahnya sayu, bibir belah ketupat
tak bisa mengetuk pintu lelap
lirih musik sayup, ngilu
mengikutinya
kau mengenalku?
tak ada kata atau isyarat batu
kecuali hanya untukku
siapapun rela menunggu bertahun-tahun
memesan seraut wajah itu
akupun tak bisa merangkaki tadi malam
dalam lingkaran tangan
kau dunia atau sesudahnya?
sungguh tak ada metafora
hanya beberapa besit cahayanya
menjadi sandi, menjadi kunci
: matamu yang sarat lembut membersit pelangi
menjelma bulan dalam remangku
menubuhi dengan cahaya
Yogyakarta, 2008
Bila Telah Kuasa
kau punya
mempunyai yang tak punya
dia tak punya
tak mempunyai yang punya
Yogyakarta, 2008
Selengkapnya....
sajak untuk kalian
yang terkubur di bibirmuadalah genangan air mata laut
yang tumpas saat aku menirai ombak pasang
dan sebuncah serpihan itu melenguh kalut
kadang melolong panjang
memintanya untuk utuh bersatu
meminta kita berpandangan
lalu saling suap
apa yang tersurat ini
lantaran udara di dada gemetaran
hamparan himne menyilet hingga tulang
membuat wajah beku memucat Selengkapnya....
skrim burung
[Sajak-sajak]
IQRO' L. FIRDAUS
Skrim Burung
seakan kudengar desis
serupa seekor burung putih
terbang murung
di udara
berbisik tentang hari-hari
tentang keadaan
yang menelanku
setiap detik
kau selalu mengusik
melenguh,
merengkuh,
mendesah.
Ah, entah apa yang kau tulis
tentang aku, aku tak peduli.
sekali lagi, hanya kudengar desis
bagai burung lepas
yang kabur ke hutan
Yogyakarta, 2007
Mata Langit
adakalanya menelisik dalamnya angan
sekilas saja mengepakkan sayap bagai burung terbang
arungi senyap gemuruh
menerawang kisahkisah musafir
mengintai kematian
diantara penyuntingan dedaunan
dan laut
adakalanya menguping prosa panjang
para pemulung
mengeluh lembar dadar
sebab matanya bergerai getir
menyobek bibirnya
kalau aku mau
aku bisa mengintai
sekarat laut dan tanah yang tak lagi berumput
lalu kubisikkan pada mereka
yang takut akan kematian
Yogyakarta, 2008
Elusan Waktu
yang menyeretku meninggaki kutub utara
dimana ia menggigilkan hasrat masa silam
yang pingin memerahkan langit kelak
tapi di awan ini angin mendengkur menangis
ingin menelusup ke gua-gua di bawah sana
melucuti wajah waktu yang keriput sawang-sawang
seperti perkataan tubuh ini
dirimu adalah kehidupan yang tampak mengenaliku
mengecup kening malam sunyi
saat itu bekas kecupanmu yang tak mungkin kucampakkan
betapa hampa ditampik waktu
lenyap dengan sayap berdarah
Yogyakarta, 2007
Irama Pemerkosaan
erangan gitar melangit di telinga
terkatup matanya
yang terkubur di rumah
ia menciumku
menjamahku
mengulum puting susu yang tak perawan
baru saja aku mendengar
rintihnya mampir di jantung
sekedar menyanyi, menurutku
ya, sedekat menyentil bulu roma
lalu pergi ke tempat lain
tapi tatapmu anggur
yang menetralkan kecut
hingga hujan membekukan matahari
Yogyakarta, 2007
Setelah Aku Menyuntingmu
:Riyupita
setelah aku menyuntingmu
relakanlah mengecup keningku
biar tak menjadi kelelawar
menaburkan bercah-bercah jambu
di kamarmu dan kamar mereka
setelah aku menyuntingmu
sekaplah wajah zulaikha
di ketiak malam
biar aku hanya menepikanmu
saat musim mulai pasang
Yogyakarta, 2008
Nyanyian Kayu Bakar
Maka jangan kau tabur kapur
dengan perasaan arang
di benakku
sebab telah kubangun suara menujumu
yang tak bisa digosongkan oleh bara
bahkan manusia yang lebih dariku
luangkan untuk bermimpi mejadi laut
menjadi surga percumbuan ikan dan karang
seperti mimpiku meluluhkan besi:
lihatlah sabit dan kapak tajam itu
adalah dunia
yang kucobak-cabik
lalu kugambar bagian-bagiannya
secantik kupu-kupu
Yogyakarta, Des. 2007 Selengkapnya....
IQRO' L. FIRDAUS
Skrim Burung
seakan kudengar desis
serupa seekor burung putih
terbang murung
di udara
berbisik tentang hari-hari
tentang keadaan
yang menelanku
setiap detik
kau selalu mengusik
melenguh,
merengkuh,
mendesah.
Ah, entah apa yang kau tulis
tentang aku, aku tak peduli.
sekali lagi, hanya kudengar desis
bagai burung lepas
yang kabur ke hutan
Yogyakarta, 2007
Mata Langit
adakalanya menelisik dalamnya angan
sekilas saja mengepakkan sayap bagai burung terbang
arungi senyap gemuruh
menerawang kisahkisah musafir
mengintai kematian
diantara penyuntingan dedaunan
dan laut
adakalanya menguping prosa panjang
para pemulung
mengeluh lembar dadar
sebab matanya bergerai getir
menyobek bibirnya
kalau aku mau
aku bisa mengintai
sekarat laut dan tanah yang tak lagi berumput
lalu kubisikkan pada mereka
yang takut akan kematian
Yogyakarta, 2008
Elusan Waktu
yang menyeretku meninggaki kutub utara
dimana ia menggigilkan hasrat masa silam
yang pingin memerahkan langit kelak
tapi di awan ini angin mendengkur menangis
ingin menelusup ke gua-gua di bawah sana
melucuti wajah waktu yang keriput sawang-sawang
seperti perkataan tubuh ini
dirimu adalah kehidupan yang tampak mengenaliku
mengecup kening malam sunyi
saat itu bekas kecupanmu yang tak mungkin kucampakkan
betapa hampa ditampik waktu
lenyap dengan sayap berdarah
Yogyakarta, 2007
Irama Pemerkosaan
erangan gitar melangit di telinga
terkatup matanya
yang terkubur di rumah
ia menciumku
menjamahku
mengulum puting susu yang tak perawan
baru saja aku mendengar
rintihnya mampir di jantung
sekedar menyanyi, menurutku
ya, sedekat menyentil bulu roma
lalu pergi ke tempat lain
tapi tatapmu anggur
yang menetralkan kecut
hingga hujan membekukan matahari
Yogyakarta, 2007
Setelah Aku Menyuntingmu
:Riyupita
setelah aku menyuntingmu
relakanlah mengecup keningku
biar tak menjadi kelelawar
menaburkan bercah-bercah jambu
di kamarmu dan kamar mereka
setelah aku menyuntingmu
sekaplah wajah zulaikha
di ketiak malam
biar aku hanya menepikanmu
saat musim mulai pasang
Yogyakarta, 2008
Nyanyian Kayu Bakar
Maka jangan kau tabur kapur
dengan perasaan arang
di benakku
sebab telah kubangun suara menujumu
yang tak bisa digosongkan oleh bara
bahkan manusia yang lebih dariku
luangkan untuk bermimpi mejadi laut
menjadi surga percumbuan ikan dan karang
seperti mimpiku meluluhkan besi:
lihatlah sabit dan kapak tajam itu
adalah dunia
yang kucobak-cabik
lalu kugambar bagian-bagiannya
secantik kupu-kupu
Yogyakarta, Des. 2007 Selengkapnya....
05 February 2008
Namamu Berguling Bersama Boneka
[Sajak-sajak]
IQRO' L. FIRDAUS
Namamu Berguling Bersama Boneka
:Amelia (tang ponakan)
masih kugenggam getar sedih
yang meloncat dari tawamu
saat kau terjaga dari tidurmu
lalu menendangku sembari menangis
namamu belum tersulam di kalender
hingga belukar kamar harus tercerai berai
dari perancukan ribuan akar
untuk retasnya rerimbun warna
tangisan bukanlah air mata
sebab kami sadar ketika mencongkel
dua bola matamu
juga lilitan alismu yang terperas
ada isyarat gelak yang akan segera selesai
Madura, 2008
Mata
kilaumu mengintip di bilik daris janur
pada kelipatan tujuh
dedaunan terpoles
setelah terik menggosongkan napas terkelupas
dan kulit menjadi terpilah belah
bukan bisikan menggaung
pada deretan rumahrumah
merangsang cecak bersuara putusputus
tapi kilau itu memulaskan pepohonan
yang tersapu angin
hingga bebatuan menjadi rumah katak
dan tibatiba kedipmu kau jadikan ayatayat
untuk kubaca di jalanan
Yogyakarta, 2008
Narasi Sebuah Pesta
pada siuman daun jati dan talas
wajahnya bisa kau jilat
yang sejak bulan lalu
kau hanya teguk segelas tuba
dan seruncut janur biru
bahkan reranting kecil
menjadi percumbuan semusim
tapi tak ada keluh
membentangkan basah tanah
meski reruntuhan air
terperas jauhjauh kedalam tanah
sebab hari ini adalah lebaran
setelah musim terkatup puasamu
dalam sejarah daun tape
Yogyakarta, 2008
Kau Mencintai Dirimu
/I
aku tak akan bercerita padamu
bagaimana bibir pagi dan malam
menghitung garisgaris wajah tersenyum
sebab,matamu akan lelah
di sepanjang pulangku
kau ingin meraba salju
dingin dan lembut seperti aku
tapi ibumu sudah lelah menyulam selimut
pada segenap tubuhmu
yang penuh pasung bagai bui
/II
bergelepar dan berkicau di sangkar
bukan untuk luka
meski mencintai burungburung terbang
kau harus mencintaimu dalam sangkar
aku hanya memintamu untuk
menyebrang gairah sungai imajinasi
hingga membentur kegilaan bersama tuhan
Yogyakarta, 2008
Sayonara Tak Selesai
gaung malam merindingkan dinding
gemanya memanjang
suara cecak tersendaksendak
pada tenggorokan petang legam
bagai tatapan beringsut
bila ada suara kematian
melesak dalam nafas klitoris
tubuhnya berbau kemenyan
tak bisa termuntahkan
hingga suaranya menyergap
seranggaserangga yang bercumbu denganku
serangga dan aku
hanya mati ketika malam
Yogyakarta, 2008
Selesat Rorokat
seperti putraku menanam katakata
di kening matahari
suaranya menciptakan awan menggantung
biar langit mengguyurkan keringatnya
pada sebuncah padi
seperti putraku melukis bulan syura
tentang dongeng hantuhantu
yang datang saat padipadi
menyusu pada puting langit
jemarinya memanjati lidah petir
membangunkan malaikat yang malas
dengan bubur berbagai benih bebijian
Madura, 2008
Angin
aku merindukan tubuhmu
yang tak bisa kubayangkan
dengan wajah
kecuali dengan denyut benakku
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
IQRO' L. FIRDAUS
Namamu Berguling Bersama Boneka
:Amelia (tang ponakan)
masih kugenggam getar sedih
yang meloncat dari tawamu
saat kau terjaga dari tidurmu
lalu menendangku sembari menangis
namamu belum tersulam di kalender
hingga belukar kamar harus tercerai berai
dari perancukan ribuan akar
untuk retasnya rerimbun warna
tangisan bukanlah air mata
sebab kami sadar ketika mencongkel
dua bola matamu
juga lilitan alismu yang terperas
ada isyarat gelak yang akan segera selesai
Madura, 2008
Mata
kilaumu mengintip di bilik daris janur
pada kelipatan tujuh
dedaunan terpoles
setelah terik menggosongkan napas terkelupas
dan kulit menjadi terpilah belah
bukan bisikan menggaung
pada deretan rumahrumah
merangsang cecak bersuara putusputus
tapi kilau itu memulaskan pepohonan
yang tersapu angin
hingga bebatuan menjadi rumah katak
dan tibatiba kedipmu kau jadikan ayatayat
untuk kubaca di jalanan
Yogyakarta, 2008
Narasi Sebuah Pesta
pada siuman daun jati dan talas
wajahnya bisa kau jilat
yang sejak bulan lalu
kau hanya teguk segelas tuba
dan seruncut janur biru
bahkan reranting kecil
menjadi percumbuan semusim
tapi tak ada keluh
membentangkan basah tanah
meski reruntuhan air
terperas jauhjauh kedalam tanah
sebab hari ini adalah lebaran
setelah musim terkatup puasamu
dalam sejarah daun tape
Yogyakarta, 2008
Kau Mencintai Dirimu
/I
aku tak akan bercerita padamu
bagaimana bibir pagi dan malam
menghitung garisgaris wajah tersenyum
sebab,matamu akan lelah
di sepanjang pulangku
kau ingin meraba salju
dingin dan lembut seperti aku
tapi ibumu sudah lelah menyulam selimut
pada segenap tubuhmu
yang penuh pasung bagai bui
/II
bergelepar dan berkicau di sangkar
bukan untuk luka
meski mencintai burungburung terbang
kau harus mencintaimu dalam sangkar
aku hanya memintamu untuk
menyebrang gairah sungai imajinasi
hingga membentur kegilaan bersama tuhan
Yogyakarta, 2008
Sayonara Tak Selesai
gaung malam merindingkan dinding
gemanya memanjang
suara cecak tersendaksendak
pada tenggorokan petang legam
bagai tatapan beringsut
bila ada suara kematian
melesak dalam nafas klitoris
tubuhnya berbau kemenyan
tak bisa termuntahkan
hingga suaranya menyergap
seranggaserangga yang bercumbu denganku
serangga dan aku
hanya mati ketika malam
Yogyakarta, 2008
Selesat Rorokat
seperti putraku menanam katakata
di kening matahari
suaranya menciptakan awan menggantung
biar langit mengguyurkan keringatnya
pada sebuncah padi
seperti putraku melukis bulan syura
tentang dongeng hantuhantu
yang datang saat padipadi
menyusu pada puting langit
jemarinya memanjati lidah petir
membangunkan malaikat yang malas
dengan bubur berbagai benih bebijian
Madura, 2008
Angin
aku merindukan tubuhmu
yang tak bisa kubayangkan
dengan wajah
kecuali dengan denyut benakku
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
Subscribe to:
Posts (Atom)




