Schizophrenia
seakan kudengar desis
tersangkut di mata
serupa seekor burung putih terbang murung di udara
tapi tak seorang terbesit
ada yang pilu,
ada yang lupa akan istri dan anaknya,
ada yang menggigit jarinya
dari mereka tentang aku
sekali lagi hanya kudengar desis
entah apa yang kau tulis tentang aku
aku tak peduli.
aku lagi pingin mengintip burung itu
selalu berbisik tentang hari-hari
tentang keadaanku
dimana aku telah menelanku
setiap detik kau selalu mengusik
dengan gaungnya
geriap waktu makin tergerai
melenguh,
merengkuh,
mendesah.
terkadang memaksaku telanjang
menggunturnya kabur ke hutan
biar lepas, asing dariku
Yogyakarta, 2007
Suara Ranjang
erangan gitar melangit di telinga
terkatup mayat matanya yang terkubur di rumah
semakin menciumku
semakin menjamahku
mengulum puting susu yang tak perawan
baru saja aku mendengar — tak melihat
majnun mampir di jantung
sekedar menyanyi, menurutku
ya, sedekat menyentil bulu roma
lalu pergi berdansa.
tapi erangan gitar itu anggur di ranjang
tak bisa kuhilangkan manis kecutnya
sebab hujan membekukan matahari.
sungguh aku telah diperkosa
Yogyakarta, 2007
Arloji
yang menyeretku meninggaki kutub utara
dimana ia menggigilkan hasrat masa silam
yang pingin memerahkan langit kelak
tapi di awan ini angin mendengkur menangis
ingin menelusup ke gua-gua di bawah sana
melucuti wajah waktu yang keriput sawang-sawang
seperti perkataan tubuh ini
dirimu adalah kehidupan yang tampak mengenaliku
mengecup kening malam sunyi
saat itu bekas kecupanmu yang tak mungkin kucampakkan
betapa hampa ditampik waktu
lenyap dengan sayap berdarah
Yogyakarta, 2007
Plot Sebuah Narasi Tentang Keganjilan
jangan menjemur pagi ketika malam
sebab bibirmu tak lagi menurani
basi tergeletak di bak sampah
lalatpun tak menghiraukannya
jangan purapura lirih merintih
berarak
tentang oase
tentang negeri yang busung perut
tentang rumah-rumah kedinginan
tentang tubuh-tubuh yang gemetar
o, terlanjur aku bilang investigator pada ayah
indra kami bagai anjing pelacak
menyelam seluruh negasi waktu
kemarin, sekarang
aku melihat kau benci kemarau
tapi kau tumbuk janin memusim
hingga tak ada lendirpun bergelantung pada pagi
tak ada tanah becek
sebab debu-debu ganas menggesus
dan tak ada gerimis terlukis sebelum senja
itukah skenario
yang kau tulis dengan air dan angin ganas
mendengus?
tanpa air mata
luluh meleleh oleh peluh
Yogyakarta, 2007
Aku harus benci pada mainan baru itu
setelah aku menyuntingmu
relakanlah mengecup keningku
biar tak menjadi kelelawar
mengambar butir-butir mangga
di kamarmu dan kamar mereka
setelah aku menyuntingmu
sekaplah wajah zulaikha
di ketiak malam— bukan purnama
biar aku hanya menepikanmu
saat musim mulai pasang
aku tak tidur saat bermimpi
berdiri di pematang
melangitkan mata, kaki, dan tangan
entah beringsut menyelinap
kulitmu keriput sebelum senja, saat itu
aku bergegas menyampingimu
di kamar aku semaput
ketika kau lagi berhias pasutri
harumnya terlalu membentak
menderaskan nadi
kau adalah dirimu
mungkin ayah sering membelikanku mainan baru
ketika aku kecil
begitulah, aku takut membunuhmu
dalam ketiadaanku
lalu ada dirimu yang lain
yang lain, padaku
Yogyakarta, 2007
Riyupita
kita belum sama-sama basah
meski taman kemaluan rindang menghijau
dan terkadang matahari tersipu menangis
tertutup awan
kau aku hanya saling melihat sejenak
sekedar berjabat tangan
sekilat petir, lalu pergi ke rumah
di saat kedinginan seperti ini
disanalah aku bercumbu
dengan seruncut rambutmu
yang bertengger di kasur
Yogyakarta, 2007
12 February 2008
Schizophrenia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





0 comments:
Post a Comment