SURAT KEPADA ALJABAR,
TENTANG SENJA DAN LAUT
selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
masih belum bisa kutata menjadi angka
masih sepi untuk lahirnya carik-carik trigonometri
sebab jari-jari adalah hitungan angka yang bisa terbagi
dan cahaya adalah secepat kilat yang tak terbatas
bisa ganda dan terbagi
seperti air yang mengalir
berkali-kali dingin menjelma linear dan kudrat
tubuhku telanjang di tengah belantara kamarku
dan kerinduaku akan bajumu sering menggelinding
seperti elips, seperti kerucut dan piramida
membentuk persegi di kepala
selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
sesekali menyuruhku meminjam bayang-bayang temanmu
seperti Pascal,Newton,dan Pytagoras
aku manut pada kata-katamu
hingga aku menemukan kehidupan yang hidup
dengan belantara yang menjelma kalkulus,dan sin,cos,tan
lalu kuhitung angka demi angka
menata dan memadatkannya dengan menyerap energi belantara
agar aku bisa mendirikan menara pada tubuhku
(Yogyakarta,17-05-2008)
Selengkapnya....
29 May 2008
26 May 2008
KIDUNG ULANG TAHUN
aku terima sepenggal mayang
dari pelepah siwalan
kumaknai airmata tanpa luka
dan kubiarkan ruang terpancang
menghimpit nafas dan arah angin
seperti lilin itu
usiakau telah mencair
disetiap sendi-sendi kalender
juga pada organ-organ laut
dalam doaku
dan kubiarkan udara menghempas jendela
dengan warna embun yang menyejukkan sajak
dan meneduhkan kamar
tapi, wajah siapa yang pertama harus aku tatap
untuk aku tanam udara di jidaknya
agar udara membawa impianku ke langit kemerahan
tentang lukisan senja pada puisiku
(11-05-2008)
SEBAB RINDUKU
LEBIH LIAT DARI BATU
sebab rinduku lebih liat dari batu
lebih dingin dari senyum
dan hanya jemarimu yang menetas tersibak
dari angan pada kenanganku
diam-diam kusergap jemarimu
seluruh penjuru pintu mengerang
menahan jerit peluh
akupun jadi akar
menjalar ke belukar
membawa airmu yang membual
ke seluruh sendi rinduku
meski akar dan rindu
tak mengenal sungaimu
Yogyakarta, 2008
ISOHIET
sebelum tumbuh menjadi angan
darahmu menulis sajak
serupa garis tertuju pada rusukku
aku baca warnamu
seperti menyuruhku menyibak air mata
melupakan gemuruh hujan
akupun baca matamu
seperti mengajakku mengeja kata
untuk mencipta suara
aku baca juga garis-garismu
seperti jerit jantung yang memanggilku
lalu aku menghampirimu
menyaksikan tarianmu
diantara tulang-tulang rusukku
:lekuk tubuhmu meledakkan isi kamarku
tempat aku menggali rindu
Yogyakarta, 2008
NAMAKU AYAT
namaku ayat
pasi seperti mayat
ayatku bukanlah ayat yang aku baca
yang aku baca adalah hayat
hayat adalah ayatku
seperti langit dan laut
ia baca dirinya sendiri
ayatku bukanlah namaku
namaku hanya memilih namanya
bukan ayat yang memilih hayat
ayatku membaur dalam nama
hayatnya terpisah dari ayat
maka namaku tak seperti hayatku
ia lebih seperti kabut dan gelombang
lupa baca dirinya sendiri
Yogyakarta, 2008
INSTRUMENTALIA
KAMPUNG HALAMAN
pagi ini sinar menjagakanku
terjaga dari hiruk pikuk mata
ada yang beda dari hari kemarin
tapi aku rasa tak asing bagiku
sebab embun pagi ini
seperti pernah hinggap mencipta sejarah
bagaimana kerinduan pada sunyi seketika luluh
ketika gurat desir angin
menyapu tetumbuhan yang amat lirih
anganmu tentu akan terbawa tertawa
ketika sesak sesering mungkin memikat
dan tiba-tiba ia lucuti rasa gusar Selengkapnya....
aku terima sepenggal mayang
dari pelepah siwalan
kumaknai airmata tanpa luka
dan kubiarkan ruang terpancang
menghimpit nafas dan arah angin
seperti lilin itu
usiakau telah mencair
disetiap sendi-sendi kalender
juga pada organ-organ laut
dalam doaku
dan kubiarkan udara menghempas jendela
dengan warna embun yang menyejukkan sajak
dan meneduhkan kamar
tapi, wajah siapa yang pertama harus aku tatap
untuk aku tanam udara di jidaknya
agar udara membawa impianku ke langit kemerahan
tentang lukisan senja pada puisiku
(11-05-2008)
SEBAB RINDUKU
LEBIH LIAT DARI BATU
sebab rinduku lebih liat dari batu
lebih dingin dari senyum
dan hanya jemarimu yang menetas tersibak
dari angan pada kenanganku
diam-diam kusergap jemarimu
seluruh penjuru pintu mengerang
menahan jerit peluh
akupun jadi akar
menjalar ke belukar
membawa airmu yang membual
ke seluruh sendi rinduku
meski akar dan rindu
tak mengenal sungaimu
Yogyakarta, 2008
ISOHIET
sebelum tumbuh menjadi angan
darahmu menulis sajak
serupa garis tertuju pada rusukku
aku baca warnamu
seperti menyuruhku menyibak air mata
melupakan gemuruh hujan
akupun baca matamu
seperti mengajakku mengeja kata
untuk mencipta suara
aku baca juga garis-garismu
seperti jerit jantung yang memanggilku
lalu aku menghampirimu
menyaksikan tarianmu
diantara tulang-tulang rusukku
:lekuk tubuhmu meledakkan isi kamarku
tempat aku menggali rindu
Yogyakarta, 2008
NAMAKU AYAT
namaku ayat
pasi seperti mayat
ayatku bukanlah ayat yang aku baca
yang aku baca adalah hayat
hayat adalah ayatku
seperti langit dan laut
ia baca dirinya sendiri
ayatku bukanlah namaku
namaku hanya memilih namanya
bukan ayat yang memilih hayat
ayatku membaur dalam nama
hayatnya terpisah dari ayat
maka namaku tak seperti hayatku
ia lebih seperti kabut dan gelombang
lupa baca dirinya sendiri
Yogyakarta, 2008
INSTRUMENTALIA
KAMPUNG HALAMAN
pagi ini sinar menjagakanku
terjaga dari hiruk pikuk mata
ada yang beda dari hari kemarin
tapi aku rasa tak asing bagiku
sebab embun pagi ini
seperti pernah hinggap mencipta sejarah
bagaimana kerinduan pada sunyi seketika luluh
ketika gurat desir angin
menyapu tetumbuhan yang amat lirih
anganmu tentu akan terbawa tertawa
ketika sesak sesering mungkin memikat
dan tiba-tiba ia lucuti rasa gusar Selengkapnya....
20 May 2008
Kudengar Langkahmu,Sayang!
Vie……..aku menciptakan makan malam untuk kita lewat mimpi, lewat igau. Aku meraciknya dengan bumbu yang sebenarnya telah lama tersimpan di jantung. Biar lebih berselera, aku menaburkan butir-butir waktu dan ruang, dimana amat lama dan mungkin kau tak pernah merasakannya.
Vie……..maafkanlah aku, jika aku terlalu lancang untuk memberi suguhan yang tak pernah ada di hatimu. Sebab hatimu adalah air yang sejak dulu mengalir bersama helai rambutmu, kemudian menguap karena panasnya gejolak.
Sedang hatiku bukanlah air yang dulu kau idemkan, tapi udara yang akan melindungimu, merangkulmu, mengagumimu dan membawamu kemana saja. Sebab, makan malam nanti adalah epilog dari petualangan kita.
Layaknya permaisuri di istana, kau boleh mengajakku bersulang di balairung, lalu memberi makan ikan di taman, mengambil seberkas cahaya bintang sebagai sulam di matamu, setelah itu kita boleh mampir ke Firdaus memesan kamar pada jibril, dan kalau kau mau kita melihat misteri di gua, mandi di kolam remang-remang atau belajar terbang di pekarangan.
Vie……..tak terhitung aku telah membunuh perasaan ini. Namun, ia tetap mengalir dalam darahku. Betapa semua tak mempedulikanku terjatuh di paviliun yang sunyi. Tapi aku mencoba bertahan, karena aku adalah lelaki yang mencintai desir, tak boleh berkeluh dan menangis.
Aku terus berharap dan tetap mencintaimu. Menanti untuk mengalir ke darahku. Tapi sayang, kau lari berputar-putar di alur antara aku dan dia. Aku mulai sangsi dengan harapan.
Vie……..setiap langkahku adalah untuk mengejar hidup. Mengejar sesuatu yang aku suka dan unik. Kutantang hidup, kutaklukkan hidup dan kemudian ia selalu bangkit untuk menantangku dengan beribu-ribu kecaman dan semacamnya. Namun demikian aku selalu menerima tantangan itu dalam pertempuran. Sebab aku mencintai hidup.
Kamu pasti mengira aku akan berakhir dan mati dalam pertempuran itu. Tapi sayang anggapanmu salah, sebab bayang-bayang masih menemaniku.
Sebenarnya aku rela mati dan mati yang kupilih diantara dilema, antara harus kubenci hidup dan mencintai orang selain dirimu.
Vie…….taukah? kau hidup itu.
Madure, Settong Maret 2008
Selengkapnya....
Vie……..aku menciptakan makan malam untuk kita lewat mimpi, lewat igau. Aku meraciknya dengan bumbu yang sebenarnya telah lama tersimpan di jantung. Biar lebih berselera, aku menaburkan butir-butir waktu dan ruang, dimana amat lama dan mungkin kau tak pernah merasakannya.
Vie……..maafkanlah aku, jika aku terlalu lancang untuk memberi suguhan yang tak pernah ada di hatimu. Sebab hatimu adalah air yang sejak dulu mengalir bersama helai rambutmu, kemudian menguap karena panasnya gejolak.
Sedang hatiku bukanlah air yang dulu kau idemkan, tapi udara yang akan melindungimu, merangkulmu, mengagumimu dan membawamu kemana saja. Sebab, makan malam nanti adalah epilog dari petualangan kita.
Layaknya permaisuri di istana, kau boleh mengajakku bersulang di balairung, lalu memberi makan ikan di taman, mengambil seberkas cahaya bintang sebagai sulam di matamu, setelah itu kita boleh mampir ke Firdaus memesan kamar pada jibril, dan kalau kau mau kita melihat misteri di gua, mandi di kolam remang-remang atau belajar terbang di pekarangan.
Vie……..tak terhitung aku telah membunuh perasaan ini. Namun, ia tetap mengalir dalam darahku. Betapa semua tak mempedulikanku terjatuh di paviliun yang sunyi. Tapi aku mencoba bertahan, karena aku adalah lelaki yang mencintai desir, tak boleh berkeluh dan menangis.
Aku terus berharap dan tetap mencintaimu. Menanti untuk mengalir ke darahku. Tapi sayang, kau lari berputar-putar di alur antara aku dan dia. Aku mulai sangsi dengan harapan.
Vie……..setiap langkahku adalah untuk mengejar hidup. Mengejar sesuatu yang aku suka dan unik. Kutantang hidup, kutaklukkan hidup dan kemudian ia selalu bangkit untuk menantangku dengan beribu-ribu kecaman dan semacamnya. Namun demikian aku selalu menerima tantangan itu dalam pertempuran. Sebab aku mencintai hidup.
Kamu pasti mengira aku akan berakhir dan mati dalam pertempuran itu. Tapi sayang anggapanmu salah, sebab bayang-bayang masih menemaniku.
Sebenarnya aku rela mati dan mati yang kupilih diantara dilema, antara harus kubenci hidup dan mencintai orang selain dirimu.
Vie…….taukah? kau hidup itu.
Madure, Settong Maret 2008
Selengkapnya....
16 May 2008
saj@k Dauz Ezavaldo
Hujan di Pagi Hari:
untuk Safitri
kematianku yang lalu lalang tadi malam
penuh berigsut, sayang
pagi ini sunyi juga mencekal
tapi tiba-tiba sungai mengalir deras
ketika rambutmu terurai gerimis
tebingpun runtuh
semua kilat berpijar hingga ke kamar
menyibak sajak-sajak yang tersembunyi
semua benda terasa pucat
kata-kata yang tersingkap menjadi lenting
tapi hanya sebentar
dan aku rasa mereka juga telah siuman
seperti perawan yang kedua kalinya
engkaupun tentu merasa apa yang kau igaukan semalam
sebab, pagi ini ada isyarat warna hujan yang kau lukis
seperti kau lukis warna kemarau
seperti puisiku yang menghitung rintik-rintik hujan
aku sentuh warnamu
ada yang basah, ada yang gelisah
ia bergetar menaiki desahku
akhirnya, kudekap warnamu
Yogyakarta, 2008
Riwayat Sajak
sebelum kulempar bersama khayal
puisi adalah alur secepat kilat
mengalir seperti air
ia bersemayam dan beranak pinak
dalam hiruk pikuk laut
yang ombaknya sering berlawanan
ketika ikan-ikan sekarat
segera kutulis kematian
sebelum kematian menulisku
dan segera kutulis kematianku
matilah ia dan tak menemukan tema
tentang wajahku yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
seperti seniman, apa yang harus ia lukis dari wajahku
yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
kau pelajari saja puisiku
jangan sampai ada pertanyaan
sebab aku tak cukup punya kata
bahkan untuk memanggilmu saja
Yogyakarta, 2007
Hikayat Sepasang Baju
seperti untai yang belum diucap
ada risih tersulam senyap:
kita memilih putih
seperti busur panah
membidik titik yang amat tengah:
kita adalah arah
mencipta sudut yang sama
tanpa kata, sebab kita mengerti
sebab kita berdetak di satu alur
lebur membaur dalam kapur
Yogyakarta, 2008
Malam Yang Lain
masih kugenggam aroma tubuh menjelang tidurku
bekas sentuhan bibirmu yang baru aku kenal.
dan masih aku ingat berpuluh bibir lain meresap dalam puisi
padanya kutemukan goncanagan-goncanagan cengang yang asing
aku simpan raungnya agar aku bisa membedakan
getar dan getir
sebelum bibir lain meledakkan diksi baru
tapi aku lupa memandang wajahmu
bagaimana daris-daris mengiris lidah
yang akhirnya ia mencipta kerinduan
tanpa aku sadari
dan kerinduanku menuang seluruh makna cinta
nafas menjadi gelombang
sebagai hirup melacak bau parfummu
mungkin juga jejak sepatumu
Yogyakarta, 2008
Awal Percakapan
senyummu yang sunyi aku ayun tergesa
kau sunyi, aku cari
aku buang, kau cengang
berteduh dalam ruang kita amat merindukan
untuk menikmatinya
hanya saja pagi terlalu jauh
bahkan malu untuk menyatakan
bahwa kita akan mencari dan menanti
sebersit embun
untuk kita tuang kedalam ceruk
kau aku harus jaga dari diam
dari siang yang tertegun
lalu berdiskusi tentang malam dan menjagakannya
dan kita bisa diam-diam
lari mencari pagi yang kita pilih
pagi yang tersembunyi
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
untuk Safitri
kematianku yang lalu lalang tadi malam
penuh berigsut, sayang
pagi ini sunyi juga mencekal
tapi tiba-tiba sungai mengalir deras
ketika rambutmu terurai gerimis
tebingpun runtuh
semua kilat berpijar hingga ke kamar
menyibak sajak-sajak yang tersembunyi
semua benda terasa pucat
kata-kata yang tersingkap menjadi lenting
tapi hanya sebentar
dan aku rasa mereka juga telah siuman
seperti perawan yang kedua kalinya
engkaupun tentu merasa apa yang kau igaukan semalam
sebab, pagi ini ada isyarat warna hujan yang kau lukis
seperti kau lukis warna kemarau
seperti puisiku yang menghitung rintik-rintik hujan
aku sentuh warnamu
ada yang basah, ada yang gelisah
ia bergetar menaiki desahku
akhirnya, kudekap warnamu
Yogyakarta, 2008
Riwayat Sajak
sebelum kulempar bersama khayal
puisi adalah alur secepat kilat
mengalir seperti air
ia bersemayam dan beranak pinak
dalam hiruk pikuk laut
yang ombaknya sering berlawanan
ketika ikan-ikan sekarat
segera kutulis kematian
sebelum kematian menulisku
dan segera kutulis kematianku
matilah ia dan tak menemukan tema
tentang wajahku yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
seperti seniman, apa yang harus ia lukis dari wajahku
yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
kau pelajari saja puisiku
jangan sampai ada pertanyaan
sebab aku tak cukup punya kata
bahkan untuk memanggilmu saja
Yogyakarta, 2007
Hikayat Sepasang Baju
seperti untai yang belum diucap
ada risih tersulam senyap:
kita memilih putih
seperti busur panah
membidik titik yang amat tengah:
kita adalah arah
mencipta sudut yang sama
tanpa kata, sebab kita mengerti
sebab kita berdetak di satu alur
lebur membaur dalam kapur
Yogyakarta, 2008
Malam Yang Lain
masih kugenggam aroma tubuh menjelang tidurku
bekas sentuhan bibirmu yang baru aku kenal.
dan masih aku ingat berpuluh bibir lain meresap dalam puisi
padanya kutemukan goncanagan-goncanagan cengang yang asing
aku simpan raungnya agar aku bisa membedakan
getar dan getir
sebelum bibir lain meledakkan diksi baru
tapi aku lupa memandang wajahmu
bagaimana daris-daris mengiris lidah
yang akhirnya ia mencipta kerinduan
tanpa aku sadari
dan kerinduanku menuang seluruh makna cinta
nafas menjadi gelombang
sebagai hirup melacak bau parfummu
mungkin juga jejak sepatumu
Yogyakarta, 2008
Awal Percakapan
senyummu yang sunyi aku ayun tergesa
kau sunyi, aku cari
aku buang, kau cengang
berteduh dalam ruang kita amat merindukan
untuk menikmatinya
hanya saja pagi terlalu jauh
bahkan malu untuk menyatakan
bahwa kita akan mencari dan menanti
sebersit embun
untuk kita tuang kedalam ceruk
kau aku harus jaga dari diam
dari siang yang tertegun
lalu berdiskusi tentang malam dan menjagakannya
dan kita bisa diam-diam
lari mencari pagi yang kita pilih
pagi yang tersembunyi
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
Subscribe to:
Posts (Atom)




