SURAT KEPADA ALJABAR,
TENTANG SENJA DAN LAUT
selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
masih belum bisa kutata menjadi angka
masih sepi untuk lahirnya carik-carik trigonometri
sebab jari-jari adalah hitungan angka yang bisa terbagi
dan cahaya adalah secepat kilat yang tak terbatas
bisa ganda dan terbagi
seperti air yang mengalir
berkali-kali dingin menjelma linear dan kudrat
tubuhku telanjang di tengah belantara kamarku
dan kerinduaku akan bajumu sering menggelinding
seperti elips, seperti kerucut dan piramida
membentuk persegi di kepala
selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
sesekali menyuruhku meminjam bayang-bayang temanmu
seperti Pascal,Newton,dan Pytagoras
aku manut pada kata-katamu
hingga aku menemukan kehidupan yang hidup
dengan belantara yang menjelma kalkulus,dan sin,cos,tan
lalu kuhitung angka demi angka
menata dan memadatkannya dengan menyerap energi belantara
agar aku bisa mendirikan menara pada tubuhku
(Yogyakarta,17-05-2008)




