Selengkapnya....
14 March 2008
12 March 2008
sajak_march
[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*
Riyupita II
ketika lampu-lampu di kamarmu berganti kunang-kunang
aku berjalan ke arah sunyi yang paling jauh
tapi pada samar subuh
aku mendengar igaumu berkeluh
tak perlu kau peras perih mata
bila tak ada kabut di luar jendela
tak perlu kau paksa sembunyi di celah mimpi
bila dingin saling merembes ke sumsum kita
geliatmu menanarkan sajakku
sulit merenggut kata-kata apa yang patut
agar aku bisa menamainya sesuatu
ketika terang tanah kau menggeliat bangun
bersijingkat ke serambi rumah
membuka dan menutup pintu kembali
tanpa menyisakan wangi tubuh
sajakku makin nanar
terbang tanpa dendang
Yogyakarta, 2008
Engkaulah Yang Berisik
engkaulah yang berisik di setiap tepian jalan
merintih panjang di sampingku
seakan tak ada cenung sampai menceruh
habis tergerubuti rintih
akuilah demi tidurmu
bahwa liar adalah lapar
dan kau merindukan berebah di pangkuan
dimana anak-anak menukar sedu jadi senyum
akuilah demi perancukan
kemarin adalah air mata yang menjelma sepi
menumpaskan perawanmu
tapi kini adalah musim hujan
yang akan mengguyur perempuanmu ke muara
lalu ke laut yang menjelma diriku
Yogyakarta, 2008
Kubaca Tubuhmu
:ita
semua geliat laut seperti tubuh mengabu
apa yang berdesir dan gemetar
adalah riakriak yang teratur
yang menyurup tangan mencipta lagu
kadang perih kadang nikmat
aku menamainya melodi
sebab ia cukup punya kata
untuk menulis gelap dan terang
aku mengambilnya dari celah yang amat tersembunyi
sembunyi dari pengintipan orangorang
airnya tercipta dari embun
yang tak sempat terserap oleh matahari
lalu kutepis hujan dari pandangannya
agar embun tetaplah embun
ombaknya adalah desir ibu pertiwi
banyak ketulusan dan kedamaian
maka aku berlayar disana
Perempuanku
semacam perintah:
sebelum kamu, kata-katanya menggumpal di udara
sebagai janji yang terus terpajang setiap keluar dan masuk rumah.
di jantungnya sekobar api menyala bara
tapi keburu beku oleh hempasan palung angin
bibirnya pucat meremas payudara
segalanya terasa percuma: istri pendosa yang tak pernah menyalakan tungkuh, ramai dalam pawai tanpa belai
semacam manut:
aku pulang untuk menyapamu dengan sajak-sajak cinta
serta seberkas kado berpita merah hati
ada juga kolam dimana kami dan kau bebas menyelam perasaan
yang amat curam
dan sebebas burung berteriak mengisyaratkan euphoria
tak perlu sedu sedan tentang siapa yang menyalakan tungkuh
sebab aku membawa gurat-gurat wajah yang amat kau kenal
dan butuh dikenal
agar kau tahu bahwa akupun bisa membuatmu tersenyum
Sebelum Mengalir Kedalam Sajakku
lalu gemetar meraut sajak
dan kau baca dengan mengejanya
dengan kupegang sinar matahari
yang akan menghangatkan anak-anak besok
atau sampai tak terbatas
aku hanya meracik kata-kata
yang semi di parasmu
ya, hanya itu saja yang menggelitik
sebab tak ada sesuatu di sekitar
bahkan sulit kujelaskan
siapakah aku yang meracik kata-kata
dari parasmu
ini kali, tak usah sekali-kali merasai lagi
geletar hangat tubuh lelakimu
sebab, sesering kata-kataku akan menetes
ditebing-tebing rumahmu
Pada Ain dan Nun
apa yang terlihat adalah gelitik
mencubit jemari dan mencungkil curam mata
apa yang tersentuh adalah sunyi yang bising
dan bising yang sunyi,
lalu apa yang kau pilih?
sunyi dan bising adalah ruh
pada laut dan debu
yang harus kau reguk salah satunya
Animo
malam ini,
aku ingin sekali meninggalkan ciuman
pada kalimat-kalimat yang ditumbuhi embun
sebagai awal dari perancukan
menjauhi lelap yang mencipta igau
yang begitu tak setia berdampingan seperti kesedihan
yang memurungkan rumah kita
malam ini,
aku ingin mencari nafasmu yang hilang
berpisah jauh dirampas hujan
hujan yang telah lama menggigil pucat
aku hanya memberimu kepastian
bahwa kau ditidurkan oleh rindu dan kenangan
Kekasih Wajah
kau lucuti wajahmu kemarin
daripada mengelupas lagi
seperti kau mencium tanganku
tanpa deru rintih
bagai tersengat akupun teringat
seseorang sepertiku amat memikat
justru kau dekat
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
Iqro' eL. Firdauz*
Riyupita II
ketika lampu-lampu di kamarmu berganti kunang-kunang
aku berjalan ke arah sunyi yang paling jauh
tapi pada samar subuh
aku mendengar igaumu berkeluh
tak perlu kau peras perih mata
bila tak ada kabut di luar jendela
tak perlu kau paksa sembunyi di celah mimpi
bila dingin saling merembes ke sumsum kita
geliatmu menanarkan sajakku
sulit merenggut kata-kata apa yang patut
agar aku bisa menamainya sesuatu
ketika terang tanah kau menggeliat bangun
bersijingkat ke serambi rumah
membuka dan menutup pintu kembali
tanpa menyisakan wangi tubuh
sajakku makin nanar
terbang tanpa dendang
Yogyakarta, 2008
Engkaulah Yang Berisik
engkaulah yang berisik di setiap tepian jalan
merintih panjang di sampingku
seakan tak ada cenung sampai menceruh
habis tergerubuti rintih
akuilah demi tidurmu
bahwa liar adalah lapar
dan kau merindukan berebah di pangkuan
dimana anak-anak menukar sedu jadi senyum
akuilah demi perancukan
kemarin adalah air mata yang menjelma sepi
menumpaskan perawanmu
tapi kini adalah musim hujan
yang akan mengguyur perempuanmu ke muara
lalu ke laut yang menjelma diriku
Yogyakarta, 2008
Kubaca Tubuhmu
:ita
semua geliat laut seperti tubuh mengabu
apa yang berdesir dan gemetar
adalah riakriak yang teratur
yang menyurup tangan mencipta lagu
kadang perih kadang nikmat
aku menamainya melodi
sebab ia cukup punya kata
untuk menulis gelap dan terang
aku mengambilnya dari celah yang amat tersembunyi
sembunyi dari pengintipan orangorang
airnya tercipta dari embun
yang tak sempat terserap oleh matahari
lalu kutepis hujan dari pandangannya
agar embun tetaplah embun
ombaknya adalah desir ibu pertiwi
banyak ketulusan dan kedamaian
maka aku berlayar disana
Perempuanku
semacam perintah:
sebelum kamu, kata-katanya menggumpal di udara
sebagai janji yang terus terpajang setiap keluar dan masuk rumah.
di jantungnya sekobar api menyala bara
tapi keburu beku oleh hempasan palung angin
bibirnya pucat meremas payudara
segalanya terasa percuma: istri pendosa yang tak pernah menyalakan tungkuh, ramai dalam pawai tanpa belai
semacam manut:
aku pulang untuk menyapamu dengan sajak-sajak cinta
serta seberkas kado berpita merah hati
ada juga kolam dimana kami dan kau bebas menyelam perasaan
yang amat curam
dan sebebas burung berteriak mengisyaratkan euphoria
tak perlu sedu sedan tentang siapa yang menyalakan tungkuh
sebab aku membawa gurat-gurat wajah yang amat kau kenal
dan butuh dikenal
agar kau tahu bahwa akupun bisa membuatmu tersenyum
Sebelum Mengalir Kedalam Sajakku
lalu gemetar meraut sajak
dan kau baca dengan mengejanya
dengan kupegang sinar matahari
yang akan menghangatkan anak-anak besok
atau sampai tak terbatas
aku hanya meracik kata-kata
yang semi di parasmu
ya, hanya itu saja yang menggelitik
sebab tak ada sesuatu di sekitar
bahkan sulit kujelaskan
siapakah aku yang meracik kata-kata
dari parasmu
ini kali, tak usah sekali-kali merasai lagi
geletar hangat tubuh lelakimu
sebab, sesering kata-kataku akan menetes
ditebing-tebing rumahmu
Pada Ain dan Nun
apa yang terlihat adalah gelitik
mencubit jemari dan mencungkil curam mata
apa yang tersentuh adalah sunyi yang bising
dan bising yang sunyi,
lalu apa yang kau pilih?
sunyi dan bising adalah ruh
pada laut dan debu
yang harus kau reguk salah satunya
Animo
malam ini,
aku ingin sekali meninggalkan ciuman
pada kalimat-kalimat yang ditumbuhi embun
sebagai awal dari perancukan
menjauhi lelap yang mencipta igau
yang begitu tak setia berdampingan seperti kesedihan
yang memurungkan rumah kita
malam ini,
aku ingin mencari nafasmu yang hilang
berpisah jauh dirampas hujan
hujan yang telah lama menggigil pucat
aku hanya memberimu kepastian
bahwa kau ditidurkan oleh rindu dan kenangan
Kekasih Wajah
kau lucuti wajahmu kemarin
daripada mengelupas lagi
seperti kau mencium tanganku
tanpa deru rintih
bagai tersengat akupun teringat
seseorang sepertiku amat memikat
justru kau dekat
Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....
04 March 2008
[ Sajak-Sajak ]
Iqro’ eL. Firdauz*
: Rini Yuspita
Bonanza
aku membayangkan segalanya manut
tak ada pertanyaan,hingga kita selalu berpasangan
sekalipun tak saling sentuh
bayangan itu benar-benar datang
meruntut rantai patah-patah
hinggap pada labirin
jatuh pada jantung yang kering
aku menemukan hidup
pada hidupmu kutemukan
yang telah kukenal dengan denyut
engkau pulang untuk menemuiku
merekatkan tubuhmu
meski jejak-jejak sandalmu kau hilangkan diam-diam
agar tak ada euforia di kedalaman jantungku
bisikku lambat kau dengar,
peganganmu yang erat perlahan kau lepaskan
untuk menyambut jemariku
dengan denyut yang sebenarnya untukku
Yogyakarta, 2008
Menyambut Hening
: yang telah kuciptakan dari kata-kata
kuambil huruf-hurufnya dari sumsum yang ranum
kau baca untukku
kutulis untukmu
dulu adalah serpihan kata
yang pucat dan menggigilkan
tapi terpaksa kutulis lewat paragraf hiperbola
kutulis untuk kupoles
o, mengapa perempuan-perempuanku
berlenggang seperti paduan suara
tanpa kuberi isyarat
tanpa kupandu
Yogyakarta, 2008
Mengendusmu Dari Langit
sayat suaramu makin kupastikan
betapa setia kau cuci anak-anakmu
betapa setia kau elus lakimu dengan namamu
yang tertanam di payudara
sekarang makin kumengerti
engkau demikian mencintai hujan
maka aku mengirimmu hujan di persimpangan
untuk menyuntingmu
dan kau bisa mencintaiku
engkau mencintai sebuah musim hujan
aku mengajakmu keluar ruangan diam-diam
tiba-tiba kita telah basah
saling suap mimpi mendung
sebelum ranum menjadi hujan
Yogyakarta, 2008
Lalu Kau Mandi
:ita
lalu kau mandi
dalam perjamuan
dalam percakapan
selesai suntuk
kudengar titahmu yang lain
padahal telah kusiapkan altar
pada titahmu yang pertama
juga balairung
agar sarapan pagi amat teduh
ketika aku disampingmu
lalu kau mandi
setelah persetubuhan kita
menyibak sesuatu
di tengah-tengah tatapan kita
Yogyakarta, 2008
Segalanya Terasa Mungkin Membiru
percakapan ini memeluh nanar,sayang
harus kunamai apa musim yang sebenarnya ini
tiba-tiba ada hujan di kepala
sebentar terganti sebuah kegosongan
yang menderai deru
tahukah siapa yang memberi hujan
pahamkah siapa yang mengirim oase
hingga terasa kering
amat kering
aku tak bisa mencintaimu
juga membencimu
aku membencimu untuk kucintai
aku mencintaimu dengan kebencianku
mencintaimu dengan denyutku
membencimu dengan kulitku
Yogyakarta, 2008
Sebenarnya Kau Tak Ada
ada aku
ada kau
ada aku
tak ada kau
tak ada kau
kau terus tak ada
aku ada
sebenarnya tak ada kau
ketika aku harus ada
Yogyakarta, 2008
Selengkapnya....
Iqro’ eL. Firdauz*
: Rini Yuspita
Bonanza
aku membayangkan segalanya manut
tak ada pertanyaan,hingga kita selalu berpasangan
sekalipun tak saling sentuh
bayangan itu benar-benar datang
meruntut rantai patah-patah
hinggap pada labirin
jatuh pada jantung yang kering
aku menemukan hidup
pada hidupmu kutemukan
yang telah kukenal dengan denyut
engkau pulang untuk menemuiku
merekatkan tubuhmu
meski jejak-jejak sandalmu kau hilangkan diam-diam
agar tak ada euforia di kedalaman jantungku
bisikku lambat kau dengar,
peganganmu yang erat perlahan kau lepaskan
untuk menyambut jemariku
dengan denyut yang sebenarnya untukku
Yogyakarta, 2008
Menyambut Hening
: yang telah kuciptakan dari kata-kata
kuambil huruf-hurufnya dari sumsum yang ranum
kau baca untukku
kutulis untukmu
dulu adalah serpihan kata
yang pucat dan menggigilkan
tapi terpaksa kutulis lewat paragraf hiperbola
kutulis untuk kupoles
o, mengapa perempuan-perempuanku
berlenggang seperti paduan suara
tanpa kuberi isyarat
tanpa kupandu
Yogyakarta, 2008
Mengendusmu Dari Langit
sayat suaramu makin kupastikan
betapa setia kau cuci anak-anakmu
betapa setia kau elus lakimu dengan namamu
yang tertanam di payudara
sekarang makin kumengerti
engkau demikian mencintai hujan
maka aku mengirimmu hujan di persimpangan
untuk menyuntingmu
dan kau bisa mencintaiku
engkau mencintai sebuah musim hujan
aku mengajakmu keluar ruangan diam-diam
tiba-tiba kita telah basah
saling suap mimpi mendung
sebelum ranum menjadi hujan
Yogyakarta, 2008
Lalu Kau Mandi
:ita
lalu kau mandi
dalam perjamuan
dalam percakapan
selesai suntuk
kudengar titahmu yang lain
padahal telah kusiapkan altar
pada titahmu yang pertama
juga balairung
agar sarapan pagi amat teduh
ketika aku disampingmu
lalu kau mandi
setelah persetubuhan kita
menyibak sesuatu
di tengah-tengah tatapan kita
Yogyakarta, 2008
Segalanya Terasa Mungkin Membiru
percakapan ini memeluh nanar,sayang
harus kunamai apa musim yang sebenarnya ini
tiba-tiba ada hujan di kepala
sebentar terganti sebuah kegosongan
yang menderai deru
tahukah siapa yang memberi hujan
pahamkah siapa yang mengirim oase
hingga terasa kering
amat kering
aku tak bisa mencintaimu
juga membencimu
aku membencimu untuk kucintai
aku mencintaimu dengan kebencianku
mencintaimu dengan denyutku
membencimu dengan kulitku
Yogyakarta, 2008
Sebenarnya Kau Tak Ada
ada aku
ada kau
ada aku
tak ada kau
tak ada kau
kau terus tak ada
aku ada
sebenarnya tak ada kau
ketika aku harus ada
Yogyakarta, 2008
Selengkapnya....
Subscribe to:
Posts (Atom)




