04 March 2008


[ Sajak-Sajak ]

Iqro’ eL. Firdauz*
: Rini Yuspita


Bonanza


aku membayangkan segalanya manut
tak ada pertanyaan,hingga kita selalu berpasangan
sekalipun tak saling sentuh

bayangan itu benar-benar datang
meruntut rantai patah-patah
hinggap pada labirin
jatuh pada jantung yang kering

aku menemukan hidup
pada hidupmu kutemukan
yang telah kukenal dengan denyut

engkau pulang untuk menemuiku
merekatkan tubuhmu
meski jejak-jejak sandalmu kau hilangkan diam-diam
agar tak ada euforia di kedalaman jantungku

bisikku lambat kau dengar,
peganganmu yang erat perlahan kau lepaskan
untuk menyambut jemariku
dengan denyut yang sebenarnya untukku

Yogyakarta, 2008


Menyambut Hening

: yang telah kuciptakan dari kata-kata
kuambil huruf-hurufnya dari sumsum yang ranum

kau baca untukku
kutulis untukmu

dulu adalah serpihan kata
yang pucat dan menggigilkan
tapi terpaksa kutulis lewat paragraf hiperbola

kutulis untuk kupoles
o, mengapa perempuan-perempuanku
berlenggang seperti paduan suara
tanpa kuberi isyarat
tanpa kupandu

Yogyakarta, 2008



Mengendusmu Dari Langit

sayat suaramu makin kupastikan
betapa setia kau cuci anak-anakmu
betapa setia kau elus lakimu dengan namamu
yang tertanam di payudara

sekarang makin kumengerti
engkau demikian mencintai hujan
maka aku mengirimmu hujan di persimpangan
untuk menyuntingmu
dan kau bisa mencintaiku

engkau mencintai sebuah musim hujan
aku mengajakmu keluar ruangan diam-diam
tiba-tiba kita telah basah
saling suap mimpi mendung
sebelum ranum menjadi hujan

Yogyakarta, 2008



Lalu Kau Mandi

:ita

lalu kau mandi
dalam perjamuan
dalam percakapan

selesai suntuk
kudengar titahmu yang lain
padahal telah kusiapkan altar
pada titahmu yang pertama

juga balairung
agar sarapan pagi amat teduh
ketika aku disampingmu

lalu kau mandi
setelah persetubuhan kita
menyibak sesuatu
di tengah-tengah tatapan kita

Yogyakarta, 2008



Segalanya Terasa Mungkin Membiru

percakapan ini memeluh nanar,sayang
harus kunamai apa musim yang sebenarnya ini

tiba-tiba ada hujan di kepala
sebentar terganti sebuah kegosongan
yang menderai deru

tahukah siapa yang memberi hujan
pahamkah siapa yang mengirim oase
hingga terasa kering
amat kering

aku tak bisa mencintaimu
juga membencimu

aku membencimu untuk kucintai
aku mencintaimu dengan kebencianku
mencintaimu dengan denyutku
membencimu dengan kulitku

Yogyakarta, 2008



Sebenarnya Kau Tak Ada

ada aku
ada kau

ada aku
tak ada kau

tak ada kau
kau terus tak ada
aku ada

sebenarnya tak ada kau
ketika aku harus ada

Yogyakarta, 2008


 

Ruangnya Ruang. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com