[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*
Riyupita II
ketika lampu-lampu di kamarmu berganti kunang-kunang
aku berjalan ke arah sunyi yang paling jauh
tapi pada samar subuh
aku mendengar igaumu berkeluh
tak perlu kau peras perih mata
bila tak ada kabut di luar jendela
tak perlu kau paksa sembunyi di celah mimpi
bila dingin saling merembes ke sumsum kita
geliatmu menanarkan sajakku
sulit merenggut kata-kata apa yang patut
agar aku bisa menamainya sesuatu
ketika terang tanah kau menggeliat bangun
bersijingkat ke serambi rumah
membuka dan menutup pintu kembali
tanpa menyisakan wangi tubuh
sajakku makin nanar
terbang tanpa dendang
Yogyakarta, 2008
Engkaulah Yang Berisik
engkaulah yang berisik di setiap tepian jalan
merintih panjang di sampingku
seakan tak ada cenung sampai menceruh
habis tergerubuti rintih
akuilah demi tidurmu
bahwa liar adalah lapar
dan kau merindukan berebah di pangkuan
dimana anak-anak menukar sedu jadi senyum
akuilah demi perancukan
kemarin adalah air mata yang menjelma sepi
menumpaskan perawanmu
tapi kini adalah musim hujan
yang akan mengguyur perempuanmu ke muara
lalu ke laut yang menjelma diriku
Yogyakarta, 2008
Kubaca Tubuhmu
:ita
semua geliat laut seperti tubuh mengabu
apa yang berdesir dan gemetar
adalah riakriak yang teratur
yang menyurup tangan mencipta lagu
kadang perih kadang nikmat
aku menamainya melodi
sebab ia cukup punya kata
untuk menulis gelap dan terang
aku mengambilnya dari celah yang amat tersembunyi
sembunyi dari pengintipan orangorang
airnya tercipta dari embun
yang tak sempat terserap oleh matahari
lalu kutepis hujan dari pandangannya
agar embun tetaplah embun
ombaknya adalah desir ibu pertiwi
banyak ketulusan dan kedamaian
maka aku berlayar disana
Perempuanku
semacam perintah:
sebelum kamu, kata-katanya menggumpal di udara
sebagai janji yang terus terpajang setiap keluar dan masuk rumah.
di jantungnya sekobar api menyala bara
tapi keburu beku oleh hempasan palung angin
bibirnya pucat meremas payudara
segalanya terasa percuma: istri pendosa yang tak pernah menyalakan tungkuh, ramai dalam pawai tanpa belai
semacam manut:
aku pulang untuk menyapamu dengan sajak-sajak cinta
serta seberkas kado berpita merah hati
ada juga kolam dimana kami dan kau bebas menyelam perasaan
yang amat curam
dan sebebas burung berteriak mengisyaratkan euphoria
tak perlu sedu sedan tentang siapa yang menyalakan tungkuh
sebab aku membawa gurat-gurat wajah yang amat kau kenal
dan butuh dikenal
agar kau tahu bahwa akupun bisa membuatmu tersenyum
Sebelum Mengalir Kedalam Sajakku
lalu gemetar meraut sajak
dan kau baca dengan mengejanya
dengan kupegang sinar matahari
yang akan menghangatkan anak-anak besok
atau sampai tak terbatas
aku hanya meracik kata-kata
yang semi di parasmu
ya, hanya itu saja yang menggelitik
sebab tak ada sesuatu di sekitar
bahkan sulit kujelaskan
siapakah aku yang meracik kata-kata
dari parasmu
ini kali, tak usah sekali-kali merasai lagi
geletar hangat tubuh lelakimu
sebab, sesering kata-kataku akan menetes
ditebing-tebing rumahmu
Pada Ain dan Nun
apa yang terlihat adalah gelitik
mencubit jemari dan mencungkil curam mata
apa yang tersentuh adalah sunyi yang bising
dan bising yang sunyi,
lalu apa yang kau pilih?
sunyi dan bising adalah ruh
pada laut dan debu
yang harus kau reguk salah satunya
Animo
malam ini,
aku ingin sekali meninggalkan ciuman
pada kalimat-kalimat yang ditumbuhi embun
sebagai awal dari perancukan
menjauhi lelap yang mencipta igau
yang begitu tak setia berdampingan seperti kesedihan
yang memurungkan rumah kita
malam ini,
aku ingin mencari nafasmu yang hilang
berpisah jauh dirampas hujan
hujan yang telah lama menggigil pucat
aku hanya memberimu kepastian
bahwa kau ditidurkan oleh rindu dan kenangan
Kekasih Wajah
kau lucuti wajahmu kemarin
daripada mengelupas lagi
seperti kau mencium tanganku
tanpa deru rintih
bagai tersengat akupun teringat
seseorang sepertiku amat memikat
justru kau dekat
Yogyakarta, 2008




