12 March 2008

sajak_march


[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*


Riyupita II

ketika lampu-lampu di kamarmu berganti kunang-kunang
aku berjalan ke arah sunyi yang paling jauh
tapi pada samar subuh
aku mendengar igaumu berkeluh

tak perlu kau peras perih mata
bila tak ada kabut di luar jendela
tak perlu kau paksa sembunyi di celah mimpi
bila dingin saling merembes ke sumsum kita

geliatmu menanarkan sajakku
sulit merenggut kata-kata apa yang patut
agar aku bisa menamainya sesuatu

ketika terang tanah kau menggeliat bangun
bersijingkat ke serambi rumah
membuka dan menutup pintu kembali
tanpa menyisakan wangi tubuh

sajakku makin nanar
terbang tanpa dendang

Yogyakarta, 2008


Engkaulah Yang Berisik


engkaulah yang berisik di setiap tepian jalan
merintih panjang di sampingku
seakan tak ada cenung sampai menceruh
habis tergerubuti rintih

akuilah demi tidurmu
bahwa liar adalah lapar
dan kau merindukan berebah di pangkuan
dimana anak-anak menukar sedu jadi senyum

akuilah demi perancukan
kemarin adalah air mata yang menjelma sepi
menumpaskan perawanmu
tapi kini adalah musim hujan
yang akan mengguyur perempuanmu ke muara
lalu ke laut yang menjelma diriku

Yogyakarta, 2008



Kubaca Tubuhmu
:ita

semua geliat laut seperti tubuh mengabu
apa yang berdesir dan gemetar
adalah riakriak yang teratur
yang menyurup tangan mencipta lagu
kadang perih kadang nikmat

aku menamainya melodi
sebab ia cukup punya kata
untuk menulis gelap dan terang
aku mengambilnya dari celah yang amat tersembunyi
sembunyi dari pengintipan orangorang

airnya tercipta dari embun
yang tak sempat terserap oleh matahari
lalu kutepis hujan dari pandangannya
agar embun tetaplah embun

ombaknya adalah desir ibu pertiwi
banyak ketulusan dan kedamaian
maka aku berlayar disana

Perempuanku

semacam perintah:
sebelum kamu, kata-katanya menggumpal di udara
sebagai janji yang terus terpajang setiap keluar dan masuk rumah.
di jantungnya sekobar api menyala bara
tapi keburu beku oleh hempasan palung angin
bibirnya pucat meremas payudara
segalanya terasa percuma: istri pendosa yang tak pernah menyalakan tungkuh, ramai dalam pawai tanpa belai

semacam manut:
aku pulang untuk menyapamu dengan sajak-sajak cinta
serta seberkas kado berpita merah hati

ada juga kolam dimana kami dan kau bebas menyelam perasaan
yang amat curam
dan sebebas burung berteriak mengisyaratkan euphoria

tak perlu sedu sedan tentang siapa yang menyalakan tungkuh
sebab aku membawa gurat-gurat wajah yang amat kau kenal
dan butuh dikenal
agar kau tahu bahwa akupun bisa membuatmu tersenyum



Sebelum Mengalir Kedalam Sajakku

lalu gemetar meraut sajak
dan kau baca dengan mengejanya

dengan kupegang sinar matahari
yang akan menghangatkan anak-anak besok
atau sampai tak terbatas
aku hanya meracik kata-kata
yang semi di parasmu
ya, hanya itu saja yang menggelitik
sebab tak ada sesuatu di sekitar
bahkan sulit kujelaskan
siapakah aku yang meracik kata-kata
dari parasmu

ini kali, tak usah sekali-kali merasai lagi
geletar hangat tubuh lelakimu
sebab, sesering kata-kataku akan menetes
ditebing-tebing rumahmu



Pada Ain dan Nun

apa yang terlihat adalah gelitik
mencubit jemari dan mencungkil curam mata

apa yang tersentuh adalah sunyi yang bising
dan bising yang sunyi,
lalu apa yang kau pilih?

sunyi dan bising adalah ruh
pada laut dan debu
yang harus kau reguk salah satunya



Animo

malam ini,
aku ingin sekali meninggalkan ciuman
pada kalimat-kalimat yang ditumbuhi embun
sebagai awal dari perancukan

menjauhi lelap yang mencipta igau
yang begitu tak setia berdampingan seperti kesedihan
yang memurungkan rumah kita

malam ini,
aku ingin mencari nafasmu yang hilang
berpisah jauh dirampas hujan
hujan yang telah lama menggigil pucat

aku hanya memberimu kepastian
bahwa kau ditidurkan oleh rindu dan kenangan



Kekasih Wajah

kau lucuti wajahmu kemarin
daripada mengelupas lagi
seperti kau mencium tanganku
tanpa deru rintih

bagai tersengat akupun teringat
seseorang sepertiku amat memikat
justru kau dekat

Yogyakarta, 2008

 

Ruangnya Ruang. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com