16 December 2009

Film Menculik Miyabi dan Kapitalisme


Oleh: Iqro’ Alfirdaus
Pelaksanaan UN (Ujian Nasioanl) 2009/2010 yang rencananya mau dimajukan tampaknya hanya akan mengulangi kesalahan tahun ajaran sebelumnya. Pada tahun ajaran 2008/2009, banyak siswa, guru dan orangtua merasa resah ketika mendapat informasi pelaksanaan ujian nasional (UN) dipercepat, sedangkan persiapan mereka belum matang dan materi pelajaran belum seluruhnya disampaikan kepada siswa (Kompas,17/10/08).
Pada tahun ajaran 2008/2009, UN wajar dipercepat karena dikhawatirkan bertabrakan dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) April 2009. Sementara pada UN 2010 mendatang, penyebab dimajukannya UN lebih cenderung terhadap adanya perubahan sistem, yaitu karena ada kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), yakni UN dilaksankan dua kali, yang terdiri dari UN utama dan UN ulangan. Dengan kata lain, Bagi siswa yang tidak lulus pada UN utama maka bisa mengulang pada UN tahap kedua.
Film yang berjudul Menculik Miyabi kalau sukses akan dirilis oleh Maxima Picture pada akhir tahun 2009 ini. Respon terhadap rencana film tersebut banyak menuai opini pro dan kontra di masyarakat. Juga ihwal kedatangannya ke Indonesia pada tanggal 15 oktober besok untuk memulai syuting. Kedatangannya pada bulan oktober ini menimbulkan reaksi serius dari berbagai pihak. Hal itu disebabkan karena salah seorang pemain dalam film itu merupakan bintang ternama dalam film syur yang telah go public di Jepang, Maria Ozawa.

Kedatangan Maria Ozawa atau yang populer dengan nama Miyabi ke Indonesia untuk syuting film Menculik Miyabi sebenarnya tak perlu ditanggapi secara paradoks dan parsial. Publik perlu menyikapinya secara out off box. Tegasnya, dalam memandang suatu persoalan tidak hanya pada satu sisi (monolitik), melainkan dari berbagai multidimensi.
Masalah film Menculik Miyabi esensinya berbicara masalah tokoh (peran). Karena latar belakang Miyabi itulah banyak mengundang kontroversi di masyarakat. Di sisi lain, masalah tersebut merupakan persoalan sihir bisnis. Insan perfilman tampaknya memanfaatkan kepopuleran Miyabi demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dan film tersebut akan laku atau bahkan laris di pasaran. Walaupun, dalam proses produksi film tersebut juga mengeluarkan biaya yang banyak, apalagi untuk mendatangkan bintang populer seperti Miyabi. Persoalan ini sebenarnya merupakan persoalan strategi.
Industri film memang industri yang padat modal. Di Indonesia, untuk membuat film dengan bahan baku 35 mm, diperlukan biaya sekitar 3-5 miliar, bahkan ada yang lebih, seperti film Ada Apa dengan Cinta (AAC) yang meghabiskan dana sekitar 10 miliar.
Menurut salah seorang produser sebuah PH (Production House), bisnis film di Indonesia adalah bisnis yang tidak visibel. Artinya, bisnis tersebut tidak menjanjikan dibandingkan dengan bisnis perbankan atau valas. Modal yang berputar tidak akan kembali dalam hitungan hari atau minggu, tetapi butuh waktu beberapa bulan bahkan tahunan. Akhirnya, industri film di Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang pemilik modal. Merekalah yang dengan sesuka hati membentuk persepsi masyarakat tentang nilai-nilai baik dan benar.

Ambivalen
Film Menculik Miyabi, selain mengundang pro dan kontra di masyarakat, ternyata juga menimbulkan sikap ambivalen sebagian orang. Satu sisi, realitas tersebut merupakan chaos bahwa kapitalisme menyusup di industri perfilman kita di Indonesia. Dan, tak dapat dielakkan jika industri film menjadi sirkuit produksi yang sangat subur dan strategis bagi kaum kapitalis.
Sedangkan di sisi lain, fenomena tersebut menunujukkan eksistensi daya kreativitas dan progresivitas dunia perfilman kita di Indonesia yang perlu diapresiasi. Akan tetapi, beban inilah yang seharusnya dipikul oleh industri film dan seluruh atmosfirnya seperti penulis skenario, sutradara dan produser. Mereka dituntut untuk menghasilkan film yang berkualitas, edukatif, kreatif dan memberikan sumbangsi konstruktif dalam mencerdaskan bangsa. Bukan justru menafikan unsur terpenting dalam sebuah film.
Hal tersebut menjadi penting karena, secara sadar atau tidak sebagian masyarakat kita sebenarnya telah terbiasa mengambil bagian dalam suatu tayangan film dan mereproduksi bahkan pengkultusan terhadapnya. Dan sangat riil, bahwa film memiliki daya yang mampu membius life style kelompok besar masyarakat yang mengonsumsinya. Hal yang membuat pengaruh film begitu kuat bagi masyarakat adalah karena ia terbangun dari sejumlah elemen penting, di antaranya adalah globalisasi, komunikasi, informasi, hiburan, dan komersialisme.
Implikasi sosialnya mampu melahirkan realitas trendsetter (pengkiblatan). Sebagai hasil ikutannya, aktor dan aktris film menjadi figur baru di tengah gempuran modernisasi. Kehadiran mereka di dunia film dengan berbagai life style yang dibawanya menginspirasi publik untuk berobsesi kehadiran mereka pula dalam kehidupan praktis sebagai model. Inilah realitas yang benar-benar nyata di masyarakat.
Sebab itulah keresahan dirasa muncul di masyarakat, seiring reaksi keras yang disampaikan MUI beberapa waktu lalu terhadap rencana film Menculik Miyabi. Akan tetapi, hal tersebut diharapkan menjadi cambuk bagi seluruh kru film dan atmosfirnya dalam menghasilkan karya film yang apresistif dan berbobot. Meskipun Citra Miyabi sebagai bintang film syur akan mendapat kesan destruktif di kalangan masyarakat dan efek negatif terhadap film tersebut, akan tetapi opini inilah yang diharapkan menjadi off the record dan mengalami perubahan persepsi ruang yang berbeda dari yang dikenal publik sebelumnya tentang Miyabi. Sehingga tidak akan menimbulkan trendsetter terhadap Miyabi dalam praksis realitas. Inilah yang seharusnya menjadi agenda utama industri film untuk diprioritaskan. Dengan tujuan untuk menunjukkan kepada publik sisi Miyabi yang berbeda.


Selengkapnya....

UN Dimajukan Bukan Solusi Ideal


Oleh: Iqro’ Alfirdaus
Pelaksanaan UN (Ujian Nasioanl) 2009/2010 yang rencananya mau dimajukan tampaknya hanya akan mengulangi kesalahan tahun ajaran sebelumnya. Pada tahun ajaran 2008/2009, banyak siswa, guru dan orangtua merasa resah ketika mendapat informasi pelaksanaan ujian nasional (UN) dipercepat, sedangkan persiapan mereka belum matang dan materi pelajaran belum seluruhnya disampaikan kepada siswa (Kompas,17/10/08).
Pada tahun ajaran 2008/2009, UN wajar dipercepat karena dikhawatirkan bertabrakan dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) April 2009. Sementara pada UN 2010 mendatang, penyebab dimajukannya UN lebih cenderung terhadap adanya perubahan sistem, yaitu karena ada kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), yakni UN dilaksankan dua kali, yang terdiri dari UN utama dan UN ulangan. Dengan kata lain, Bagi siswa yang tidak lulus pada UN utama maka bisa mengulang pada UN tahap kedua.

Hal itulah yang menjadi landasan mengapa UN mendatang dipercepat, mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.75/2009 tentang UN SMP/MTs, SMP Luar Biasa, SMA/MA, SMA Luar Biasa, dan SMK Tahun Ajaran 2009/2010. Sehingga, pelaksanaan UN yang semestinya april atau pada awal mei menjadi bulan maret.
Masalahnya adalah pemerintah lambat dalam memberikan informasi ihwal dimajukannya pelaksanaan UN 2010. Dalam hal ini, pemerintah nampaknya tidak mau belajar terhadap pengalaman UN tahun kemarin. Fenomena UN sepatutnya diletakkan dalam tataran yang lebih serius diperhatikan, karena hal ini menyangkut penentuan nasib siswa kelas akhir. Pelaksanaan UN mestinya direncanakan secara matang, intensif dan dilaksanakan setelah melalui observasi mengenai kesiapan di lapangan. Hal tersebut mengingat dampaknya yang sangat luas, tidak hanya semata terhadap siswa kelas akhir, tetapi lebih-lebih terhadap kredebilitas pemerintah dalam upaya menyukseskan pendidikan nasional.
Pada UN 2010, terdapat kebijakan-kebijakan yang berbeda dari tahun sebelumnya. Selain UN dilaksanakan dua kali, ada juga kebijakan baru yaitu sistem exchange place dalam penyelenggaraan UN. Adalah sistem silang siswa dalam satu rayon (Pasal 14 Permendiknas No. 75/2009). Tegasnya, para siswa dalam suatu sekolah akan melaksanakan UN di sekolah yang berbeda. Mereka akan berbaur dengan siswa dari sekolah lain dalam satu kecamatan/kabupaten. Hal itu dilakukan untuk menghindari kecurangan yang dilakukan antara sekolah dengan siswa maupun antara siswa yang selama ini masih terjadi.
Kalau mau menyorot lebih mendalam, kebijakan-kebijakan baru yang ditetapkan tersebut sebenarnya gandrung akan menimbulkan dan melahirkan persoalan lain yang lebih akut. Dengan ujian ulangan yang diyakini memberikan solusi konstruktif, menurut penulis justru mampu menumbuhkan rasa malas dalam diri siswa. Siswa akan berpikir enteng dan bermalas-malas dalam belajar karena masih ada ujian ulangan yang memungkinkan mereka untuk mengikutinya. Padahal sejatinya, nilai inti (core value) dari ujian adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan antusias belajar siswa dalam proses belajar, bukan rasa malas.
Jika rasa malas yang justru tumbuh dalam pribadi siswa maka eksistensi ujian untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran dan mengukur mutu pendidikan menjadi hampa dan gagal. Kedua, fenomena lain yang mengecewakan adalah lambatnya informasi penyelenggaraan UN yang dimajukan. Hal itu jelas akan merugikan segenap guru dan murid. Dengan waktu yang minim tersebut, maka proses pembelajaran menjadi kurang efektif, kurang intensif, tidak maksimal dan akan menguras tenaga yang banyak. Bukankah yang terakhir ini merupakan konsekuensi riskan yang mengancam kondisi tubuh para siswa jika mereka menjadi sakit dan tidak bisa mengikuti ujian.
Tegasnya, yang menjadi persoalan adalah dalam sisi kesiapan para siswa dalam menghadapi ujian. Apalagi untuk mendapatkan nilai yang baik dan memuaskan, diperlukan persiapan yang matang dan intensif. Sehingga dengan waktu yang minim, persiapan siswa menjadi tidak maksimal. Akan tetapi, jika UN harus tetap demikian adanya, maka alternatif yang solutif adalah guru dan siswa setidaknya mengupayakan mengatur waktu sebaik mungkin untuk persiapan menghadapi UN.
Mereka dituntut ekstra dalam mendalami materi secara intensif dan efisien waktu.
Persoalan ketiga adalah adanya sistem exchange place yang bertujuan untuk menghindari kecurangan yang dilakukan antara sekolah dengan siswa maupun antar siswa. Kebijakan tersebut nampaknya bukan solusi yang cemerlang. Sebab, dengan dimajukannya UN, potensi kecurangan antara sekolah dengan sekolah lain dan sekolah dengan siswa melalui bocoran soal cukup potensial, apalagi sistem exchange place lingkupnya masih dalam satu kecamatan/kabupaten. Ini masih berpotensi terhadap adanya kerjasama antar sekolah. Hal tersebut dilatarbelakangi karena minimnya waktu untuk persiapan menghadapi ujian ditambah alasan menjaga reputasi sekolah sehingga khawatir banyak anak didiknya tidak lulus.
Ketika tingkat ketidaklululusan anak didiknya rendah, maka pihak sekolah menjadi bangga dan reputasi sekolah tetap terjaga, walaupun harus melakukan pembunuhan karakter dan kejujuran terhadap anak didik dengan membantu mereka memberi jawaban. Ini sangat jauh dari tujuan pendidikan kita yang mencakup manusia seutuhnya, baik itu pendidikan intelektualitas, moralitas (nilai-nilai), dan budi pekerti.
Dalam konteks kini, pendidikan hanya dilihat sebatas angka, lulus atau tidak lulus, sementara nilai-nilai luhur pendidikan dilupakan. Padahal pendidikan sejatinya bersifat mengasuh, melindungi dan meneladani.


Selengkapnya....

14 December 2009

puisi ke-25


SETELAH USIA
dalam deras air mengalir
dalam gerutu jemari menari
itulah pemberontakan sesungguhnya
suara mantramantra merengkuhku
kesunyian pun tersapu entah diam dimana
seorang penyihir menyala di segala air
persis tinta jatuh ke tanah
tutupi siang dengan gerak tangannya

di wajah penyihir
tubuhku berguling dideru angin, tergilis
pasi seperti mayat melayang kesana kemari
aku batu dengan sayapsayap lumpuh
memahami nyeri luka usia

SETELAH USIA
dalam deras air mengalir
dalam gerutu jemari menari
itulah pemberontakan sesungguhnya
suara mantramantra merengkuhku
kesunyian pun tersapu entah diam dimana
seorang penyihir menyala di segala air
persis tinta jatuh ke tanah
tutupi siang dengan gerak tangannya

di wajah penyihir
tubuhku berguling dideru angin, tergilis
pasi seperti mayat melayang kesana kemari
aku batu dengan sayapsayap lumpuh
memahami nyeri luka usia

aku pencari, pohon dan batu
yang diam bertahuntahun menghafal suara khas
ketika orangorang lewat
ketika burungburung langit sleweran
dari sebuah dusun ke dusun lain
bukan matamata, bukan malaikat, bukan pengintai
aku matamata pada batu nisanku sendiri
dan selebihnya
Pare, 2008
PINTU TUA
lama tidur terlelap mimpi
dan saat kau buka
mimpi-mimpiku tegang
harapku berpijar garang
dalam tidur panjang bersamamu
dunia tak pernah tahu ia dunia
nafas, angin dan ruh tak pernah tahu
ia ombak di hadangnya
dan hampir kau mengerti
tuhan selalu tenggelam di kejauhan
sejauh angan
dalam tidur panjang bersamamu
kita ibarat darah dalam tubuh
menempuh kebosanan demi kebosanan
berputarputar membilang begitu saja.
dan hampir kau mengerti
rumusrumus alasanku
: kehidupan benarbenar resah
membuatmu harus menyelam dan terbenam
sebab kau butuh aku
Yogyakarta, 2008
KILAU RAMADHAN
baiklah. waktuku telah matang
persis saat kau datang
dentumkan guntur dalam dadaku
sebelum kilau bugilmu
menghujani tanah dan tanah airku.
dekatkan wajahwajah penempuh ejakulasi
kami berperang dalam ranjang yang bergairah
dan ranjangku pasrah dan jauh lebih bergairah
seperti sejarah laron di malam hari
mereka akan datang berbondongbondong
mendekati objek cahaya
di kegelapan zaman yang tersisa
mengeja percik cahaya, menggambarnya sambil terbang
hingga tak ada waktu mereka bermimpi
baiklah. waktuku adalah zamanku, adalah suaraku
dengarkan denyutmu yang menjelma segumpal awan terang
yang aku baca dan justru tersesat didalamnya
demikian kucinta kesesatan itu
kujadikan kebenaran yang setiap malam kulahap
sebab laparku seperti bumi yang bergeleng
berputarputar menyisir
Yogyakarta, 2008



Selengkapnya....

17 December 2008

Konflik Madura - Sampit


Kerusuhan etnis di Kalimantan Tengah berakar pada pelanggaran yang telah berlangsung selama beberapa dekade atas pelanggaran hak-hak masyarakat adat serta pengrusakan besar-besaran atas sumber alam di propinsi tersebut.

Ketegangan terus terasa di Kalimantan Tengah menyusul kerusuhan antar etnis yang diperkirakan menewaskan 500 orang dan menyebabkan 80.000 orang terpaksa meninggalkan rumah. Ini merupakan penderitaan terbaru selama sejarah panjang kerusuhan di Kalimantan Tengah dan Barat.
Kerusuhan ini marak pada tanggal 17 Februari di Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, ketika – dengan alasan masih belum bisa dipastikan - sebuah rumah milik penduduk asli Dayak dibakar habis. Menurut laporan orang-orang setempat, ada komplotan orang Madura yang baru saja tiba berkeliling Sampit sambil memekik ‘Matilah Orang Dayak.’ Ratusan orang Dayak mengungsi keluar dari kota atau berlindung di gereja-gereja. Setelah berita itu menyebar orang Dayak dalam jumlah besar kemudian kembali ke Sampit untuk membalas dendam. Enam orang tewas. Kerusuhan menyebar dengan cepat ke kota maupun kampung sekitar dan mencapai ibukota propinsi Palangkaraya, 220 kilimeter ke sebelah Timur. Dalam sebuah insiden terburuk saat kerusuhan, 118 orang Madura yang sedang dalam perjalanan ke Sampit dibunuh oleh orang Dayak di kampung Parenggean pada tanggal 25 Februari, setelah polisi pengawal mereka melarikan diri.

Pada tanggal 2 Maret, kekerasan cukup mereda dan memungkinkan kunjungan Wakil Presiden Megawati selama 30 menit ke kem pengungsi di Sampit yang kemudiaan diikuti dengan kunjungan singkat Presiden Wahid pada tanggal 8 maret ke Sampit dan Palangkaraya. Bagaimanapun ketenangan yang relatif itu hanya bisa tercapai karena sebagian besar pendatang orang Madura sudah bersembunyi di kem-kem, mengungsi ke Banjarmasin, ibukota propinsi tetangga, Kalimantan Selatan, atau sudah dievakuasi ke Jawa. Kekerasan lebih lanjut terjadi setelah kunjungan Wahid dimana enam orang pengunjuk rasa Dayak ditembak mati polisi.

Pada tanggal 22 Maret terjadi lagi kerusuhan di dan di sekitar ibukota Kabupaten Kuala Kapuas. Sebanyak 17 orang lagi dilaporkan tewas dan banyak rumah serta harta benda yang dibakar. Banyak orang Madura meminta perlindungan polisi. Polisi mendapat perintah tembak ditempat terhadap para perusuh.

Bulan April kerusuhan baru berupa pembakaran rumah dilaporkan di Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat. Menurut polisi setempat, kerusuhan diawali oleh sekitar 400 orang yang tiba dengan menggunakan truk dari arah Sampit yang berhasil menerobos para polisi yang mencegah mereka untuk memasuki kota. Mereka mulai membakari rumah-rumah orang Madura, sekaligus menciptakan arus pengungsi lebih lanjut. Kembali ke Sampit, orang Dayak bentrok dengan polisi pada tanggal 10 April ketika para pengunjuk rasa yang marah memprotes penahanan dan penembakan orang Dayak. Para pengunjuk rasa menuntut agar semua polisi mundur dari kota. Tembakan dilepaskan dan seorang awam tewas.

Kelompok hak asasi manusia mengkritik kelambatan dan ketidak-efektifan tanggapan polisi dalam mengatasi kerusuhan dan menentang anjuran, yang didukung oleh beberapa pejabat di Kalimantan, dilakukannya evakuasi massa orang Madura. Sebagian pengungsi menolak meninggalkan Kalimantan dengan mengatakan mereka tidak punya saudara di Madura dan Jawa Timur. Dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan tanggal 1 Maret, sembilan LSM nasional mengkritik perhatian pemerintah dalam bentuk menyediakan kapal untuk mengevakuasi pengungsi dan memperingatkan bahwa hal itu akan "menyebar-luaskan benih-benih kerusuhan di seluruh nusantara."

Sejumlah usaha secara formal sudah ditempuh untuk membawa pihak-pihak yang bertikai ke meja perundingan dan mengurangi ketegangan. Hal ini mencakup pertemuan di Jakarta antara pemimpin Dayak dan Madura pada tanggal 22 Maret, yang mencapai kesepakatan bahwa saat itu masih terlalu cepat untuk memikirkan kemungkinan pengembalian orang Madura ke rumah-rumah mereka di Kalimantan. Pada akhir Maret, orang Dayak, Lodewijk Penyang, ditunjuk menjadi Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah. Ia mengumumkan pembayaran denda adat dan upacara tiga hari untuk penembakan polisi terhadap orang Dayak yang menewaskan empat orang.

LSM dan kelompok mahasiswa juga mengadakan pertemuan dan mengeluarkan pernyataan yang mendesak diakhirinya kekerasan dan menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog. Rencana lebih lanjut mencakup Kongres Kalimantan dan Kongres Dayak. Di wilayah tetangga Kalimantan Timur dan Barat ada inisiatif untuk mencoba mencegah maraknya kerusuhan etnis di sana.

Akar Konflik

"Pembantaian yang terjadi tidak bisa disederhanakan sebagai konflik antara orang Dayak dengan Madura, apalagi sebagai konflik agama. Tapi akar dari masalah ini sudah lama tercipta ketika pemerintahan Orde Baru, yang didukung oleh lembaga-lembaga hutang internasional, secara bersama-bersama menanam modal di proyek-proyek besar, yang juga menanam akar dari konflik yang terjadi sekarang ini dan juga menggambarkan situasi kemanusiaan di Indonesia secara umum”
(Pernyataan NGO, Jakarta 1 Maret 2001)

Tidak diragukan bahwa akan terjadi lebih banyak konflik jika sebab-sebab di balik ketegangan di Kalimantan ini tidak diatasi. Walau stereotype budaya, atau ‘’bentrokan budaya’’ antara orang Madura dan bukan Madura sudah digunakan untuk menjelaskan kekerasan, adalah penting untuk melihat pada sebab-sebab yang lebih mendasar.

Konfrontasi yang mengandung kekerasan antara orang Dayak dengan pemukim Madura terjadi di bawah pemerintahan jaman Presiden Sukarno, di jaman Suharto, dan juga di bawah pemerintahan Wahid. Di Kalimantan Tengah, tahun lalu, empat orang tewas dalam insiden di Kumai pada Bulan Agustus serta di Ampalit pada Bulan Desember, dan banyak harta benda termasuk rumah yang juga dibakar. Bentrokan bisa ditarik sampai pada tahun 1950-an di wilayah tetangga Kalimantan Barat. Di sini pada tahun 1996 dan awal 1997 kekerasan antara kedua kelompok menyebabkan sedikitnya 600 orang tewas (DTE 32). Sebanyak 260 orang lagi tewas pada awal 1999 (DTE 41:4). Empat tahun setelah kerusuhan tersebut, diperkirakan 40.000 pengungsi Madura hidup dalam kondisi yang menyedihkan di penampungan-penampungan sementara di ibukota propinsi Kalimantan Barat, Pontianak.

Penyebab utama dari konflik antara masyarakat adat dengan pemukim Madura – dan konflik-konflik lain di Indonesia - adalah ‘pembangunan’ yang dipromosikan rejim Suharto selama tiga puluh tahun lebih. Sumber-sumber daya alam, termasuk hutan dan tambang Kalimantan diberikan kepada elite bisnis yang berkuasa sebagai konsesi. Pemilik adat - masyarakat adat Dayak - secara sistematis ditolak hak-haknya atas tanah dan sumber daya alam. Mereka tidak punya jalan untuk menempuh langkah hukum dalam mempertahankan hak-hak mereka karena, berdasarkan undang-undang Indonesia, hutan merupakan milik negara.

Hutan tropis diubah menjadi plywood, tripleks, dan kayu untuk dieksport atas nama pembangunan. Perusahaan-perusahaan kayu raksasa yang mengeruk keuntungan besar dari menanam modal di perkebunan, perbankan, dan perumahan, menjadi konglomerat raksasa. Kekayaan alam Kalimantan mengalir ke tangan-tangan keluarga Suharto dan rekan-rekan bisnisnya dan membantu memicu kemajuan ekonomi yang berakhir pada pertengahan 1990-an. Banyak perubahan yang terjadi di Indonesia sejak ambruknya perekonomian Asia, jatuhnya Suharto dan terpilihnya pemerintahan demokratis yang baru, namun model kesejahteraan ekonomi yang diarahkan pada eksploitasi habis-habisan sumber daya alam masih tetap saja. Berdasarkan undang-undang otonomi regional yang baru, wilayah-wilayah harus mendapatkan pemasukan yang cukup dari sumber daya alam di bawah kendali mereka untuk membiayai layanan publik, mendukung birokrasi, dan memberikan keuntungan kepada elite setempat serta mengirimkan bagian keuntungan ke Jakarta.

Komunitas internasional mendukung proses ini. ‘Paket penyelamatan ekonomi’ IMF mendorong eksport kayu, tambang, dan hasil perkebunan seperti minyak kelapa sawit untuk menyeimbangkan neraca ekonomi Indonesia. Ini termasuk membayar hutang kepada kreditur internasional yang senang meminjamkan pada masa Suharto. Bank Dunia mendanai program transmigrasi pemerintah Indonesia selama bertahun-tahun dan dengan Bank Pembangunan Asia mendukung sistem tanaman industri yang tergantung pada pekerja transmigran. Menurut angka Bank Dunia, selama tahun 1980-1985 (ketika dukungan Bank Dunia terhadap transmigrasi tinggi) 109.800 transmigran yang disponsori pemerintah bermukim di Kalimantan Tengah , dan di sana jumlah ini mencerminkan 65% dari pertumbuhan penduduk di sana. Angka-angka pemerintah tentang transmigrasi ke Kalimantan Tengah selama tahun 1969-1998 adalah 117.380 keluaraga atau sekitar 5,9 juta jiwa. Angka total untuk Kalimantan adalah 426.446 keluarga dan angka total nasional adalah 1,9 juta keluarga. Sepanjang tahun-tahun belakangan ini transmigrasi ke Kalimantan Tengah terpusat pada bencana proyek raksasa di Kalimantan Tengah yang ditujukan untuk mengubah satu juta hektar lahan gambut menjadi lahan pertanian PADI (DTE 38).

Dalam pernyataan pada bulan Maret, LSM Indonesia menuntut agar lembaga-lembaga seperti Bank Dunia “mengakui kegagalan dan kesalahan mereka kepada orang-orang yang terkena ledakan kerusuhan” dan “memberlakukan rehabilitasi dan peningkatan yang tidak pernah dilaksanakan.” Mereka juga menuntut agar Bank Dunia, IMF dan ADB, serta perusahan-perusahaan raksasa lebih terbuka pertanggung-jawabannya “untuk mencegah terulangnya tragedi kemanusiaan yang SIA-SIA.”

Perubahan pesat

Suku Dayak yang beraneka-ragam menjadi subyek dari perubahan yang besar dan pesat selama dekade terakhir ini. Gaya hidup tradisional sudah tersapu dalam satu atau dua generasi di KEBANYAKAN tempat. Masyarakat Dayak tidak bisa lagi hidup dari perkebunan hutan dan penebangan kayu skala kecil begitu perusahaan kayu menggunduli kayu-kayu yang bernilai, persisnya begitu perusahaan PERKEBUNAK masuk untuk menghabiskan apa yang tersisa. Penebangan kayu komersial dan perkebunan kelapa sawit yang menggantikannya lebih suka menggunakan pekerja pendatang daripada orang Dayak. Banyak diantara mereka adalah pendatang spontan, orang-orang dari pulau-pulau lain yang mencari kesempatan untuk mendapatkan tanah dan membangun usaha dagang kecil.

Kalimantan Tengah menjadi contoh masalah ini. Ekonomi setempat tergantung pada kayu dan perkebunan. Kabupaten Kotawaringin Timur, dengan ibukota Sampit, mencakup wilayah 5 juta hektar, yang tiga puluh tahun LALU hampir seluruhnya merupakan hutan. Kini hanya 2,7 juta hektar yang dirancang sebagai ‘tanah hutan.’ Sisanya menjadi lahan pertanian, perkebunan, PEMUKIMAN atau semak belukar maupun lalang yang tidak produktif. Hanya 0,5 juta hektar yang digolongkan sebagai ‘hutan lindung’ dan orang setempat dilarang oleh hukum untuk menggunakannya sebagai sumber penghidupan. Satu juta hektar lebih merupakan sisa-sisa hutan yang MAUNYA diubah menjadi industri pertanian. Penebangan hutan gelap meluas dan hutan diperkirakan akan ditebang habis secara komersial dalam waktu sepuluh tahun. Orang setempat hanya mendapat sedikit sebagai ganti dari hutan mereka yang hilang. Sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan.

Pemuda Dayak – yang menjadi judul berita sebagai “orang biadab” yang haus darah, yang memburu pendatang Madura - adalah korban dari proses panjang yang berlarut-larut dalam pengrusakan identitas mereka. “Pembangunan” telah mengikis gaya hidup tradisional dan menganggap remeh otoritas pemimpin masyarakat serta menawarkan sedikit sekali kepada para pemuda asli setempat. Mayoritas hanya punya pendidikan dasar beberapa tahun karena kurangnya sekolah dan uang untuk membayar uang sekolah. Mereka tidak dilengkapi dengan baik untuk bersaing SECARA EKONOMI dengan pendatang. Sebagian besar mengandalkan pekerjaan manual dengan gaji rendah dan pekerjaan tidak tetap. Seluruh generasi dijanjikan masa depan yang cerah, mula-mula dengan janji pembangunan Soeharto, melalui reformasi, dan kini demokrasi. Namun sebagian besar masih tetap miskin dan tidak berdaya. Sama seperti di daerah-daerah lain tempat maraknya ‘konflik horizontal,’ orang-orang di Kalimantan Tengah yang tidak berdaya menuding kelompok lain karena mereka frustasi dan tidak tahu siapa lagi yang harus dituding untuk kesulitan hari demi hari. Sasaran orang Madura berkaitan dengan persepsi umum di kalangan orang Dayak dan KELOMPOK suku lainnya di Kalimantan bahwa orang Madura secara budaya sombong dan MEREKA lebih disukai dibanding suku-suku lainnya dalam pekerjaan, dan tidak dihukum polisi jika melakukan kejahatan. Beberapa pemimpin Dayak, dan Madura, membuat perbedaan antara masyarakat Madura yang sudah lama berdiam yang sudah menyesuaikan diri dengan Kalimantan dan tahu bagaimana untuk hidup berdampingan dengan suku lainnya, dan para pendatang baru yang lebih suka menyinggung perasaan orang setempat. Para pemukim dari suku-suku lainnya jarang muncul di dalam laporan media dari Kalimantan, walau banyak kasus keluarga non-Madura bergabung dengan pengungsi yang meninggalkan Kalimantan karena kuatir mereka akan menjadi sasaran kelompok Dayak.

Hanya sedikit keraguan kalau perorangan atau kelompok tertentu memanipulasi potensi konflik yang ditimbulkan oleh stereotype budaya dan atau yang membantu pengekalannya. Ada dugaan bahwa kelompok-kelompok yang berbeda dalam elite Dayak di Palangkaraya menggunaka ‘kartu anti Madura’ dalam persaingan merebut posisi politis – yang berdasarkan otonomi wilayah sekarang makin dipertaruhkan. Keengganan para pemimpin politik Dayak untuk mengecam pengungsian massal orang Madura mungkin saja mendorong kekerasan ini.

Pihak lain yang mengambil untung besar dari konflik ini adalah militer Indonesia. Di sini, seperti di wilayah-wilayah lain negeri yang ada konfliknya, militer menggunakan kekerasan untuk mengesahkah kesinambungan peran yang mencolok. Anggota aparat keamanan juga mengambil kesempatan dari tragedi ini untuk mendapatkan uang dengan memaksa para pengungsi yang ketakutan membayar pengawalan mereka.

sumber: http://dte.gn.apc.org/49iKl.htm


Selengkapnya....

29 May 2008


SURAT KEPADA ALJABAR,
TENTANG SENJA DAN LAUT

selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
masih belum bisa kutata menjadi angka
masih sepi untuk lahirnya carik-carik trigonometri
sebab jari-jari adalah hitungan angka yang bisa terbagi
dan cahaya adalah secepat kilat yang tak terbatas
bisa ganda dan terbagi
seperti air yang mengalir

berkali-kali dingin menjelma linear dan kudrat
tubuhku telanjang di tengah belantara kamarku
dan kerinduaku akan bajumu sering menggelinding
seperti elips, seperti kerucut dan piramida
membentuk persegi di kepala

selesit cahaya kemerahan yang terpancang ke kamarku
segulung ombak pada laut yang kau kirim itu
sesekali menyuruhku meminjam bayang-bayang temanmu
seperti Pascal,Newton,dan Pytagoras
aku manut pada kata-katamu
hingga aku menemukan kehidupan yang hidup
dengan belantara yang menjelma kalkulus,dan sin,cos,tan
lalu kuhitung angka demi angka
menata dan memadatkannya dengan menyerap energi belantara
agar aku bisa mendirikan menara pada tubuhku

(Yogyakarta,17-05-2008)
Selengkapnya....

26 May 2008


KIDUNG ULANG TAHUN

aku terima sepenggal mayang
dari pelepah siwalan
kumaknai airmata tanpa luka
dan kubiarkan ruang terpancang
menghimpit nafas dan arah angin

seperti lilin itu
usiakau telah mencair
disetiap sendi-sendi kalender
juga pada organ-organ laut
dalam doaku
dan kubiarkan udara menghempas jendela
dengan warna embun yang menyejukkan sajak
dan meneduhkan kamar

tapi, wajah siapa yang pertama harus aku tatap
untuk aku tanam udara di jidaknya
agar udara membawa impianku ke langit kemerahan
tentang lukisan senja pada puisiku

(11-05-2008)



SEBAB RINDUKU
LEBIH LIAT DARI BATU

sebab rinduku lebih liat dari batu
lebih dingin dari senyum
dan hanya jemarimu yang menetas tersibak
dari angan pada kenanganku

diam-diam kusergap jemarimu
seluruh penjuru pintu mengerang
menahan jerit peluh

akupun jadi akar
menjalar ke belukar
membawa airmu yang membual
ke seluruh sendi rinduku
meski akar dan rindu
tak mengenal sungaimu

Yogyakarta, 2008


ISOHIET

sebelum tumbuh menjadi angan
darahmu menulis sajak
serupa garis tertuju pada rusukku

aku baca warnamu
seperti menyuruhku menyibak air mata
melupakan gemuruh hujan

akupun baca matamu
seperti mengajakku mengeja kata
untuk mencipta suara

aku baca juga garis-garismu
seperti jerit jantung yang memanggilku
lalu aku menghampirimu
menyaksikan tarianmu
diantara tulang-tulang rusukku
:lekuk tubuhmu meledakkan isi kamarku
tempat aku menggali rindu

Yogyakarta, 2008



NAMAKU AYAT

namaku ayat
pasi seperti mayat

ayatku bukanlah ayat yang aku baca
yang aku baca adalah hayat
hayat adalah ayatku
seperti langit dan laut
ia baca dirinya sendiri

ayatku bukanlah namaku
namaku hanya memilih namanya
bukan ayat yang memilih hayat

ayatku membaur dalam nama
hayatnya terpisah dari ayat

maka namaku tak seperti hayatku
ia lebih seperti kabut dan gelombang
lupa baca dirinya sendiri

Yogyakarta, 2008


INSTRUMENTALIA
KAMPUNG HALAMAN

pagi ini sinar menjagakanku
terjaga dari hiruk pikuk mata

ada yang beda dari hari kemarin
tapi aku rasa tak asing bagiku
sebab embun pagi ini
seperti pernah hinggap mencipta sejarah
bagaimana kerinduan pada sunyi seketika luluh
ketika gurat desir angin
menyapu tetumbuhan yang amat lirih

anganmu tentu akan terbawa tertawa
ketika sesak sesering mungkin memikat
dan tiba-tiba ia lucuti rasa gusar
Selengkapnya....

20 May 2008


Kudengar Langkahmu,Sayang!


Vie……..aku menciptakan makan malam untuk kita lewat mimpi, lewat igau. Aku meraciknya dengan bumbu yang sebenarnya telah lama tersimpan di jantung. Biar lebih berselera, aku menaburkan butir-butir waktu dan ruang, dimana amat lama dan mungkin kau tak pernah merasakannya.

Vie……..maafkanlah aku, jika aku terlalu lancang untuk memberi suguhan yang tak pernah ada di hatimu. Sebab hatimu adalah air yang sejak dulu mengalir bersama helai rambutmu, kemudian menguap karena panasnya gejolak.

Sedang hatiku bukanlah air yang dulu kau idemkan, tapi udara yang akan melindungimu, merangkulmu, mengagumimu dan membawamu kemana saja. Sebab, makan malam nanti adalah epilog dari petualangan kita.

Layaknya permaisuri di istana, kau boleh mengajakku bersulang di balairung, lalu memberi makan ikan di taman, mengambil seberkas cahaya bintang sebagai sulam di matamu, setelah itu kita boleh mampir ke Firdaus memesan kamar pada jibril, dan kalau kau mau kita melihat misteri di gua, mandi di kolam remang-remang atau belajar terbang di pekarangan.

Vie……..tak terhitung aku telah membunuh perasaan ini. Namun, ia tetap mengalir dalam darahku. Betapa semua tak mempedulikanku terjatuh di paviliun yang sunyi. Tapi aku mencoba bertahan, karena aku adalah lelaki yang mencintai desir, tak boleh berkeluh dan menangis.

Aku terus berharap dan tetap mencintaimu. Menanti untuk mengalir ke darahku. Tapi sayang, kau lari berputar-putar di alur antara aku dan dia. Aku mulai sangsi dengan harapan.

Vie……..setiap langkahku adalah untuk mengejar hidup. Mengejar sesuatu yang aku suka dan unik. Kutantang hidup, kutaklukkan hidup dan kemudian ia selalu bangkit untuk menantangku dengan beribu-ribu kecaman dan semacamnya. Namun demikian aku selalu menerima tantangan itu dalam pertempuran. Sebab aku mencintai hidup.

Kamu pasti mengira aku akan berakhir dan mati dalam pertempuran itu. Tapi sayang anggapanmu salah, sebab bayang-bayang masih menemaniku.

Sebenarnya aku rela mati dan mati yang kupilih diantara dilema, antara harus kubenci hidup dan mencintai orang selain dirimu.

Vie…….taukah? kau hidup itu.

Madure, Settong Maret 2008

Selengkapnya....

16 May 2008

saj@k Dauz Ezavaldo


Hujan di Pagi Hari:
untuk Safitri

kematianku yang lalu lalang tadi malam
penuh berigsut, sayang
pagi ini sunyi juga mencekal
tapi tiba-tiba sungai mengalir deras
ketika rambutmu terurai gerimis
tebingpun runtuh

semua kilat berpijar hingga ke kamar
menyibak sajak-sajak yang tersembunyi
semua benda terasa pucat
kata-kata yang tersingkap menjadi lenting
tapi hanya sebentar
dan aku rasa mereka juga telah siuman
seperti perawan yang kedua kalinya

engkaupun tentu merasa apa yang kau igaukan semalam
sebab, pagi ini ada isyarat warna hujan yang kau lukis
seperti kau lukis warna kemarau
seperti puisiku yang menghitung rintik-rintik hujan
aku sentuh warnamu
ada yang basah, ada yang gelisah
ia bergetar menaiki desahku
akhirnya, kudekap warnamu

Yogyakarta, 2008


Riwayat Sajak

sebelum kulempar bersama khayal
puisi adalah alur secepat kilat
mengalir seperti air
ia bersemayam dan beranak pinak
dalam hiruk pikuk laut
yang ombaknya sering berlawanan
ketika ikan-ikan sekarat
segera kutulis kematian
sebelum kematian menulisku
dan segera kutulis kematianku
matilah ia dan tak menemukan tema
tentang wajahku yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
seperti seniman, apa yang harus ia lukis dari wajahku
yang tak ada yang biasa
yang ia kenal
kau pelajari saja puisiku
jangan sampai ada pertanyaan
sebab aku tak cukup punya kata
bahkan untuk memanggilmu saja

Yogyakarta, 2007


Hikayat Sepasang Baju

seperti untai yang belum diucap
ada risih tersulam senyap:
kita memilih putih

seperti busur panah
membidik titik yang amat tengah:
kita adalah arah
mencipta sudut yang sama
tanpa kata, sebab kita mengerti
sebab kita berdetak di satu alur
lebur membaur dalam kapur

Yogyakarta, 2008



Malam Yang Lain

masih kugenggam aroma tubuh menjelang tidurku
bekas sentuhan bibirmu yang baru aku kenal.
dan masih aku ingat berpuluh bibir lain meresap dalam puisi
padanya kutemukan goncanagan-goncanagan cengang yang asing
aku simpan raungnya agar aku bisa membedakan
getar dan getir
sebelum bibir lain meledakkan diksi baru
tapi aku lupa memandang wajahmu
bagaimana daris-daris mengiris lidah
yang akhirnya ia mencipta kerinduan
tanpa aku sadari
dan kerinduanku menuang seluruh makna cinta
nafas menjadi gelombang
sebagai hirup melacak bau parfummu
mungkin juga jejak sepatumu


Yogyakarta, 2008



Awal Percakapan

senyummu yang sunyi aku ayun tergesa
kau sunyi, aku cari
aku buang, kau cengang
berteduh dalam ruang kita amat merindukan
untuk menikmatinya
hanya saja pagi terlalu jauh
bahkan malu untuk menyatakan
bahwa kita akan mencari dan menanti
sebersit embun
untuk kita tuang kedalam ceruk

kau aku harus jaga dari diam
dari siang yang tertegun
lalu berdiskusi tentang malam dan menjagakannya
dan kita bisa diam-diam
lari mencari pagi yang kita pilih
pagi yang tersembunyi

Yogyakarta, 2008 Selengkapnya....

29 April 2008

puisi


[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*

Orgasme
pertama kali.
aku tanam udara di jidakmu yang menjelma paruh
lalu seyum yang tumbuh
bisikan adalah khayalan yang jauh
juga kata-kata panjang pada tubuhmu yang rapuh:
kudapati ketika kusentuh kau luluh
meski peluhmu menanarkan lembar kertas
sebelum kutulis isi mahar
nanar menggetarkan kasur
kita menjelma ledakan dan keributan
antara malam dan subuh yang angkuh
mungkin ada sandi yang salah dalam peta
hingga aku harus gugur terkapar
menanggalkan angan
yang seharusnya harus kutulis besok


Kala Getir Bergetar
sering terdengar gelepar kelelawar
seperti bisik yang kucicip
seperti berita yang kubaca
melempar kiri mataku
perlahan sungguh menghujam layar
ada yang mengirimku jarum
melisut udara jalanan menjadi lebam
dinginnya lapuk menampar
hingga tangan tak mampu mengerat
apalagi mencatat
ia juga mengirimku boneka
sebagai kawan yang sepi pualam
tak ada pertanyaan atau diskusi
seperti mereka membuat larau dalam percakapan
dan tatapan yang laun telah ia ayun

Yogyakarta, 2008


Pisau Cukur
: Sripanya Varomahatera

kau dekat, pada mataku jauh
yang dekat di mataku justru kau amat
kau tersenyum?
sekedar kulepaskan hening pada siapa saja
untuk mengerat hawa dalam nadi
membelut bunga-bunga yang amat melekat
dengan kehampaan

inilah jubah, ikat pinggang, jarum, mangkok
dan sarang air
sebagai pisau untuk mencukur rambut kami
memahamimu aku menangis terkadang malu
kukepal tangan agar jiwa tumbuh kembali
dan terlelap oleh angin yang sepoi
tapi entah. aku mengirikanmu ketika perbincangan di kamar itu
dada kami seperti perih sejenak

Magelang, 08-04-2008


Sebuah Kisah Kasih

setiap ruang terasa patah
ketika kupilih untuk menghafal nama
yang teraba adalah sisa
sisa adalah aroma yang sengat
meretakkan kepala

Terlalu Cepat
ketika denyut menulis gerimis
maka saat itu harus kutulis
perjamuan huruf menyingkat pertemuan
bahwa kita mencipta kerinduanyang amat hebat

Madura, 2008 Selengkapnya....
 

Ruangnya Ruang. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com