SETELAH USIA
dalam deras air mengalir
dalam gerutu jemari menari
itulah pemberontakan sesungguhnya
suara mantramantra merengkuhku
kesunyian pun tersapu entah diam dimana
seorang penyihir menyala di segala air
persis tinta jatuh ke tanah
tutupi siang dengan gerak tangannya
di wajah penyihir
tubuhku berguling dideru angin, tergilis
pasi seperti mayat melayang kesana kemari
aku batu dengan sayapsayap lumpuh
memahami nyeri luka usia
SETELAH USIA
dalam deras air mengalir
dalam gerutu jemari menari
itulah pemberontakan sesungguhnya
suara mantramantra merengkuhku
kesunyian pun tersapu entah diam dimana
seorang penyihir menyala di segala air
persis tinta jatuh ke tanah
tutupi siang dengan gerak tangannya
di wajah penyihir
tubuhku berguling dideru angin, tergilis
pasi seperti mayat melayang kesana kemari
aku batu dengan sayapsayap lumpuh
memahami nyeri luka usia
aku pencari, pohon dan batu
yang diam bertahuntahun menghafal suara khas
ketika orangorang lewat
ketika burungburung langit sleweran
dari sebuah dusun ke dusun lain
bukan matamata, bukan malaikat, bukan pengintai
aku matamata pada batu nisanku sendiri
dan selebihnya
Pare, 2008
PINTU TUA
lama tidur terlelap mimpi
dan saat kau buka
mimpi-mimpiku tegang
harapku berpijar garang
dalam tidur panjang bersamamu
dunia tak pernah tahu ia dunia
nafas, angin dan ruh tak pernah tahu
ia ombak di hadangnya
dan hampir kau mengerti
tuhan selalu tenggelam di kejauhan
sejauh angan
dalam tidur panjang bersamamu
kita ibarat darah dalam tubuh
menempuh kebosanan demi kebosanan
berputarputar membilang begitu saja.
dan hampir kau mengerti
rumusrumus alasanku
: kehidupan benarbenar resah
membuatmu harus menyelam dan terbenam
sebab kau butuh aku
Yogyakarta, 2008
KILAU RAMADHAN
baiklah. waktuku telah matang
persis saat kau datang
dentumkan guntur dalam dadaku
sebelum kilau bugilmu
menghujani tanah dan tanah airku.
dekatkan wajahwajah penempuh ejakulasi
kami berperang dalam ranjang yang bergairah
dan ranjangku pasrah dan jauh lebih bergairah
seperti sejarah laron di malam hari
mereka akan datang berbondongbondong
mendekati objek cahaya
di kegelapan zaman yang tersisa
mengeja percik cahaya, menggambarnya sambil terbang
hingga tak ada waktu mereka bermimpi
baiklah. waktuku adalah zamanku, adalah suaraku
dengarkan denyutmu yang menjelma segumpal awan terang
yang aku baca dan justru tersesat didalamnya
demikian kucinta kesesatan itu
kujadikan kebenaran yang setiap malam kulahap
sebab laparku seperti bumi yang bergeleng
berputarputar menyisir
Yogyakarta, 2008




