[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*
Orgasme
pertama kali.
aku tanam udara di jidakmu yang menjelma paruh
lalu seyum yang tumbuh
bisikan adalah khayalan yang jauh
juga kata-kata panjang pada tubuhmu yang rapuh:
kudapati ketika kusentuh kau luluh
meski peluhmu menanarkan lembar kertas
sebelum kutulis isi mahar
nanar menggetarkan kasur
kita menjelma ledakan dan keributan
antara malam dan subuh yang angkuh
mungkin ada sandi yang salah dalam peta
hingga aku harus gugur terkapar
menanggalkan angan
yang seharusnya harus kutulis besok
Kala Getir Bergetar
sering terdengar gelepar kelelawar
seperti bisik yang kucicip
seperti berita yang kubaca
melempar kiri mataku
perlahan sungguh menghujam layar
ada yang mengirimku jarum
melisut udara jalanan menjadi lebam
dinginnya lapuk menampar
hingga tangan tak mampu mengerat
apalagi mencatat
ia juga mengirimku boneka
sebagai kawan yang sepi pualam
tak ada pertanyaan atau diskusi
seperti mereka membuat larau dalam percakapan
dan tatapan yang laun telah ia ayun
Yogyakarta, 2008
Pisau Cukur
: Sripanya Varomahatera
kau dekat, pada mataku jauh
yang dekat di mataku justru kau amat
kau tersenyum?
sekedar kulepaskan hening pada siapa saja
untuk mengerat hawa dalam nadi
membelut bunga-bunga yang amat melekat
dengan kehampaan
inilah jubah, ikat pinggang, jarum, mangkok
dan sarang air
sebagai pisau untuk mencukur rambut kami
memahamimu aku menangis terkadang malu
kukepal tangan agar jiwa tumbuh kembali
dan terlelap oleh angin yang sepoi
tapi entah. aku mengirikanmu ketika perbincangan di kamar itu
dada kami seperti perih sejenak
Magelang, 08-04-2008
Sebuah Kisah Kasih
setiap ruang terasa patah
ketika kupilih untuk menghafal nama
yang teraba adalah sisa
sisa adalah aroma yang sengat
meretakkan kepala
Terlalu Cepat
ketika denyut menulis gerimis
maka saat itu harus kutulis
perjamuan huruf menyingkat pertemuan
bahwa kita mencipta kerinduanyang amat hebat
Madura, 2008




