26 May 2008


KIDUNG ULANG TAHUN

aku terima sepenggal mayang
dari pelepah siwalan
kumaknai airmata tanpa luka
dan kubiarkan ruang terpancang
menghimpit nafas dan arah angin

seperti lilin itu
usiakau telah mencair
disetiap sendi-sendi kalender
juga pada organ-organ laut
dalam doaku
dan kubiarkan udara menghempas jendela
dengan warna embun yang menyejukkan sajak
dan meneduhkan kamar

tapi, wajah siapa yang pertama harus aku tatap
untuk aku tanam udara di jidaknya
agar udara membawa impianku ke langit kemerahan
tentang lukisan senja pada puisiku

(11-05-2008)



SEBAB RINDUKU
LEBIH LIAT DARI BATU

sebab rinduku lebih liat dari batu
lebih dingin dari senyum
dan hanya jemarimu yang menetas tersibak
dari angan pada kenanganku

diam-diam kusergap jemarimu
seluruh penjuru pintu mengerang
menahan jerit peluh

akupun jadi akar
menjalar ke belukar
membawa airmu yang membual
ke seluruh sendi rinduku
meski akar dan rindu
tak mengenal sungaimu

Yogyakarta, 2008


ISOHIET

sebelum tumbuh menjadi angan
darahmu menulis sajak
serupa garis tertuju pada rusukku

aku baca warnamu
seperti menyuruhku menyibak air mata
melupakan gemuruh hujan

akupun baca matamu
seperti mengajakku mengeja kata
untuk mencipta suara

aku baca juga garis-garismu
seperti jerit jantung yang memanggilku
lalu aku menghampirimu
menyaksikan tarianmu
diantara tulang-tulang rusukku
:lekuk tubuhmu meledakkan isi kamarku
tempat aku menggali rindu

Yogyakarta, 2008



NAMAKU AYAT

namaku ayat
pasi seperti mayat

ayatku bukanlah ayat yang aku baca
yang aku baca adalah hayat
hayat adalah ayatku
seperti langit dan laut
ia baca dirinya sendiri

ayatku bukanlah namaku
namaku hanya memilih namanya
bukan ayat yang memilih hayat

ayatku membaur dalam nama
hayatnya terpisah dari ayat

maka namaku tak seperti hayatku
ia lebih seperti kabut dan gelombang
lupa baca dirinya sendiri

Yogyakarta, 2008


INSTRUMENTALIA
KAMPUNG HALAMAN

pagi ini sinar menjagakanku
terjaga dari hiruk pikuk mata

ada yang beda dari hari kemarin
tapi aku rasa tak asing bagiku
sebab embun pagi ini
seperti pernah hinggap mencipta sejarah
bagaimana kerinduan pada sunyi seketika luluh
ketika gurat desir angin
menyapu tetumbuhan yang amat lirih

anganmu tentu akan terbawa tertawa
ketika sesak sesering mungkin memikat
dan tiba-tiba ia lucuti rasa gusar

 

Ruangnya Ruang. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com