KIDUNG ULANG TAHUN
aku terima sepenggal mayang
dari pelepah siwalan
kumaknai airmata tanpa luka
dan kubiarkan ruang terpancang
menghimpit nafas dan arah angin
seperti lilin itu
usiakau telah mencair
disetiap sendi-sendi kalender
juga pada organ-organ laut
dalam doaku
dan kubiarkan udara menghempas jendela
dengan warna embun yang menyejukkan sajak
dan meneduhkan kamar
tapi, wajah siapa yang pertama harus aku tatap
untuk aku tanam udara di jidaknya
agar udara membawa impianku ke langit kemerahan
tentang lukisan senja pada puisiku
(11-05-2008)
SEBAB RINDUKU
LEBIH LIAT DARI BATU
sebab rinduku lebih liat dari batu
lebih dingin dari senyum
dan hanya jemarimu yang menetas tersibak
dari angan pada kenanganku
diam-diam kusergap jemarimu
seluruh penjuru pintu mengerang
menahan jerit peluh
akupun jadi akar
menjalar ke belukar
membawa airmu yang membual
ke seluruh sendi rinduku
meski akar dan rindu
tak mengenal sungaimu
Yogyakarta, 2008
ISOHIET
sebelum tumbuh menjadi angan
darahmu menulis sajak
serupa garis tertuju pada rusukku
aku baca warnamu
seperti menyuruhku menyibak air mata
melupakan gemuruh hujan
akupun baca matamu
seperti mengajakku mengeja kata
untuk mencipta suara
aku baca juga garis-garismu
seperti jerit jantung yang memanggilku
lalu aku menghampirimu
menyaksikan tarianmu
diantara tulang-tulang rusukku
:lekuk tubuhmu meledakkan isi kamarku
tempat aku menggali rindu
Yogyakarta, 2008
NAMAKU AYAT
namaku ayat
pasi seperti mayat
ayatku bukanlah ayat yang aku baca
yang aku baca adalah hayat
hayat adalah ayatku
seperti langit dan laut
ia baca dirinya sendiri
ayatku bukanlah namaku
namaku hanya memilih namanya
bukan ayat yang memilih hayat
ayatku membaur dalam nama
hayatnya terpisah dari ayat
maka namaku tak seperti hayatku
ia lebih seperti kabut dan gelombang
lupa baca dirinya sendiri
Yogyakarta, 2008
INSTRUMENTALIA
KAMPUNG HALAMAN
pagi ini sinar menjagakanku
terjaga dari hiruk pikuk mata
ada yang beda dari hari kemarin
tapi aku rasa tak asing bagiku
sebab embun pagi ini
seperti pernah hinggap mencipta sejarah
bagaimana kerinduan pada sunyi seketika luluh
ketika gurat desir angin
menyapu tetumbuhan yang amat lirih
anganmu tentu akan terbawa tertawa
ketika sesak sesering mungkin memikat
dan tiba-tiba ia lucuti rasa gusar




