12 February 2008

Sajak-sajak musim hujan


Spektrum Wajah

yang beringsut penuh tanya
mendaki hamparan batu-batu yang tersembunyi
pada rimbun alismu

ada beberapa wajah kembar siam
membias ke rongga-rongga selokan mata
ke pori-pori sengatan sungai
yang didalamnya kabel-kabel berarus

beberapa wajahmu masih mengilat bagai petir
berjaipongan, berdansa dengan mereka
berdiskusi tentang indahnya puntung rokok
untuk dihisap kenikmatan yang gentayangan

baru sejurus
kecentilan wajah-wajahmu
menghilhami tanganku untuk
menulis perbendaharaan percakapan
bahwa Tuhan memiliki sifat sembilan puluh sembilan

dank kau mencucurkan kulit bunglon
disetiap hinggap pada baju mereka

Yogyakarta, 2008



Apa ? Apa

masihkah menjadi aku
jika Kau melucuti warna?

apa ruang menjadi
jika Kau aku melucuti wajah ?

tak ada sunyi
siang dan ledakan

Yogyakarta, 2008




Napas Himne

seperti debu-debu terengah-engah meraung
ranting-ranting lepas oleh angin
begitulah keperempuananmu
mengerat denyutdenyut kesendirian
perih tergorok oleh
rentan sejarah yang amat silam
tak mengulum puting hati berdua

tak membayangkan siapa saja dirimu
hanya merintihlah dalam eramanku
sebab aku mencintai percakapan
helai rambutmu dan tariannya

tentulah Dia mengerti
aku sedang bercermin
bahwa cawan tubuh belum genap
maka aku harus merenggutmu

Yogyakarta, 2008



Aku, Apa Yang Aku Inginkan

dari keganjilan dan kecemasan
masih bisa direguk.
menyisir kata untuk ibu
atau sejarah bibir menghumuskan
musim-musim percakapan tahun depan
sebelum nasib benarbenar disalibkan

tapi aku tak memintamu melesak
meskipun kurindukan yang tak kuketahui
ada pada kornea mata
mendelik bagai bara

biarlah hanya terpatri keinginan dan luka
antara kata dan sejarah bibir
sebab tangan ini masih bayi
bersalaman dengan setelapak keputusn

Yogyakarta, 2008



Ingin Kuulang

aku tak tahu siapa merekat tubuh tadi malam
wajahnya sayu, bibir belah ketupat
tak bisa mengetuk pintu lelap
lirih musik sayup, ngilu
mengikutinya

kau mengenalku?

tak ada kata atau isyarat batu
kecuali hanya untukku

siapapun rela menunggu bertahun-tahun
memesan seraut wajah itu
akupun tak bisa merangkaki tadi malam
dalam lingkaran tangan

kau dunia atau sesudahnya?

sungguh tak ada metafora
hanya beberapa besit cahayanya
menjadi sandi, menjadi kunci
: matamu yang sarat lembut membersit pelangi
menjelma bulan dalam remangku
menubuhi dengan cahaya

Yogyakarta, 2008



Bila Telah Kuasa

kau punya
mempunyai yang tak punya

dia tak punya
tak mempunyai yang punya

Yogyakarta, 2008

0 comments:

 

Ruangnya Ruang. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com