Spektrum Wajah
yang beringsut penuh tanya
mendaki hamparan batu-batu yang tersembunyi
pada rimbun alismu
ada beberapa wajah kembar siam
membias ke rongga-rongga selokan mata
ke pori-pori sengatan sungai
yang didalamnya kabel-kabel berarus
beberapa wajahmu masih mengilat bagai petir
berjaipongan, berdansa dengan mereka
berdiskusi tentang indahnya puntung rokok
untuk dihisap kenikmatan yang gentayangan
baru sejurus
kecentilan wajah-wajahmu
menghilhami tanganku untuk
menulis perbendaharaan percakapan
bahwa Tuhan memiliki sifat sembilan puluh sembilan
dank kau mencucurkan kulit bunglon
disetiap hinggap pada baju mereka
Yogyakarta, 2008
Apa ? Apa
masihkah menjadi aku
jika Kau melucuti warna?
apa ruang menjadi
jika Kau aku melucuti wajah ?
tak ada sunyi
siang dan ledakan
Yogyakarta, 2008
Napas Himne
seperti debu-debu terengah-engah meraung
ranting-ranting lepas oleh angin
begitulah keperempuananmu
mengerat denyutdenyut kesendirian
perih tergorok oleh
rentan sejarah yang amat silam
tak mengulum puting hati berdua
tak membayangkan siapa saja dirimu
hanya merintihlah dalam eramanku
sebab aku mencintai percakapan
helai rambutmu dan tariannya
tentulah Dia mengerti
aku sedang bercermin
bahwa cawan tubuh belum genap
maka aku harus merenggutmu
Yogyakarta, 2008
Aku, Apa Yang Aku Inginkan
dari keganjilan dan kecemasan
masih bisa direguk.
menyisir kata untuk ibu
atau sejarah bibir menghumuskan
musim-musim percakapan tahun depan
sebelum nasib benarbenar disalibkan
tapi aku tak memintamu melesak
meskipun kurindukan yang tak kuketahui
ada pada kornea mata
mendelik bagai bara
biarlah hanya terpatri keinginan dan luka
antara kata dan sejarah bibir
sebab tangan ini masih bayi
bersalaman dengan setelapak keputusn
Yogyakarta, 2008
Ingin Kuulang
aku tak tahu siapa merekat tubuh tadi malam
wajahnya sayu, bibir belah ketupat
tak bisa mengetuk pintu lelap
lirih musik sayup, ngilu
mengikutinya
kau mengenalku?
tak ada kata atau isyarat batu
kecuali hanya untukku
siapapun rela menunggu bertahun-tahun
memesan seraut wajah itu
akupun tak bisa merangkaki tadi malam
dalam lingkaran tangan
kau dunia atau sesudahnya?
sungguh tak ada metafora
hanya beberapa besit cahayanya
menjadi sandi, menjadi kunci
: matamu yang sarat lembut membersit pelangi
menjelma bulan dalam remangku
menubuhi dengan cahaya
Yogyakarta, 2008
Bila Telah Kuasa
kau punya
mempunyai yang tak punya
dia tak punya
tak mempunyai yang punya
Yogyakarta, 2008
12 February 2008
Sajak-sajak musim hujan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





0 comments:
Post a Comment