24 February 2008

sajak_februari











































































































































[ Sajak-Sajak ]
Iqro' eL. Firdauz*



Isyarat Denyut

gelepar angin ini akan mengantarkan selesat denyut
ke teduh pulau matamu
denyut yang berlenggang kencang segentir pasir
pasir yang menggaruk gerik solekmu sebelum pergi

tapi tak kupajang denyut ini di hiruk pikuk laut
membuat ikanikan cemberut cemburu
ketika isyarat denyutmu perlahan mendesah desing
desah yang menggelepar bagai peluru menusuk tulang

bukan katakata yang menjelma susuk
tapi hurufhuruf keteduhan sebelum kita
menjadi baitbait syair
bait yang menelentankan tangan kita
menjadi kalimatkalimat metafora
dimana kau menyuntingku sebebas kau bercerita
sepasang payudara

segala yang tumbuh dari hurufhuruf denyutmu
o, mengapa kau tata menjadi kata yang dimengerti
kata yang kau hirup dari denyutku yang terdalam pualam
meski denyut itu bukan nyanyian, sebab aku sumbang
tapi kau mampu berdansa tanpa musik
hingga aku terusik



Tidurlah Untuk Perempuanmu

rayap mimpimu menjalar meranggeh kekasih
sedang malam amat dekat merambat di jendela
dan pagi berkecipak sayup

bergegaslah memungut embun sedingin malam
sebelum surya tak menyisakan segelintir tetes
hingga dedaunan terasa gosong
tanyakan pada selimut yang pekat, mengapa
bibir harus mengigau perempuanmu dalam kau terjaga
padahal tak ada igau dalam mimpi
tanpa merebahkan matamu setelah melihat
dunia yang terang dan kekal

gantunglah parasmu yang tertegun sunyi senyap
untuk menjalar ke kotakota yang bising
dengan perlombaan debat kusir
sebab, kau akan mengerti
betapa kejam merenung tanpa suara

Biola

inilah gelagat desir angin
menyingsing desing ke kuping
dedaunan mengigau melunturkan siang yang bising

derunya,
melupakan jejakjejak,
bayangbayang,
dan tembang yang lembam
dari galau lamunan jagamu

entah dimana kau taruh pandangmu
dengan anganangan yang berlayar
menemukan keheningan
dan kau melupakan air mata kemarin
yang menetes ke sakumu kemanapun
anganmu bertatihtitah

biarlah akhirnya hanyut tergulung-guling
do mi so yang naik turun
lalu setelah di tepi bibirmu bisa kupetik
dengan desah melodi yang baru
melodi yang menguliti suarasuara
yang sebenarnya kita tak butuh
bahkan nanar

Malang, Desember 2007


Dari Hampir Hingga Jatuh Perlahan
:Rif

sebelum kau redam plasenta ini
dari ranumnya sperma kejantananku:
bayangkan saat kau lukis wajah ini
pada pualam yang lenting
ibarat seniman dengan papah telaten
hingga garisgaris wajah yang amat menderai manis

agar kalau malam tiba
tidurmu tak menyianyiakan redum
memimpikanku dalam igau

agar kau paham
betapa sesal kau lempar bayangmu itu
ke luar jendela yang masih tertutup
atau memaksa satu dari kita meretakkan jendela itu?
meski aku tahu
dalam hamilmu
kau mengidem bayangku yang lain
di luar jendela sana


Nemor Kara, Kau Lemparkan

bibirmu tak lagi melepuh
terengah pasi dihempas angin
tak ada yang menghiraukan

terdengar lirih rintih dari kejap dua matamu
ada busung perut disini
rumah-rumah kedinginan
tubuh-tubuh gemetar
perlahan luluh redam terkapar

sungguh hujan menumbuk janin musim
hingga tak ada fatamurgana
bergelantung pada siang seperti kemarin
tanah mulai becek
sebab tak ada debu-debu ganas menggesus
mencubit gerimis

aku bisa hidup
tanpa hujan mengguyur tubuhku
hingga aku terjatuh basah

Yogyakarta, 2008


Malam Tahun Baru

pada parasmu yang kulirik pucat
menggigilkan udara berjatuhan
cukup sekali aku menyeduhimu kehangatan
untuk siuman selamanya
diantara angin mencambuk akar
tanah yang tak menumbuhkan keheningan
dan laut melembapi jalanan yang telah ereksi

pada letusan kembang api
kubaca gurat isyarat:
wajahmu mengelupas sekerdip
meraba seuntai syair yang agung
tentang tema apapun kelak

untuk kita baca dan memaknainya
dalam perlombaan yang belum usai


Yogyakarta, Januari 2008

 

Ruangnya Ruang. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com