Sekerdip Malam Tahun Baru
pada parasmu yang kulirik pucat
menggigil udara berjatuhan
cukup sekali aku menyeduhimu
untuk siuman selamanya
diantara angin mencambuk akar
tanah yang tak menguliti gandum
dan laut melembapi jalanan yang telah ereksi
pada letusan kembang api
kubaca gurat isyarat:
wajahmu mengelupas sekerdip
meraba seuntai syair yang agung
tentang apapun nanti
dan cahaya yang bangkit dari kubur
membangunkan kota yang tidur.
menyorot jalanan melukis lingkaran tahun
aku bertanya padanya
geriap apa terbisik menjalar
adakah sekerdip silau untuk damai
lega melangit lalu jatuh terpingkal lempung
lunglai lalu lalang tak lagi menyiram malam
Yogyakarta, 2008
2 + 1, pada 11 : 53
/
ditengah kebising bingaran kota
ketika orangorang bersorak dan meniup terompet
kalian tak sempat bersisir serisau rasa
mengibakan aku dan mereka
menggeremaskan tangan terpenjara
tapi tidak untuk saat ini
maafkan, yang hanya senyum tersisa di saku
mungkin sekarang kita senasib
kalian akupun tergelai busung
tapi mereka yang terhelai penuh warna
tak menyisakan seraut biru untuk pengemis
akupun malu
/
ditengah kebising bingaran kota
matanya tergaruk malam
makhluk gila kata orang
terlentang berbantal keramik
berselimut tangan
tak ada tahun baru baginya
dan tak ada manusia tergenang di matanya
hanya hari libur yang terus menerus
tanpa tema
Yogyakarta, 2008
Yang Terkubur di Bibirmu
:Rini Yuspita
yang terkubur di bibirmu
adalah genangan air mata laut
yang tumpas saat aku menirai ombak pasang
dan sebuncah serpihan itu melenguh kalut
kadang melolong panjang
memintanya untuk utuh bersatu
meminta kita berpandangan
lalu saling suap
apa yang tersurat ini
lantaran udara di dada gemetaran
hamparan himne menyilet hingga tulang
membuat wajah beku memucat
Yogyakarta, 2007
Sebuah Wajah Yang Terjungkir di Kuburan
mata siapa yang tak tertusuk menggeremas
ketika nama mengalalmi sejarah
memahat memaknai dunia
nafas siapa yang tak sesak
bila hitam tersulam di tenggorokan
menjadi tikar yang pasang
adakah sesal berlarut
mendamaikan keringat tulang berkabut
demi senda gurau ini
kau tak perlu bawa pisau
untuk memotong bilangan waktu
bila ia telah membelah sebilah tanah
maka kau akan bercumbu di dalamnya
dan datang sepasang musafir
menanyakan peluhmu
Yogyakarta, 2007
Saliva
tentu tak perlu kutanyakan
sebab semua orang tentu menjawab sama
matamu bukanlah lalat
hidungmu bukanlah perasaan semut
tapi kau menyembunyikan gerikmu
pada selangkangan waktu yang lain
untuk semua orang
hingga keringat itu melumat bibirmu
menguntit kemarau yang dahaga
yang sebenarnya
kau mencinta apa yang bibirmu benci
Yogyakarta, 2007
Irama Setengah Abad
pada gerimis yang belum selesai gemericik
bibirmu kembali menjagakan malam yang pulas
mengingatkan irama setengah abad
pada sebuah villa
dimana kau aku berkata:mata
betapa riuh lagulagu ini
siapa yang terusik:
aku atau sepi?
dari bayangmulah aku menangakap desir
dan desir itu adalah aku
tapi bayangmu tak sempat membayangiku
Yogyakarta, 2007
12 February 2008
Sajak tahun baru
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





0 comments:
Post a Comment